Bisnis.com, JAKARTA — PT PLN (Persero) mengalihkan sebagian kepemilikan sahamnya dalam Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia (IBI) kepada anak usaha MIND ID.
Saat ini, jumlah saham yang dipegang PLN hanya tersisa 7,5%. Jumlah itu turun dibanding kepemilikan semula 25%
"Masih ada, masih ada [saham PLN dalam IBC] 7,5% sekarang," ucap Direktur Utama IBC Aditya Arif di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (2/2/2025).
Semula, kepemilikan saham IBC dipegang oleh PLN, PT Pertamina (Persero) dan MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum.
Awalnya, kepemilikan saham empat perusahaan pelat merah tersebut dalam IBC sama rata, yakni masing-masing 25%. Namun, kini kepemilikan saham PLN berkurang menjadi 7,5%.
Aditya mengatakan, kepemilikan saham PLN dialihkan kepada Antam dan Inalum. Dengan begitu, porsi kepemilikan saham Antam dan Inalum kini masing-masing menjadi 33,75%. Sementara itu, Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energi tetap 25%.
Artinya, MIND ID melalui Antam dan Inalum menjadi mayoritas pemegang saham IBC. Namun, Aditya menegaskan hingga saat ini tidak ada entitas pemegang saham pengendali di IBC.
"Kemarin [kepemilikan saham PLN dialihkan kepada] MIND ID Group ya," ucap Aditya.
IBC merupakan perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor baterai, khususnya untuk kendaraan listrik (electric vehicle).
Saat ini, IBC dan Antam mengembangkan proyek baterai EV di Karawang, Jawa Barat. Proyek itu dijalankan bersama Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL), joint venture (JV) Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), Brunp, dan Lygend.
Adapun, proyek baterai di sisi hulu tambang hingga pabrik pemurnian dengan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan high pressure acid leaching (HPAL) akan dikembangkan di Kawasan Industri PT Feni Haltim (FTH), Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, untuk hulu. FTH merupakan perusahaan patungan antara cucu usaha CATL, Hong Kong CBL Limited (HKCBL) dan Antam.
Sementara itu, di sisi hilir berupa pabrik sel baterai akan dibangun di kawasan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), Jawa Barat.
Di Karawang, IBC dan CBL membangun pabrik sel baterai berkapasitas awal 6,9 GWh (fase 1) dan akan berkembang menjadi 15 GWh dalam 5 tahun.
Pabrik ini merupakan bagian dari proyek terintegrasi meliputi pembangunan pabrik material aktif baterai yakni prekursor dan katoda, dan fasilitas daur ulang baterai.
Adapun, lini produksi berteknologi mutakhir itu ditargetkan beroperasi pada 2026, memproduksi sel untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (battery energy storage system/BESS), baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
IBC bersama CBL, berkomitmen menjadikan pabrik sel baterai di Karawang sebagai Asean regional hub. Ini khususnya untuk memenuhi kebutuhan baterai EV dan BESS di kawasan.
Ke depannya, rantai siklus baterai IBC dan CBL ditutup oleh pabrik daur ulang baterai dengan kapasitas 20.000 ton baterai bekas per tahun untuk menjadi input material baterai kembali. Teknologi yang digunakan nantinya diklaim mampu memulihkan lebih dari 95% logam berharga sehingga emisi karbon dapat ditekan dan prinsip ekonomi sirkular terjaga.
Baca Juga
- Antam (ANTM) Teken Kerja Sama Ekosistem Baterai dengan IBC dan HYD
- Bertemu Bos Danantara, Ini Profil Dirut Baru IBC Aditya Farhan Arif
- Ambisi RI Jadi Hub Ekosistem Baterai Dunia Lewat Proyek Jumbo Antam-IBC-HYD




