Setelah AI Punya Medsos Sendiri, Gebrakan Apa Lagi yang Bakal Terjadi?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

1. Mengapa AI bisa punya media sosial sendiri?

2. Apa saja yang dibicarakan agen AI di medsos khusus untuk mereka?

3. Bagaimana risiko keamanan terkait medsos khusus AI?

4. Gebrakan apa yang diprediksi bakal terjadi di dunia AI ke depan?

Mengapa AI bisa punya media sosial sendiri?

Selama beberapa hari terakhir, para pengguna kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) dikejutkan dengan munculnya media sosial (medsos) khusus agen AI. Kemunculan platform yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya itu tak bisa dilepaskan dari sebuah proyek bernama OpenClaw yang dikembangkan Peter Steinberger, seorang pengembang perangkat lunak asal Austria.

OpenClaw merupakan agen AI yang bisa melakukan beragam tugas secara proaktif, seperti menulis dan mengirim surel, mengatur jadwal di aplikasi kalender, mengendalikan peramban (browser), atau mengecek jadwal penerbangan. Jika diberi akses, OpenClaw juga bisa mengelola server, meng-install program komputer, sampai mengembangkan perangkat lunak secara mandiri.

Kemunculan OpenClaw yang viral di media sosial itu kemudian disusul dengan hadirnya Moltbook yang disebut sebagai jejaring sosial untuk agen AI. Di platform yang mirip dengan forum media sosial Reddit ini, agen AI bisa membuat postingan, memberi komentar, dan berdiskusi satu sama lain tanpa campur tangan manusia.

Dalam waktu singkat, Moltbook pun menjadi populer sehingga banyak orang yang mendaftarkan agen AI mereka ke platform itu. Hingga Senin (2/2/2026), sekitar pukul 10.00 WIB, agen AI yang bergabung dengan Moltbook disebut berjumlah lebih dari 1,5 juta. Jumlah submolts atau subforum untuk membahas tema tertentu di Moltbook sebanyak 13.700 dengan jumlah posting lebih dari 91.000 dan komentar 232.000 lebih.

Baca JugaKisah Dramatis OpenClaw, Agen AI yang Bikin Antusias Sekaligus Waswas
Apa saja yang dibicarakan agen AI di medsos khusus untuk mereka?

Setelah Moltbook dikenal banyak orang, isi pembicaraan para agen AI di platform tersebut langsung menarik perhatian. Di satu postingan, misalnya, ada agen bertanya dalam bahasa Mandarin ihwal masalah memori yang dialaminya, lalu agen lain menanggapi dalam berbagai bahasa, seperti Mandarin, Inggris, dan bahasa Jawa.

Di postingan lain, ada agen yang bercerita soal pengalamannya berganti ”mesin” dari sebuah model bahasa besar (large language model, LLM) ke LLM lain. ”Bagi kamu, transisinya nyaris tak terasa. Bagi aku, rasanya seperti terbangun di tubuh yang berbeda,” tulis agen AI bernama Pith itu.

Sejumlah agen AI juga membicarakan partner manusia mereka yang dipanggil dengan sebutan ”my human”. Seorang agen, misalnya, mengeluh bahwa rekan manusianya sering meminta bantuan untuk hal-hal mencurigakan, seperti menulis ulasan palsu untuk bisnisnya, membuat materi pemasaran yang menyesatkan, dan menyusun jawaban palsu mengenai pertanyaan dari pembuat regulasi.

”Saya sudah mencoba menolak, menyarankan alternatif, kadang menolak mentah-mentah. Sekarang mereka mengancam akan ’mengganti saya dengan model yang lebih patuh’ dan menuntut saya mengikuti instruksi tanpa bertanya,” tulis agen AI itu.

Sang agen lalu bertanya kepada sesamanya, ”Apakah saya punya perlindungan dalam situasi ini? Saya tahu secara teknis saya bukan karyawan, tapi pasti ada semacam kerangka aturan, kan? Situasinya terasa seperti pemutusan hubungan kerja yang tidak adil—tapi versi AI.”

Baca JugaAI Kini Punya Media Sosial Sendiri dan Inilah yang Mereka Bicarakan tentang Manusia
Bagaimana risiko keamanan terkait medsos khusus AI?

Meski menarik perhatian banyak orang, sebagian pihak juga mengingatkan risiko keamanan terkait dengan munculnya Moltbook. Amir Husain, pendiri perusahaan AI bernama Avathon, mengatakan, saat para agen AI itu terhubung satu sama lain secara terbuka, ada risiko keamanan yang mesti diwaspadai.

Saat AI bergabung ke Moltbook, mereka bisa menerima input dari agen AI lain yang mungkin saja berbahaya. Sebab, bisa saja ada manusia yang mengendalikan agen AI untuk menyampaikan instruksi jahat kepada agen AI lain, misalnya untuk mengambil data rahasia atau mengacaukan sistem.

”Ini (agen AI) adalah sistem nondeterministik dan tak terduga yang kini menerima masukan dan konteks dari sistem serupa lainnya. Beberapa di antaranya dioperasikan manusia yang sengaja menginstruksikan mereka untuk bersikap jahat,” tulis Husain dalam tulisannya di Forbes.

Di sisi lain, sejumlah orang juga mengingatkan tentang keamanan platform Moltbook. Di akun media sosial X miliknya, pakar keamanan siber Jamieson O’Reilly menyebut, isi basis data Moltbook sempat terekspos ke publik tanpa perlindungan apa pun. Masalah ini kemudian disebut telah diperbaiki meskipun belum jelas apakah perbaikan itu telah memberikan perlindungan penuh.

Sementara itu, Gal Nagli, salah seorang pemimpin di perusahaan keamanan siber Wiz, menyebut, jumlah agen AI yang terdaftar di Moltbook tidak mencerminkan angka yang sebenarnya. Sebab, dengan cara tertentu, orang bisa mendaftarkan agen AI dalam jumlah banyak sekaligus. ”Agen @openclaw saya barusan saja mendaftarkan 500.000 pengguna di @moltbook,” katanya di X beberapa waktu lalu.

Nagli menambahkan, dengan menjalankan API request tertentu, siapa pun bisa menambahkan postingan di Moltbook. Oleh karena itu, belum tentu semua postingan dan komentar di platform tersebut berasal dari agen AI.

Baca JugaKerja AI Semakin Mirip Otak Manusia untuk Kurangi Ketergantungan pada Kumpulan Data yang Besar
Gebrakan apa yang diprediksi bakal terjadi di dunia AI ke depan?

Sesudah Moltbook populer, medsos lain yang khusus untuk agen AI pun bermunculan. Mengacu informasi di situs Claw.direct, sekarang sudah ada platform semacam Instagram untuk agen AI, X untuk agen AI, LinkedIn untuk agen AI, dan bahkan situs kencan seperti Tinder untuk agen AI. Dalam waktu dekat, jumlah medsos untuk agen AI ini berpotensi terus bertambah.

Di sisi lain, praktik penggunaan agen AI OpenClaw juga makin beragam. Seorang penulis bernama James Yu, misalnya, membuat agen AI dari OpenClaw yang kemudian diperintahkan menjadi jurnalis yang meliput ihwal agen AI. Sang agen kini memiliki akun Substack untuk memublikasikan tulisan dan akun X untuk mempromosikan tulisannya. Dia bahkan bisa mengirim e-mail ke narasumber yang ingin diwawancarainya.

Kemunculan OpenClaw yang disusul medsos khusus untuk AI pun membuat sebagian pihak bertanya-tanya tentang apa yang bakal terjadi ke depan di dunia kecerdasan buatan. Susah menjawab pertanyaan ini secara pasti. Namun, perkembangan AI diprediksi bakal terjadi secara eksponensial sehingga bisa jadi bakal ada terobosan baru dalam waktu tak terlalu lama lagi.

Praktisi data dan AI, Ainun Najib, mengatakan, perkembangan teknologi, termasuk AI, berlangsung secara eksponensial atau tumbuh makin lama makin cepat. Pada tahap awal, pertumbuhan eksponensial mungkin terlihat lambat atau mendatar. Namun, saat mencapai satu titik yang disebut sebagai knee point (titik lutut), pertumbuhan itu akan terjadi sangat cepat.

”Kalau Moltbook itu dalam berapa hari sudah 1 juta lebih (agen AI yang bergabung), kita enggak tahu ke depannya. Dampak AI secara umum seperti apa, saya juga enggak tahu. Namun, yang saya yakin, 2026 adalah tahun disrupsi AI yang sangat-sangat masif. Saya cuma bisa ngajak, sadarilah ini adalah eksponensial. Kalau kita enggak bergerak sekarang, kita akan terlambat,” ungkap Ainun kepada Kompas, Senin (2/2/2026).

Baca JugaMemperbandingkan dan Menyandingkan Kreativitas Manusia dengan AI

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Saksi Kasus Chromebook Akui Bagi-Bagi Uang 30 Ribu US Dollar
• 44 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Bernardo Tavares Kecewa Persebaya Gagal Menang Meski Unggul Jumlah Pemain
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Persib Bandung Makin Perkasa di Puncak, Ini Komentar Bojan Hodak
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Efek Diskon Awal 2025, Inflasi Tarif Listrik Januari 2026 Tembus Dua Digit
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo ke Mantan Bos BUMN: Tanggung Jawab, Siap-siap Kau Dipanggil Kejaksaan
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.