Broker asal Jepang, Nomura Holdings Inc., resmi menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi neutral dari sebelumnya overweight, menyusul meningkatnya risiko investabilitas di pasar modal domestik dan arus keluar dana investor pasif.
Strategist Nomura, Chetan Seth, menilai tekanan terhadap pasar saham Indonesia kian besar setelah MSCI memberikan peringatan terkait potensi penurunan status Indonesia ke Frontier Market, yang disebutnya datang secara mengejutkan bagi pasar.
“Peringatan MSCI terkait potensi downgrade ke Frontier Market datang sebagai kejutan, baik bagi kami maupun pasar,” ujar Seth dalam catatan risetnya dikutip dari Bloomberg, Senin (2/2).
Penurunan rekomendasi ini terjadi di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir, yang dipicu oleh kombinasi aksi jual asing, kekhawatiran terhadap kualitas likuiditas. Alasan lain adalah dominasi saham-saham berkapitalisasi kecil yang dinilai kurang mencerminkan fundamental atau sering disebut pasar sebagai saham gorengan.
Nomura menyebut, sikap positif mereka sebelumnya terhadap saham Indonesia didasarkan pada valuasi relatif yang menarik, ekspektasi stabilisasi ekonomi dan laba korporasi, serta rendahnya ekspektasi pasar setelah periode kinerja yang berkepanjangan tertinggal dari regional.
“Sebelumnya, kami menilai saham dan mata uang Indonesia menawarkan profil risiko-imbal hasil yang menarik bagi investor yang sabar,” kata Seth.
Namun, kondisi tersebut kini berubah. Risiko investabilitas, termasuk struktur pasar dan potensi keluarnya dana dari indeks global, dinilai dapat terus membebani pergerakan IHSG ke depan.
Nomura menjadi broker global terbaru yang menurunkan pandangannya terhadap saham Indonesia. Sebelumnya, Goldman Sachs Group Inc. juga memangkas rekomendasi saham Indonesia pekan lalu, dengan alasan serupa terkait arus dana asing dan risiko pasar.
Tekanan dari lembaga global ini menambah sentimen negatif di pasar, terutama saat otoritas dan pelaku industri tengah berupaya memulihkan kepercayaan investor terhadap kualitas dan kedalaman pasar modal Indonesia.
IHSG pekan lalu sempat dibekukan sementara (trading halt) dua kali karena anjlok lebih dari 8 persen. Senin (2/2) pagi tadi, IHSG anjlok 5,03 persen ke level 7.910 setelah 17 menit perdagangan dibuka.





