Tren naik gunung makin populer di media sosial. Foto sunrise di puncak, lautan awan, hingga konten healing membuat banyak orang tertarik ikut mendaki. Namun, tak sedikit yang berangkat hanya karena FOMO (fear of missing out), tanpa persiapan matang.
Padahal, pendakian gunung bukan sekadar gaya hidup atau konten Instagram, melainkan aktivitas berisiko tinggi yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan pengetahuan keselamatan.
Kurangnya persiapan bisa berujung cedera, hipotermia, tersesat, bahkan evakuasi darurat. Agar pendakian tetap aman, berikut hal-hal yang perlu dipahami sebelum memutuskan naik gunung:
Jangan naik gunung hanya ikut trenMendaki membutuhkan stamina, adaptasi medan, dan manajemen risiko. Jika hanya ikut-ikutan teman atau viral di media sosial, risiko kelelahan dan panik lebih besar.
Latih fisik sebelum berangkatPersiapkan tubuh dengan jogging, hiking ringan, atau latihan kardio 2–4 minggu sebelumnya. Pendaki dengan kondisi fisik buruk lebih rentan cedera dan dehidrasi.
Pahami risiko kesehatan di gunungBeberapa kondisi darurat yang sering terjadi antara lain hipotermia, sesak napas, keseleo, luka jatuh, hingga pingsan. Pengetahuan pertolongan pertama (first aid hiking) sangat penting.
Bawa perlengkapan keselamatan, bukan cuma outfitFokus pada perlengkapan naik gunung yang esensial seperti P3K, jaket hangat, jas hujan, headlamp, air minum cukup, makanan energi, peluit, dan navigasi. Estetika foto tidak lebih penting dari keselamatan.
Jangan mendaki sendirianGunakan sistem buddy atau tim. Pendakian kelompok lebih aman saat terjadi kondisi darurat atau tersesat di jalur.
Riset jalur dan cek cuacaPelajari karakteristik gunung, sumber air, pos pendakian, serta prakiraan cuaca. Banyak kecelakaan terjadi karena pendaki memaksakan summit saat cuaca ekstrem.
Berani batal demi keselamatanJika tubuh tidak fit atau logistik menipis, turun adalah keputusan terbaik. Dalam keselamatan pendakian, pulang dengan selamat jauh lebih penting daripada mencapai puncak.
Donny Nurhamsyah, dosen keperawatan gawat darurat, mengingatkan bahwa mendaki gunung harus dipandang sebagai aktivitas berisiko, bukan rekreasi biasa.
Ia menambahkan, banyak kasus evakuasi terjadi bukan karena medan ekstrem, melainkan karena pendaki kurang persiapan fisik dan logistik.
“Masalah paling sering justru sederhana: dehidrasi, kelelahan, atau kedinginan. Tapi kalau di gunung, itu bisa berkembang jadi kondisi gawat darurat,” katanya.
Menurutnya, prinsip utama pendakian adalah pulang dengan selamat, bukan sekadar mencapai puncak.
Pada akhirnya, naik gunung adalah soal tanggung jawab, bukan pembuktian sosial. Alam tidak bisa diprediksi, sehingga persiapan dan kesadaran risiko harus selalu jadi prioritas.
Karena mendaki yang bijak bukan tentang ikut tren, tapi tentang pulang dengan selamat.





