Jakarta, ERANASIONAL.COM – Acha Septriasa dikenal luas sebagai salah satu aktris papan atas Indonesia dengan citra elegan, tenang, dan profesional. Namun di balik kesuksesan karier dan kehidupan pribadinya yang terlihat harmonis, Acha menyimpan pengalaman masa kecil yang jarang ia ungkap ke hadapan publik.
Dalam sebuah wawancara terbaru, Acha secara terbuka membicarakan luka emosional yang ia alami sejak kecil. Pengalaman tersebut, menurutnya, memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara berpikir, bersikap, serta mengambil keputusan hingga ia dewasa dan berkeluarga.
Acha mengungkapkan bahwa sejak kecil ia tumbuh dalam pola asuh yang sangat terstruktur dan penuh arahan. Hampir setiap keputusan dalam hidupnya telah ditentukan oleh orang tua, mulai dari hal kecil hingga pilihan besar.
“Saya dibimbing dari A sampai Z, dan itu bikin saya jadi terlalu dependent,” ujar Acha di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Kamis (29/1/2026).
Pola asuh tersebut, meski dilandasi niat baik, membuat Acha tumbuh sebagai pribadi yang cenderung bergantung dan kurang percaya diri dalam menghadapi situasi tertentu. Ia mengakui bahwa dirinya kerap merasa ragu saat harus mengambil keputusan secara mandiri, terutama ketika berada di bawah tekanan.
Menurut Acha, dampak tersebut baru benar-benar ia sadari ketika memasuki usia dewasa dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Ia merasa mampu bangkit dengan cepat setelah kegagalan, tetapi di sisi lain juga mudah mengalami frustrasi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Refleksi ini menjadi semakin dalam ketika Acha menjalani peran sebagai seorang ibu. Ia mulai menyadari bahwa luka emosional yang tidak disadari bisa diwariskan secara tidak langsung melalui pola pengasuhan.
“Saya tidak mau anak saya tumbuh tanpa suara seperti yang pernah saya rasakan,” tutur Acha.
Acha kini berupaya menerapkan pola asuh yang lebih terbuka dan suportif. Ia ingin anaknya belajar mengambil keputusan sendiri sesuai dengan kapasitas usia, sekaligus memahami konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Menurutnya, anak-anak perlu diberikan ruang untuk bereksplorasi, berpendapat, bahkan melakukan kesalahan kecil agar mental mereka terbentuk secara alami. Ia percaya bahwa proses tersebut jauh lebih efektif dibandingkan kontrol berlebihan dari orang tua.
Acha juga menilai bahwa pembelajaran hidup tidak selalu bisa diperoleh dari pendidikan formal di sekolah. Interaksi sosial, pengalaman sehari-hari, serta dinamika pertemanan justru menjadi ruang belajar yang paling nyata bagi anak-anak.
“Anak perlu belajar strategi hidup dari pengalaman, bukan hanya teori,” kata Acha.
Dalam hal pertemanan, Acha mengajarkan anaknya untuk tidak memaksakan hubungan yang tidak sehat. Ia menekankan pentingnya menghargai penolakan, mengenali batas diri, dan memahami bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan.
Pandangan ini, menurut Acha, berangkat dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki identitas, kebutuhan emosional, dan pilihan hidup masing-masing. Ia percaya orang tua seharusnya berperan sebagai pendamping, bukan pengendali penuh atas kehidupan anak.
Pemikiran tersebut juga ia refleksikan dalam dunia akting. Saat membintangi film Titip Bunda di Surgamu, Acha memerankan karakter Alya, anak pertama yang tumbuh dalam keluarga dengan minim komunikasi emosional.
Karakter tersebut menggambarkan bagaimana kurangnya ruang untuk berbicara dan didengar dapat meninggalkan luka mendalam yang terbawa hingga dewasa.
“Tidak punya suara dalam keluarga bisa meninggalkan luka yang sangat dalam,” ungkap Acha.
Ia menilai bahwa luka emosional yang dipendam sejak kecil berpotensi memengaruhi relasi, kepercayaan diri, dan kesehatan mental seseorang jika tidak diolah dengan komunikasi yang sehat. Melalui film tersebut, Acha berharap penonton dapat lebih peka terhadap pentingnya dialog terbuka dalam keluarga.
Sebagai seorang ibu, Acha merasa bersyukur karena kini mampu membangun hubungan yang lebih terbuka dengan anaknya. Ia berusaha menjadikan pengalaman masa lalunya sebagai pelajaran berharga, bukan sebagai warisan luka.
Keberanian Acha untuk membicarakan isu kesehatan emosional dan pola asuh ini dinilai relevan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental. Banyak orang tua kini mulai menyadari bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari ketahanan emosional dan kemampuan mengambil keputusan.
Kini, Acha Septriasa tak hanya dikenal sebagai aktris berbakat, tetapi juga sebagai sosok ibu yang reflektif dan sadar akan pentingnya kesehatan emosional dalam keluarga. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa luka masa kecil tidak selalu harus disangkal, melainkan bisa diolah menjadi kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalani peran hidup selanjutnya.





