EtIndonesia. Psikologi perkembangan mengajarkan kita bahwa, baik seorang individu maupun sebuah perusahaan, bahkan sebuah bangsa dan negara, tidak mungkin tumbuh dan maju tanpa tujuan. Ketika tujuan hilang, maka dorongan untuk melangkah ke depan pun ikut lenyap.
Berikut ini adalah kisah-kisah inspiratif tentang satu pesan sederhana namun mendalam: selama seseorang memiliki tujuan yang jelas, keberhasilan bukanlah hal yang mustahil.
Kisah 1
Di sebuah toko jam, terdapat dua jam tua yang berdetak pelan: “Tik… tak… tik… tak…”
Detik demi detik terus berjalan.
Demi melatih kemandirian “anak”-nya, kedua jam tua itu menempatkan sebuah jam kecil yang baru dirakit di antara mereka.
Salah satu jam tua yang berperan sebagai “ayah” berkata kepada jam kecil : “Come on, Nak. Sudah waktunya kamu mulai bekerja. Tapi Ayah agak khawatir… sebelum kamu menyelesaikan 32 juta detakan, mungkin kamu sudah kelelahan.”
“Ya ampun! 32 juta kali?!” Jam kecil terkejut.“Harus berdetak sebanyak itu? Aku tidak sanggup… benar-benar tidak sanggup!”
Jam tua lainnya yang berperan sebagai “ibu” segera menenangkan: “Jangan dengarkan omongan ayahmu. Jangan takut. Kamu hanya perlu berdetak satu kali setiap detik, itu saja.”
“Satu kali saja? Itu mudah sekali,” kata jam kecil. “Kalau begitu, aku mau mencoba.”
Jam kecil pun dengan santai berdetak: “tik… tak…” satu kali setiap detik.
Tanpa terasa, satu tahun berlalu. Dan ternyata, dia telah berdetak tepat 32 juta kali.
Keberhasilan sebenarnya tidaklah sejauh langit yang tak terjangkau. Sering kali, justru tujuan yang terlalu besar dan jalan yang terlalu panjang membuat kita lelah, ragu pada diri sendiri, lalu berhenti berusaha.
Padahal, kita tidak perlu memikirkan masa depan yang jauh. Cukup pecah tujuan besar menjadi tujuan-tujuan kecil, dan fokus mencapainya satu per satu. Sedikit demi sedikit, rasa bahagia karena berhasil akan meresap perlahan ke dalam hidup kita.
Kisah 2
Di sebuah kebun anggur, tergantung gugusan anggur besar yang ranum, tampak begitu menggoda. Seekor rubah datang ke bawah para-para anggur itu, air liurnya hampir menetes.
Dia pun melompat sekuat tenaga, ingin memakan anggur sepuasnya. Namun para-para itu terlalu tinggi. Lompatan pertama gagal.
Rubah berpikir : “Ah, anggur itu pasti tidak enak. Dari luar memang terlihat bagus, tapi pasti asam di dalam.”
Dengan alasan itu, dia membidik gugusan anggur lain dan melompat lagi. Sayang, percobaan kedua juga gagal.
Rubah kembali beralasan: “Yang ini juga pasti tidak bagus. Mungkin malah ada ulat di dalamnya. Untung belum dimakan, kalau tidak bisa-bisa aku sakit perut.”
Percobaan kedua tetap berakhir dengan kegagalan.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan pelan. Ternyata beberapa burung gagak bertengger di pohon, menonton dengan penuh minat. Rubah membungkuk sedikit ke arah mereka sebagai tanda terima kasih.
Setelah dua kali gagal, rubah mulai kelelahan dan duduk terengah-engah.
Dalam hati dia berpikir: “Andai saja sekarang ada pelatih yang memberiku sebotol air, mengajariku teknik lompatan, dan menyusun strategi… betapa bagusnya. Kesempatan besar tidak datang berkali-kali. Aku akan melompat satu kali lagi. Aku tidak percaya tidak bisa melewati para-para anggur ini!”
Rubah memutar matanya, mencari ke sekeliling, dan akhirnya menemukan sebatang bambu panjang. Dia memegang bambu itu, mundur beberapa langkah, lalu memberi isyarat kepada para gagak agar memberi tepuk tangan penyemangat.
Ada dukungan, ada kekuatan. Setelah sorakan dan tepuk tangan, kepercayaan diri rubah melonjak tajam.
Dia berlari cepat menuju tanaman anggur, menancapkan bambu dengan tepat ke tanah. Bambu itu mengangkat tubuhnya tinggi ke udara. Dengan satu gerakan indah, rubah melepaskan bambu dan melayang turun.
Dia berhasil melompati para-para anggur dan mendarat dengan aman di rumput yang empuk.
“Ah! Gerakannya indah sekali! Tepat dan sempurna!” para gagak memuji dengan lantang.
Seekor gagak betina muda bahkan turun dari pohon dan mempersembahkan seikat bunga liar kepada rubah.
Rubah memegang bunga itu dengan hati bergetar. Sekian tahun menanti, sekian generasi rubah berusaha, akhirnya momen kemenangan itu tiba.
Namun setelah kegembiraan singkat berlalu, rubah menjadi tenang kembali.
Dia berpikir : “Aku datang ke sini untuk makan anggur. Anggurnya tidak kudapatkan.
Lalu apa artinya melompat setinggi itu?” (jhn/yn)



