Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan 8 aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia demi mengembalikan kepercayaan pasar di tengah sentimen negatif pasar saham yang dipicu pengumuman pembekuan rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Delapan aksi itu terdiri dari kebijakan baru free float, transparansi data ultimate beneficial owner (UBO), penguatan data kepemilikan saham, demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penegakan peraturan dan sanksi, tata kelola emiten, pendalaman pasar secara terintegrasi, serta kolaborasi dan sinergi dengan stakeholders.
Chief Economist and Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan 8 aksi percepatan reformasi OJK itu diharapkan dapat mempertahankan status pasar saham Indonesia di kelas emerging market. Selain membekukan rebalancing indeks saham Indonesia, MSCI memperingatkan indeks saham Indonesia bisa turun kasta ke frontier market apabila otoritas bursa tidak membenahi transparansi data hingga Mei 2026.
"Langkah 8 paket kebijakan tersebut ditujukan untuk mempertahankan status Indonesia di indeks MSCI, menurunkan risk premium, dan dalam jangka menengah meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor institusional global. Ini adalah suatu hal yang sudah tidak dapat ditawar lagi," ujar Rully kepada Bisnis, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, tantangan utama ke depan adalah bagaimana memastikan bahwa agenda reformasi ini dijalankan secara konsisten dan bersifat preemptive, tidak lagi sekadar reaktif setiap kali terjadi shock di pasar, sehingga kepercayaan MSCI maupun investor asing dapat pulih dan terjaga secara berkelanjutan.
Pasca pengumuman MSCI pada 27 Januari 2026, kepercayaan investor global turun tajam. Dalam kurun 26-30 Januari 2026 indeks harga saham gabungan (IHSG) terpangkas 3,69% ke 8.329,60, disertai dengan catatan net sell asing Rp13,92 triliun. Dalam sesi I perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026), IHSG melanjutkan koreksi 5,31% ke 7.887,16.
Baca Juga
- Bos OJK Berkantor di BEI, Fokus Reformasi Integritas Pasar Modal
- Istana Sebut Pemerintah Tidak akan Bentuk Timsel untuk Pengisian Jabatan Kosong OJK
- Luhut Sarankan OJK & BEI Pakai AI untuk Endus Saham Gorengan
Rully melihat, ruang penguatan IHSG secara stabil dalam jangka pendek–menengah masih dibatasi oleh dua sumber risiko yang saling berkaitan.
"Ketidakpastian domestik terkait tindak lanjut pembekuan rebalancing MSCI dan efektivitas respons kebijakan OJK–BEI dan akumulasi sentimen dari concern risiko fiskal dan isu independensi BI," tandasnya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5054379/original/092833500_1734405191-IMG_20241217_095147.jpg)