FAJAR, MAKASSAR — Andai kata sanksi FIFA tak sedang membelenggu, boleh jadi nama Will Dusan Lagator sudah tercantum rapi dalam daftar susunan pemain PSM Makassar akhir pekan ini. Bek tengah berpostur raksasa itu mungkin sudah bersiap di sisi lapangan, menatap laga kontra Semen Padang sebagai debutnya bersama Pasukan Ramang. Namun sepak bola tak mengenal kata “andai” sebagai jaminan—ia hanya meninggalkan ruang spekulasi.
Nama Dusan Lagator belakangan kian santer dikaitkan dengan PSM Makassar. Bek kelahiran Yugoslavia, yang kini memegang paspor Montenegro, disebut-sebut menjadi target utama untuk memperkuat lini belakang Juku Eja. Isu ini menguat seiring dihentikannya Liga India, kompetisi terakhir yang ia jalani bersama Kerala Blasters FC.
PSM sendiri tengah berada dalam fase genting. Jadwal tiga pekan ke depan tak memberi ruang bernapas: Semen Padang, PSBS Biak, dan Dewa United menanti secara beruntun dalam lanjutan Super League 2025/2026. Di saat yang sama, performa tim sedang goyah—enam laga tanpa kemenangan menjadi alarm keras bahwa ada yang perlu segera dibenahi.
Bek Berpengalaman, Statistik Bicara
Jika melihat angka, Lagator bukan nama sembarangan. Pemain berusia 31 tahun itu telah mencatatkan 312 pertandingan di semua kompetisi bersama klub-klub yang pernah ia bela. Total 22.558 menit bermain mengisyaratkan satu hal: pengalaman.
Ia bukan bek yang steril dari risiko. Dalam kariernya, Lagator mengoleksi 12 gol, tujuh assist, 24 kartu kuning, dan lima kartu merah. Statistik itu menunjukkan karakter bek yang agresif, keras dalam duel, dan berani mengambil keputusan—kadang berbuah kartu, kadang menjadi penyelamat.
Dengan tinggi badan 190 sentimeter, Lagator menawarkan sesuatu yang selama ini dirindukan PSM: dominasi udara dan postur intimidatif di jantung pertahanan. Kehadirannya, jika terealisasi, diyakini bisa menjadi tandem ideal atau bahkan pengganti bagi dua bek asing andalan PSM, Yuran Fernandes dan Neto.
Selama ini, kedalaman skuad di lini belakang kerap dipersoalkan. Ketika Yuran atau Neto absen atau tak berada dalam performa terbaik, PSM sering terlihat rapuh. Pelapis yang tersedia dianggap belum memberi rasa aman.
“Mudah-mudahan ini pemain yang bagus. Kalau melihat statistik, dia berpengalaman. Tentu diharapkan bisa menjadi tandem atau pengganti Yuran atau Neto,” ujar Rizal, salah satu pendukung PSM Makassar.
Fleksibilitas Taktik
Kehadiran Lagator juga membuka ruang taktik yang lebih luas bagi pelatih Tomas Trucha. Bek berpengalaman seperti Lagator memberi pelatih opsi: bertahan dengan empat bek, atau bermain lebih berani dengan tiga bek sejajar.
Dalam skema tiga bek, Lagator bisa diplot sebagai jangkar pertahanan, berdampingan dengan Yuran dan Neto. Alternatif lain, ia bisa dimainkan sebagai bek tengah kanan atau kiri, tergantung kebutuhan. Fleksibilitas semacam ini menjadi barang mewah bagi PSM yang tengah mencari formula paling aman di tengah badai.
“Tentu lebih mudah juga bagi pelatih dalam menentukan pilihannya. Kalau mau main pakai tridente, dia bisa jadi tandem Yuran dan Neto, atau dijadikan pemain di posisi berbeda,” lanjut Rizal.
Tak kalah penting, faktor kepemimpinan ikut menjadi pertimbangan. Dengan usia dan jam terbangnya, Lagator diharapkan mampu menjadi figur pemimpin di lini belakang—membimbing pemain muda seperti Sulthan Zaki, Daffa Salman, dan Mufli Hidayat yang belakangan sering mendapat menit bermain.
“Dia sudah senior. Pastinya bisa jadi leader juga untuk pemain-pemain muda. Kehadirannya diharapkan memberi dampak positif,” ujarnya.
Isu Yuran dan Warna Baru
Di kalangan suporter, nama Lagator bahkan mulai dikaitkan dengan masa depan Yuran Fernandes. Menteri Luar Negeri Red Gank, Muhammad Alfajri, secara terbuka menyebut Lagator bisa menjadi opsi pengganti Yuran jika bek asal Tanjung Verde itu benar-benar hengkang.
“Kalau memang datang, pastinya bisa jadi pengganti yang bagus untuk Yuran. Karena Yuran sepertinya sudah tidak sepenuh hati bersama PSM,” kata Alfajri. Menurutnya, suporter tak akan menghalangi jika Yuran memilih pergi.
Lebih dari sekadar mengganti nama, Lagator diharapkan membawa energi baru ke ruang ganti. PSM dinilai butuh kejutan, sesuatu yang bisa memantik kebangkitan di tengah performa yang tak stabil.
“Mudah-mudahan bisa memberi warna baru. PSM butuh hal baru untuk bangkit,” ujarnya.
Terhalang Sanksi
Namun semua harapan itu kembali terbentur satu realitas: sanksi FIFA. Larangan registrasi pemain membuat setiap rencana transfer PSM berjalan di wilayah abu-abu. Nama Lagator mungkin sudah ada di meja manajemen, tetapi belum tentu bisa diwujudkan dalam waktu dekat.
Di sinilah PSM berada sekarang—di persimpangan antara kebutuhan mendesak dan keterbatasan administratif. Andai sanksi itu tak ada, mungkin Dusan Lagator sudah disiapkan untuk meredam agresivitas Semen Padang.
Namun sepak bola selalu menuntut adaptasi. Dan bagi PSM Makassar, musim ini bukan soal kenyamanan. Ini soal bertahan, dengan atau tanpa pemain yang diinginkan.




