BANDAR LAMPUNG, KOMPAS – Pembangunan jembatan penghubung antardesa yang terbengkalai di Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, membuat puluhan guru dan siswa terpaksa menyeberangi sungai dengan perahu. Selama bertahun-tahun, mereka harus bertaruh nyawa demi bisa berangkat ke sekolah.
Sumono (58), guru yang mengajar di SMP Negeri 3 Way Bunggur menuturkan, dia sudah belasan tahun menyeberangi Sungai Batanghari dengan perahu demi bisa mengajar. Setiap hari, dia menempuh perjalanan sejauh 18 kilometer dari rumahnya yang berada di Desa Taman Fajar, Kecamatan Purbolinggo, menuju sekolah SMPN 3 Way Bungur yang berada di Desa Tambah Subur, Kecamatan Way Bungur.
Sumono berangkat dari rumah menggunakan sepeda motor sejak pukul 06.30 WIB. Di tengah perjalanan, Sumono dan guru-guru lain harus menyeberangi Sungai Batanghari menggunakan perahu mesin atau klotok. Sungai besar itu membentang dan memisahkan Desa Kali Pasir dan Desa Tanjung Tirto, Kecamatan Way Bungur.
“Saya sudah 18 tahun mengajar di sekolah ini. Kami memang harus naik perahu untuk menyeberangi sungai setiap berangkat dan pulang mengajar. Ada sekitar 20 guru di sekolah yang juga harus menyeberang sungai untuk mengajar,” kata Sumono saat dihubungi dari Bandar Lampung, Senin (2/2/2026).
Menurut dia, tidak adanya akses jembatan penghubung antardesa membuat guru dan pelajar di wilayah itu terpaksa naik perahu untuk menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras. Bahkan, saat musim hujan, mereka bahkan harus dua kali menyeberang karena sungai meluap.
“Kondisinya belum berubah sampai sekarang. Saya sudah mau purnatugas sekitar 1,5 tahun lagi,” ucap Sumono sambil tersenyum getir.
Menurut pengakuan warga setempat, mereka sangat membutuhkan pembangunan jembatan sebagai akses konektivitas utama antardesa di wilayah itu. Jembatan dibutuhkan tidak hanya bagi guru dan pelajar yang akan berangkat ke sekolah, tapi juga petani, nelayan, dan pedagang yang ingin bekerja.
Jika harus melalui jalur darat, warga harus memutar jauh melintasi kabupaten Lampung Tengah. Kondisi jalan juga rusak sehingga waktu tempuh bisa lebih dari satu jam.
Ahmad Saiful (38), guru yang mengajar di SMA Negeri 1 Way Bungur mengatakan, ada sekitar 60-70 siswa di sekolahnya yang harus menyeberang sungai menggunakan perahu setiap berangkat ke sekolah. Anak-anak itu sebagian besar berasal dari Desa Kali Pasir. Di desa itu, tidak ada sekolah setingkat SMA sehingga mereka harus bersekolah di SMAN 1 Way Bungur yang lokasinya di seberang sungai.
Akses transportasi yang sulit membuat para siswa seringkali terlambat sampai di sekolah. “Kalau musim hujan seperti sekarang ini, anak-anak harus menyeberang sungai sejauh 500-700 meter dengan perahu. Mereka juga harus bergantian dan baru tiba di sekolah pukul 08.30, tetap kami persilakan masuk ke kelas,” kata Ahmad.
Ahmad yang juga warga Kecamatan Way Bungur menuturkan, pembangunan jembatan di wilayah itu sebenarnya sudah direncanakan sejak 2017. Bahkan, tiang-tiang pancang jembatan sudah berdiri di beberapa titik sejak beberapa tahun silam.
Sayangnya, pembangunan jembatan itu hingga kini tidak dilanjutkan. Tiang-tiang pancang yang sudah berdiri pun terbengkalai begitu saja. Tahun 2023, pemerintah juga pernah membangun tanggul di wilayah itu. Namun, kondisi tanggul saat ini sudah rusak akibat banjir.
“Harapan kami sebagai warga tentu meminta jembatan permanen segera diselesaikan. Kami bertanya kenapa pembangunan jembatan ini berhenti? Kenapa enggak ada tindak lanjut dam dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun,” kata Ahmad penuh tanya.
Kondisi puluhan pelajar yang menyeberangi sungai dengan perahu kecil di Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, itu pun viral di media sosial belakangan ini. Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat puluhan pelajar yang mengenakan pakaian pramuka naik di atas perahu. Tak hanya mengangkut puluhan siswa, perahu juga mengangkut puluhan sepeda motor. Video itu pun viral di media sosial.
Menanggapi hal itu, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah telah meninjau lokasi,Minggu (2/2/2026). Tinjauan dilakukan seusai video pelajar dan warga yang menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, viral di media sosial.
Ela mengatakan, Pemkab Lampung Timur telah mengajukan pembangunan jembatan permanen kepada pemerintah pusat sejak beberapa tahun lalu. Usulan disampaikan melalui Kementerian Pekerjaan Umum serta skema bantuan presiden. Namun, hingga saat ini, pembangunan jembatan tersebut belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.
Anggaran yang dibutuhkan untuk membangun jembatan permanen diperkirakan sekitar Rp 80 miliar. Dia menyebut, Pemkab Lampung Timur baru mampu mengalokasikan sekitar Rp 18,99 miliar sehingga masih memerlukan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
“Masalahnya bukan hanya jembatan. Tanggul sungainya juga harus dibenahi karena selama ini pendek dan kurang kuat. Itu yang menyebabkan banjir di Kecamatan Purbolinggo dan Way Bungur saat hujan deras,” kata Ela melalui keterangan resmi.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah pusat berencana membangun jembatan gantung di lokasi tersebut. Rencananya, jembatan itu akan dibangun tahun ini oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Lampung. “Sebagai bentuk afirmasi dan solusi sementara, sambil menunggu jembatan permanen, kami mengusulkan pembangunan jembatan gantung yang diberi nama Jembatan Merah Putih,” ujar Ela.




