Bisnis.com, JAKARTA - Bagi pelaku usaha mikro dan kecil di desa, modal kerap menjadi masalah klasik yang menghambat perkembangan bisnis. Tidak sedikit dari mereka kesulitan mengakses pembiayaan perbankan, baik karena persyaratan administrasi yang rumit maupun keterbatasan jaringan layanan di wilayah pedesaan.
Di tengah kebutuhan modal yang terus meningkat, pelaku usaha pun mulai mencari alternatif pembiayaan di luar perbankan. Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda menilai kondisi ini mendorong pergeseran perilaku pelaku usaha ke layanan keuangan digital atau financial technology (fintech).
“Kredit UMKM dari perbankan mengalami tekanan, sementara kebutuhan modal tetap tinggi. Dalam situasi seperti ini, pinjaman daring menjadi pilihan yang realistis bagi pelaku usaha kecil,” ujarnya.
Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan sektor fintech yang kain menyasar segmen akar rumput. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan layanan keuangan digital kini menyumbang lebih dari 80% tingkat inklusi keuangan nasional. Angka tersebut mencerminkan bahwa akses keuangan masyarakat semakin banyak bertumpu pada teknologi.
Salah satu fintech yang fokus pada segmen perdesaan adalah Amartha. Selama 16 tahun beroperasi, perusahaan ini menyalurkan pembiayaan modal kerja kepada UMKM akar rumput dengan pendekatan berbasis komunitas.
Sejak 2010 hingga 2025, lebih dari 3,7 juta pelaku usaha di lebih dari 50.000 desa telah menerima pembiayaan, dengan total penyaluran melampaui Rp37 triliun.
Baca Juga
- Kios Digital, Cara Kerja dan Manfaatnya Bagi Pelaku Bisnis Ritel
- Daftar 7 Ide Bisnis Digital Untuk Pelajar dengan Modal Minim
- UMKM Mau Naik Kelas? Ini Program Pendampingan Pertamina
Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, kebutuhan pelaku usaha mikro tidak bisa disamakan dengan skema pembiayaan korporasi. “UMKM akar rumput membutuhkan akses yang cepat, sederhana, dan sesuai dengan siklus usaha mereka. Karena itu, produk kami dirancang berdasarkan kebutuhan riil di lapangan, dengan tetap menjaga tata kelola dan manajemen risiko,” ujarnya.
Dari sisi dampak ekonomi, keberadaan pembiayaan alternatif ini tercermin pada penciptaan lapangan kerja di daerah. Amartha mencatat UMKM mitra binaannya telah membuka lebih dari 110.000 lapangan kerja di desa. Di banyak wilayah, usaha mikro menjadi penggerak utama ekonomi lokal, terutama di sektor perdagangan, pertanian olahan, dan jasa.
“UMKM yang bertumbuh akan membuka lapangan kerja di daerah. Dengan basis komunitas yang kuat, UMKM merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar,” ujar Taufan.
Hal tersebut dirasakan Sri Mulyati, mitra binaan Amartha sejak 2021. Pemilik usaha konveksi rumahan di Grobogan, Jawa Tengah ini mengungkapkan usahanya berkembang signifikan setelah memperoleh pembiayaan.
“Awalnya saya hanya punya satu mesin. Sekarang saya bisa mempekerjakan beberapa ibu di sekitar rumah untuk memenuhi pesanan,” katanya.
Pengalaman serupa dialami Wiji Lestari, pengusaha kue rumahan yang merintis usaha sejak 2017. Berkat pembiayaan digital, kapasitas produksinya meningkat tajam. “Dari sebelumnya hanya 100 kue per hari, sekarang bisa sampai 1.500 kue. Usaha ini tidak hanya membantu ekonomi keluarga, tetapi juga memberdayakan tetangga,” ujarnya.
Meski demikian, ekspansi fintech ke segmen mikro bukan tanpa tantangan. Rendahnya literasi keuangan digital, potensi fraud, serta ketergantungan pada kondisi ekonomi global menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Nailul Huda menekankan pentingnya keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian. “Masuk ke luar Jawa dan desa-desa membuka peluang besar, tetapi harus disertai edukasi dan mitigasi risiko,” katanya.
Di luar pembiayaan, pendekatan pendampingan usaha mulai dilihat sebagai faktor penting untuk menjaga keberlanjutan UMKM. Sejumlah fintech mengembangkan program pendampingan yang disesuaikan dengan karakter usaha.
Salah satunya dilakukan perusahaan fintech lending AdaKami melalui program #UsahaBarengAdaKami yang mendampingi delapan UMKM dari berbagai sektor sepanjang 2025.
Brand Manager AdaKami Jonathan Kriss mengatakan, tantangan UMKM tidak hanya soal akses modal, tetapi juga keberlanjutan usaha. “Pendampingan kami lakukan secara kontekstual, menyesuaikan kebutuhan masing-masing usaha, mulai dari penguatan operasional hingga peningkatan kapasitas produksi,” ujarnya.
Program tersebut menyasar UMKM berbasis inklusi dan lingkungan, seperti Kopi Tuli dan Akurasa yang membuka ruang kerja bagi penyandang tuna rungu, komunitas perajin batik Difabel Zone, hingga usaha pengelolaan sampah Urban Compost di Bali.
Dukungan kepada Difable Zone dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas produksi serta melengkapi sarana pendukung pameran, di tengah tingginya minat kolaborasi dan kemitraan.
“Permintaan pameran dan kerja sama cukup tinggi, tetapi kami memiliki keterbatasan sarana. Dukungan ini membantu kami menjawab kebutuhan tersebut,” ujar pendiri Difabel Zone, Lidwina Wurie Akhdiyanti.
Dukungan pendampingan terhadap Urban Compost Bali membantu meningkatkan efisiensi proses pengolahan agar upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kapasitas usaha agrowisata Pisangne K-Tamane yang memberdayakan petani perempuan melalui peningkatan kualitas produksi.
"Pengolahan sampah organik bukan proses instan. Dukungan program ini membantu kami meningkatkan efisiensi dan memastikan upaya pelestarian lingkungan dapat terus berjalan," ujar Buya Azmedia, Pendiri Urban Compost Bali.





