Cerita dari Kali Cakung Lama Menjelang Lima Abad Jakarta

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Dulu, aliran Kali Cakung Lama sangat bersih. Warga memanfaatkan sungai itu sebagai tempat mencuci hingga mengangkut padi ke pergudangan. Namun, sekarang kondisinya berbeda 180 derajat.

Nyonya Aisyah (75) menunjuk rumahnya di pinggir Kali Cakung Lama, Jakarta Utara. Jarak rumah dan aliran air hanya 2,5 meter.

Selain mepet sungai, muka air dan jalan beton sebagai pemisah sudah setara dengan lantai rumah. Tak heran permukiman gampang banjir, entah saat hujan deras atau dari luapan kali.

Selasa (27/1/2026) pagi contohnya. Genangan belum sepenuhnya surut ketika kali kembali meluap. ”Sudah tiga kali begini. Surut, masuk, surut, masuk,” ujar Aisyah.

Jakarta tiga kali diguyur hujan deras dengan curah mencapai lebih dari 150 milimeter per hari pada Januari 2026. Ketiganya memicu banjir, termasuk di Rawa Indah, Sukapura, tempat Aisyah tinggal.

Aisyah ikut suami pindah ke Rawa Indah sejak 1980-an. Mereka membeli tanah dari seorang warga yang lebih dulu tinggal di sana.

Harganya murah, tetapi ia lupa berapa persisnya. Namun, sampai sekarang tanahnya itu belum memiliki sertifikat.

Rawa Indah masa kini tinggal nama. Nyaris seluruh areanya penuh bangunan hingga bantaran Kali Cakung Lama. Tidak ada lagi rawa di sana.

Aliran air Kali Cakung Lama di sana berwarna coklat dan hitam pekat. Sementara itu, badan kali mengalami pendangkalan akibat lumpur dan sampah.

”Kali sudah lama dangkal. Kalau banjir, sampahnya tambah banyak. Namanya doang, rawa. (Sekarang) sudah enggak ada rawanya,” tutur Aisyah.

Baca JugaUpaya Mewujudkan Mimpi Bebas Banjir Warga Kali Cakung Lama

Saat pertama kali pindah ke Rawa Indah, Aisyah masih menjumpai warga mencuci di kali. Di dekat rumahnya dulu ada empang. Bahkan, para buruh tani waktu itu mengangkut padi lewat aliran kali.

”Gedung padi (gudang), kan, lewat sini perahunya. Orang Walang (Koja) punya banyak sawah di sini,” ujar Ny Aisyah.

Sumiati (55), tetangga Aisyah, mengamini hal tersebut. Ia tinggal di Rawa Indah dari tahun 1982. ”Dulu, kali lebih lebar, sampai 10 meter. Ada sawah juga. Makin ke sini, makin banyak bangunan,” katanya.

Asal usul

Sukapura tempat Rawa Indah berada termasuk dalam penamaan rupa bumi berdasarkan sejarah dan cerita lisan atau mitos. Ini tertulis dalam buku Nama Rupabumi (toponimi) Jakarta Utara terbitan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara pada 2023.

Tim penyusun dan penulisnya adalah Candrian Attahiyat, Yahya Andi Saputra, Bambang Widiatmoko, Rudy Haryanto, Septian Dwi Cahyo, dan Albiharul Yaumul

Sukapura dipecah dua menjadi Sukapura dan Rorotan berdasarkan keputusan gubernur pada 1986. Interpretasi atas namanya pun beragam.

Salah satunya suka (saka) yang artinya tiang (tugu perbatasan) dan pura (kota). Perbatasan kota itu mengacu pada masa Kerajaan Tarumanegara di abad ke-5 Masehi.

Baca JugaAtasi Banjir, Pengerukan Kali-kali di Jakarta Berkejaran dengan Cuaca

Sukapura merupakan gapura atau pintu gerbang kawasan keraton Kerajaan Tarumanegara. Di pintu gerbang ini, serdadu menyambut kedatangan orang-orang dari luar.

Hal tersebut merujuk wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara yang mengikuti lokasi ditemukannya prasasti yang ditanam oleh Raja Purnawarman. Salah satu prasasti penting adalah Prasasti Tugu yang ditemukan di Kampung Batu Tumbuh, yang kini merupakan wilayah Sukapura.

Dari terjemahan sejarawan Purbacaraka terhadap prasasti dengan huruf Pallawa itu, masyarakat di Jakarta dan sekitarnya merupakan rakyat dari Kerajaan Tarumanegara. Mereka dimobilisasi dan dilibatkan dalam pekerjaan penggalian kali atau sodetan (terusan).

Kondisi ini berkaitan dengan tata kehidupan masyarakat kala itu sebagai petani, khususnya mengolah persawahan yang tergantung kepada persediaan air. Gagasan penyodetan kali bertujuan mencegah banjir yang rutin terjadi pada masa tersebut sekaligus sebagai infrastruktur irigasi menghadapi musim panas, kekeringan, dan gagal panen.

Dalam buku Nama Rupabumi (toponimi) Jakarta Utara disebutkan, Sukapura dulu dominan dengan pertanian dan pengelolaan sawah. Bahkan, penanaman padi di lahan daratan dilakukan dengan tertib dan rutin.

Rujukan informasi itu berasal dari kampung bernama Tipar. Tipar berarti menanam padi di ladang atau lahan daratan dengan sistem tadah hujan. Kawasan Tipar memanjang dari selatan Kampung Baru Cakung ke utara sampai ke sekitar Pasar Sukapura.

Namun, saat ini di Sukapura bertebaran kompleks perumahan, bangunan besar, perluasan kawasan Berikat Nusantara, dan beberapa perusahaan swasta.

Degradasi lingkungan

Perubahan lingkungan itu merupakan salah satu faktor pemicu banjir. Sejak kecil, Sumiati sudah merasakannya. Sekarang, kondisi bertambah parah. Keluarganya terpaksa meninggikan fondasi rumah pada tahun 2021.

Peninggian itu cukup efektif. Banjir hanya menggenangi halaman rumah, kecuali saat hujan lebat dan kali meluap.

Situasi banjir juga terekam dalam pemberitaan Kompas. Pada 2007, misalnya, dibangun pompa air, situ, dan normalisasi kali untuk mengantisipasi banjir.

Saat itu, pelebaran Kali Cakung Lama dilakukan untuk mengantisipasi banjir di pusat bisnis dan hunian Kelapa Gading, permukiman Tugu Selatan, Sukapura, Rawa Badak, Cilincing, hingga Kalibaru. Namun, jumlah situ yang dibangun masih terbatas dan pelebaran kali sulit dilakukan segera (Kompas, 31 Juli 2007).

Pelebaran perlu dilakukan karena waktu itu lebar Kali Cakung Lama tersisa 1-2 meter. Pembebasan lahan pun membutuhkan anggaran yang mencapai ratusan miliar rupiah.

Setahun berselang, warga Sukapura menolak penimbunan rawa-rawa. Warga dari lima RW bersikeras menolak pengurukan rawa seluas 36 hektar di wilayahnya oleh PT Gading Orchard, grup PT Summarecon Agung, untuk permukiman elite (Kompas, 8 Agustus 2008).

Lahan yang ditimbun terletak di RW 006, 007, 008, 009, dan RW 010. Warga menolak karena rawa-rawa itu adalah daerah tangkapan air dan pengendali banjir. Banjir pada musim hujan lalu menggenangi Sukapura setinggi 0,5-1,5 meter, apalagi jika rawa ditimbun.

Sejak 2024 dilakukan pengerukan untuk meningkatkan kapasitas tampung Kali Cakung Lama agar tidak meluap saat hujan deras. Pengerukan terbagi dalam 17 segmen, mulai dari Jalan Pegangsaan Dua sampai dengan Rumah Pompa Bulak Cabe sepanjang 8,75 km.

Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta melaporkan, Kali Cakung Lama menyempit dari 20 meter menjadi 2-3 meter. Kapasitas aliran air pun menurun drastis dan memicu genangan serta banjir.

Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Utara akan melanjutkan pengerukan sepanjang 3,1 km dari Jembatan Tipar Cakung hingga Bulak Cabe. Sebelumnya, pengerukan berlangsung di segmen Agung Sedayu hingga Tipar Cakung sepanjang 3,7 km dengan pelebaran saluran minimal 5 meter pada titik-titik yang sebelumnya hanya 2 meter.

Rencana penanganan lanjutan yang akan dilakukan, antara lain, penambahan kapasitas Pompa Bulak Cabe, pembuatan tanggul Kali Cakung Lama sepanjang 3,5 km, pintu air dan pompa stationer, serta perawatan rutin saluran dengan pengerukan.

Selain itu, sebagian area aliran selebar 2 meter butuh pembebasan lahan agar pengendalian banjir dapat lebih optimal. Sejak Februari 2025 telah berjalan sosialisasi untuk pembebasan lahan permukiman padat.

Dokumen perencanaan pengadaan tanah dengan lebar 15 meter di area hilir telah dibuat. Prosesnya akan berlanjut dengan penetapan lokasi.

”Kalau level muka airnya sama dan tidak dilebarkan, pompa sebesar apa pun tidak bisa cepat (mengurangi genangan air),” ucap Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum.

Menuju lima abad

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung setidaknya sudah dua kali meninjau Kali Cakung Lama. Dalam kunjungan pada awal tahun ini, dia meminta sebagian pekerjaan, terutama di area hilir, bisa tuntas tahun 2027.

Pada 2027 Jakarta menginjak usia ke-500 tahun atau 5 abad. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah menggelar acara ”Kick Off Menuju 5 Abad Kota Jakarta” dengan mengusung tema ”Menyongsong 5 Abad Jakarta, Jati Diri Nusantara, Meretas Megapolis Global” sejak 2024.

Kick off itu dihitung mulai pukul 00.00 WIB atau saat pergantian tahun 2025. Waktu tersebut berjarak 2,5 tahun dari perayaan hari lahir Jakarta ke-500 pada tahun 2027.

Baca JugaNormalisasi Sungai Ciliwung Dilanjutkan, Pembebasan Tanah Dikebut

Dalam salah satu rangkaian kick off, yakni Bentang Harapan JakASA di Balai Kota Jakarta, Selasa (31/12/2024), Pramono menuliskan harapannya. ”Menuju 500 tahun Jakarta, kita semua harus bekerja bersama menyiapkan Jakarta sebagai kota global. Jakarta yang baik udaranya, rapi kotanya, santun warganya, bersih pemerintahnya, dan Menyala Kotanya”.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu juga menyatakan memprioritaskan normalisasi kali. Dia menyebut, program itu tidak boleh berjalan sepotong-sepotong. ”Kerjanya harus sampai selesai. Kalau selesai, maka daerah yang terdampak banjir akan tertangani dengan baik,” ujarnya.

Pramono mengakui, dengan kondisi tata ruang saat ini, banjir di Jakarta memang tak terelakkan. Namun, situasi tersebut harus dihadapi dengan mitigasi agar dampak banjir tak meluas.

Selain Kali Cakung Lama, normalisasi dilakukan di Sungai Ciliwung dan Kali Krukut. Program normalisasi Ciliwung dilanjutkan dengan target sepanjang 4 km hingga akhir tahun 2027.

Pada Kamis (29/1/2026) pagi, Pramono meninjau pembebasan tanah di Cawang untuk normalisasi Sungai Ciliwung. Pembebasan dikebut sepanjang tahun 2026 di Cawang, Rawajati, dan Pengadegan, serta akan ada penetapan lokasi di 10 kelurahan lain untuk mengejar target tahun 2027.

Sementara itu, normalisasi Kali Krukut sudah direncanakan sejak 10 tahun lalu. Namun, program itu tak kunjung terealisasi sampai banjir akhir Oktober 2025.

Ketika itu, hujan deras memicu banjir di 55 rukun tetangga. Luapan Kali Mampang dan Kali Krukut bahkan merobohkan lima tanggul dan tiga tanggul lainnya longsor.

Pemprov DKI Jakarta kemudian merencanakan normalisasi di area Petogogan, Jakarta Selatan, sepanjang 1,3 km. Normalisasi harus dilakukan karena bantaran kali penuh bangunan dan pengerukan tidak lagi ampuh untuk meminimalkan potensi banjir.

Sejak dulu, Jakarta sudah dilanda banjir. Dalam beberapa kesempatan, Pramono mengatakan, pemerintah belajar dari pengalaman masa lalu dan bersiap sejak awal.

Tidak ada kata menyerah dengan kondisi Jakarta. Sungai akan ditata dan dikelola menjadi ruang publik agar Jakarta menjadi lebih baik menjelang usia lima abad.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bursa Transfer Juventus: Khephren Thuram Rayu Karim Benzema ke Allianz Stadium
• 13 jam lalugenpi.co
thumb
Melihat Lokasi Syuting Film Lisa BLACKPINK: Kota Tua Disulap Jadi Area Kerusuhan
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Heboh! Asap Oranye Pabrik Gegerkan Cilegon, Warga Sempat Keluhkan Sesak Napas
• 6 jam lalugenpi.co
thumb
Kondisi Muara Angke Memprihatinkan: Kapal-Kapal Semrawut, Nelayan Tak Bisa Melaut! | IU
• 9 menit lalukompas.tv
thumb
Pelita Jaya bungkam Satria Muda 65-59
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.