Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tarif listrik memberikan andil terhadap inflasi Januari 2026 sebesar 1,49 persen.
IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tarif listrik memberikan andil terhadap inflasi Januari 2026 sebesar 1,49 persen. Inflasi itu terjadi di tengah Indeks Harga Konsumen (IHK) yang secara umum mengalami deflasi 0,15 persen.
Berdasarkan data BPS, komponen perumahan, air, listrik, dan bahan bakar mengalami inflasi hingga 11,93 persen, sehingga memberikan sumbangan terhadap inflasi sebesar 1,72 persen. Hal ini didominasi tarif listrik sebesar 1,49 persen. Subkelompok listrik dan bahan bakar mengalami lonjakan inflasi sebesar 30,34 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, inflasi pada tarif listrik pada awal 2026 disebabkan low base effect imbas kebijakan diskon tarif listrik pada tahun lalu yang memicu deflasi pada komponen tersebut.
"Tarif listrik pada Januari 2026 memberikan andil inflasi cukup besar ya, 1,59 persen secara year on year. Diskon tarif listrik itu kan diimplementasikan pada bulan Januari dan Februari tahun 2025," kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Dengan kata lain, lonjakan inflasi pada tarif listrik disebabkan oleh harga yang murah pada Januari 2025. Dengan begitu, harga normal saat ini tampak naik tajam secara statistik, termasuk pada komponen energi.
"Nah otomatis pada bulan Januari dan tahun Februari di 2026 ini juga ini masih ada efek balikannya, efek dampak," imbuhnya.
Ateng meyakinkan masyarakat dan pelaku pasar agar tidak terkejut dengan angka inflasi yang secara tahunan tercatat 3,55 persen. Dia memprediksi tekanan inflasi dari sektor energi ini akan melandai dan kembali ke level normal mulai bulan Maret atau April mendatang, asalkan tidak ada kebijakan baru dari pemerintah.
"Jadi kalau low base effect ini kan hanya efek sesaat, disebabkan tadi ya penurunan kemudian akan sesaat naik nantinya akan menurunkan kembali. Jadi nanti pada bulan Maret ataupun April jangan terkejut pada saat nanti inflasinya kita akan kembali ke normal," katanya.
(Rahmat Fiansyah)




