Produksi padi dan beras nasional menunjukkan tren penguatan sepanjang 2025 dan berlanjut ke awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan produksi yang cukup signifikan, baik secara tahunan maupun pada potensi panen awal tahun, seiring dengan meluasnya area panen dan kondisi pertanaman yang relatif mendukung.
BPS mencatat, produksi padi nasional sepanjang Januari hingga Desember 2025 meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh bertambahnya luas panen serta produktivitas yang relatif terjaga di sejumlah sentra utama.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa secara kumulatif produksi padi nasional mencatatkan pertumbuhan dua digit.
“Produksi padi sepanjang Januari sampai dengan Desember tahun 2025 tercatat 60,21 juta ton GKG (gabah kering giling) atau mengalami peningkatan sebesar 7,06 juta ton GKG, setara dengan peningkatan 13,29 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/2).
Kenaikan produksi padi ini tidak hanya terjadi pada satu wilayah, tetapi tersebar di sejumlah provinsi utama, khususnya di Pulau Jawa dan beberapa sentra di luar Jawa. Kondisi curah hujan yang relatif tinggi pada akhir 2025 juga ikut mempengaruhi fase pertanaman dan panen padi di berbagai daerah.
Sejalan dengan kenaikan produksi padi, produksi beras nasional juga mengalami peningkatan signifikan. BPS mencatat produksi beras sepanjang 2025 tumbuh dua digit secara tahunan, mencerminkan kuatnya pasokan domestik.
“Produksi beras panjang Januari sampai dengan Desember tahun 2025 itu mencapai 34,69 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen meningkatnya jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024,” ungkapnya.
Lonjakan produksi bahkan terlihat jelas pada akhir tahun. Pada Desember 2025, produksi beras melonjak lebih dari 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Produksi beras ya pada Desember 2025 ini sebesar 1,41 juta ton atau produksi beras mengalami peningkatan sebesar 22,19 persen jika dibandingkan dengan Desember tahun 2024 yaitu 1,15 juta ton,” ujar Ateng.
Tren penguatan produksi tidak berhenti di 2025. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA), BPS memperkirakan potensi produksi padi dan beras pada Januari hingga Maret 2026 masih akan meningkat secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Potensi produksi padi pada bulan Januari sampai dengan Maret tahun 2026 diperkirakan mencapai 17,65 juta ton GKG atau mengalami peningkatan 2,41 juta ton GKG atau meningkat sebesar 15,80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya,” kata dia.
Sementara itu, potensi produksi beras pada periode yang sama juga mencatat kenaikan dua digit. “Potensi produksi beras khusus untuk potensi pada bulan Januari sampai dengan Maret 2026 diperkirakan ya mencapai 10,16 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 1,39 juta ton atau 15,79 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,” imbuhnya.
BPS mencatat, potensi panen pada awal 2026 terkonsentrasi di sejumlah provinsi sentra, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta beberapa wilayah di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat.
Produksi Naik, NTP Justru Turun
Di tengah peningkatan produksi padi dan beras tersebut, BPS mencatat nilai tukar petani justru mengalami penurunan pada Januari 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan pasokan belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan daya beli petani.
“Nilai tukar petani atau NTP di Januari 2026 tercatat sebesar 123,60 persen atau turun 1,40 persen dibandingkan dengan Desember tahun 2025,” kata Ateng.
Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun lebih dalam dibandingkan indeks harga yang dibayar. “Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima oleh petani turun sebesar 1,85 persen lebih tajam turunnya jika dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani yaitu turun 0,45 persen,” ujar Ateng.
BPS juga mencatat, beberapa komoditas pertanian, termasuk gabah, turut memengaruhi penurunan indeks harga yang diterima petani. Hal ini menjadi catatan tersendiri di tengah meningkatnya produksi padi dan beras secara nasional.




