JAKARTA, DISWAY.ID-- Ketangguhan ekonomi Indonesia di pasar global kembali teruji. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia sukses mencatatkan surplus sebesar USD 2,51 miliar pada awal tahun ini.
Prestasi ini sekaligus memperpanjang napas tren positif ekspor-impor nasional menjadi 68 bulan berturut-turut tanpa jeda sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa performa apik ini didorong oleh nilai ekspor yang menembus angka US$26,35 miliar.
BACA JUGA:Prabowo Dorong Swasembada Energi Lewat Kelapa Sawit, Disebut 'Miracle Commodity'
Sementara itu, nilai impor Indonesia tercatat berada di angka USD 23,83 miliar.
"Surplus ini membuktikan konsistensi kita sejak Mei 2020. Jika dihitung, tren surplus ini sudah berjalan selama 68 bulan berturut-turut," terang Ateng dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Senin (2/2).
Meski kondisi ekonomi global penuh tantangan, sektor non-migas tetap menjadi tulang punggung utama surplus perdagangan Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, komoditas non-migas menyumbang surplus sebesar USD 4,60 miliar.
Beberapa komoditas primadona yang menjadi mesin pendongkrak antara lain adalah lemak dan minyak nabati, serta bahan bakar mineral (HS27). Tak ketinggalan, sektor industri logam juga unjuk gigi.
"Penyumbang surplus lainnya yang cukup signifikan adalah besi dan baja atau kelompok HS72," tambah Ateng.
Namun, catatan merah masih membayangi sektor migas. BPS mencatat neraca perdagangan komoditas migas mengalami defisit sebesar US$2,09 miliar.
BACA JUGA:Operasi Keselamatan Jaya 2026 Digelar, Fokus Tekan Pelanggaran dan Fatalitas Jelang Ramadan
Beruntung, defisit tersebut masih bisa "ditambal" oleh performa apik komoditas minyak mentah dan hasil minyak lainnya sehingga tidak menggerus surplus secara keseluruhan.
Menilik ke belakang, performa sepanjang tahun 2025 (Januari–Desember) juga terbilang gemilang. Total surplus tahun lalu ditutup pada angka USD 41,05 miliar.
Secara kumulatif di tahun 2025, sektor migas memang menderita defisit cukup dalam mencapai USD 19,70 miliar. Namun, angka tersebut berhasil ditutup oleh kegagahan ekspor non-migas yang mencetak surplus fantastis sebesar USD 60,75 miliar.
- 1
- 2
- »





