Zhang Youxia Tumbang, Tersiar Kabar He Weidong “Akhiri Hidup”  — Gempa Politik yang Mengguncang Kekuasaan Internal PKT

erabaru.net
19 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Memasuki tahun 2026, peta politik Tiongkok mengalami perubahan drastis. Sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, jajaran tertinggi Komisi Militer Pusat (KMP) diguncang serangkaian “gempa politik”. Mulai dari pengumuman resmi penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli, hingga kabar He Weidong bunuh diri, rangkaian gejolak ini tanpa diragukan mencerminkan retakan yang sangat dalam dan sulit diperkirakan di inti kekuasaan.

“Gempa Beruntun” di Panggung Kekuasaan

Pada Oktober 2025, otoritas resmi mengonfirmasi bahwa mantan Wakil Ketua KMP He Weidong telah dipecat dari keanggotaan Partai dan militer. Kini, beredar luas di internet kabar bahwa ia “meninggal karena bunuh diri”. Tak lama berselang, pada 24 Januari 2026, Zhongnanhai kembali menjatuhkan “bom besar”: 

Wakil Ketua KMP peringkat pertama Zhang Youxia, serta Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli, secara resmi diumumkan sedang diselidiki atas dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”.

Akhir Tragis: He Weidong dan Harga Kekuasaan

Jika tumbangnya Zhang Youxia melambangkan pecahnya total aliansi politik, maka kabar “bunuh diri” He Weidong menambahkan lapisan tragedi yang kelam pada pembersihan brutal ini. Sebagai tokoh yang sebelumnya sangat dipercaya dan bertanggung jawab atas persiapan militer terhadap Taiwan, kehidupan politik He Weidong jatuh dari puncak ke jurang dalam waktu hanya beberapa bulan.

Kabar tentang “kematian tidak wajar” ini—entah akibat tekanan luar biasa dari penyelidikan, atau karena ia dijadikan kambing hitam dan “dihilangkan” dalam politik ruang tertutup—mengarah pada satu kesimpulan yang mengerikan: dalam sistem kekuasaan saat ini, bahkan berada di puncak hierarki pun tidak dapat menjamin keselamatan jiwa paling dasar.

Akhir nasib He Weidong seakan menjadi tafsir modern dari pepatah lama “mendampingi penguasa ibarat mendampingi harimau”. Mantan “orang kepercayaan” dapat seketika berubah menjadi “pengkhianat”, bahkan kesempatan membela diri di pengadilan pun mungkin menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Tekanan politik ekstrem semacam ini tidak hanya menghancurkan martabat dan nyawa individu, tetapi juga menyeret seluruh sistem ke dalam jalan buntu penuh ketakutan. Ketika kematian menjadi sarana terakhir untuk menjaga rahasia, mesin kekuasaan ini sesungguhnya telah mendekati titik runtuh.

Pengamatan Mendalam: Lingkaran Setan Ketidakamanan

Skala “pembersihan” pada tingkat ini sangat jarang terjadi dalam sejarah militer PKT dalam beberapa dekade terakhir. Ini bukan sekadar kampanye antikorupsi, melainkan pertarungan politik tentang loyalitas.

Runtuhnya aliansi “Xi–Zhang”

Zhang Youxia pernah dianggap sebagai sekutu militer paling tepercaya bagi Xi Jinping. Hubungan generasi ayah mereka sebelumnya menjadi jaminan politik yang kuat. Kini, bahkan ia pun “tumbang”, menunjukkan bahwa dalam politik tingkat tinggi, “loyalitas absolut” telah menjadi lubang hitam yang tak pernah bisa diisi.

Guncangan moral militer

Pembersihan terhadap Liu Zhenli, seorang perwira profesional dengan pengalaman tempur nyata, menyingkap ketegangan antara keahlian militer dan tuntutan loyalitas politik. Pergantian pejabat yang terlalu sering bukan hanya meruntuhkan moral pasukan, tetapi juga menimbulkan keraguan dunia luar terhadap stabilitas komando dan kemampuan perencanaan strategis Tentara Pembebasan Rakyat.

Penggerogotan internal sistem

Dari He Weidong hingga Zhang Youxia, pergantian cepat di lapisan atas mencerminkan tingkat ketidakamanan politik yang ekstrem. Ketika kekuasaan terpusat pada satu orang, setiap pengaruh potensial akan dianggap sebagai ancaman, sehingga memicu lingkaran setan “pembersihan—kecurigaan—pembersihan ulang”.

Refleksi Sejarah

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ketika markas tertinggi militer kehilangan beberapa jenderal inti dalam waktu singkat, itu sering kali menandakan konflik internal pada tingkat pengambilan keputusan telah mencapai titik yang tak dapat didamaikan.

 Pembersihan yang “mengarah ke dalam” ini memang dapat memperkuat otoritas dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang justru melemahkan daya tempur militer dan ketahanan rezim. Hal ini sekaligus menandai bahwa kekuasaan internal PKT sedang mempercepat proses kehancurannya.

Nasib para jenderal ini pada hakikatnya adalah tragedi dari struktur kekuasaan itu sendiri. Dalam pertarungan politik ruang tertutup, tidak ada “rekan seperjuangan” yang abadi—yang ada hanyalah kepentingan yang terus berubah dan tuntutan kepatuhan mutlak. (Hui)

— Judul asli: Xi Jinping, Pisau Mengarah ke Dalam! He Weidong Bunuh Diri, Akhir Tragis 

(Dialihkutip dari akun X “Xin Gui He Chu” / Editor Wen Bin)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Studi Oxford: Hampir Separuh Penduduk Dunia Terancam Panas Ekstrem pada 2050
• 10 jam lalusuara.com
thumb
Kronologi Habib Bahar Jadi Tersangka: Dijerat Pasal Berlapis, Dijadwalkan Diperiksa 4 Februari
• 20 jam lalusuara.com
thumb
Ketika Karier Denada Kena Ancaman Boikot dan Dirinya Malah Makin Melejit, Ressa: Berkat Kakak-kakak Semua
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Agen Tonali Buka Suara Tentang Isu Ketertarikan Arsenal
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Pemerintah Inggris Diminta Atur AI untuk Lindungi Media Independen
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.