Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras naik pada awal 2026. Kenaikan terjadi di tingkat penggilingan, grosir, maupun eceran.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kenaikan harga beras ini terjadi di tengah turunnya Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026.
Ateng menuturkan, data BPS menunjukkan rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Januari 2026 naik sebesar 0,75% secara bulanan atau month to month (mtm) dan meningkat 6,19% secara tahunan atau year on year (yoy).
“Secara total, harga beras di penggilingan Januari 2026 naik 0,75% secara bulanan dan 6,19% secara tahunan,” kata Ateng di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/2).
Jika diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya, harga beras premium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan yang paling tinggi, yaitu sebesar 2,65% secara bulanan dan melonjak 8,86% secara tahunan.
Di sisi lain, harga beras medium turun 0,64% secara bulanan, namun secara tahunan masih naik sebesar 4,68%.
Data BPS juga menunjukkan kenaikan harga beras terjadi di tingkat grosir dan eceran. Tercatat inflasi beras di tingkat grosir sebesar 0,40% secara bulanan dan 4,84% secara tahunan. Sementara di tingkat eceran, harga beras mengalami inflasi 0,16% secara bulanan dan 3,44% secara tahunan.
Pada kesempatan yang sama, Ateng menyatakan data harga beras yang disampaikan BPS ini merupakan harga rata-rata nasional yang mencakup berbagai kualitas beras di seluruh wilayah di Indonesia.
Dalam paparannya, Ateng mengatakan BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 turun menjadi 123,60 atau melemah 1,40% dibandingkan Desember 2025.
Ia menyebut penurunan NTP ini dipicu turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,85%, lebih dalam dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani yang hanya turun 0,45%.
Harga Cabai Rawit hingga Bawang Merah Juga TurunPenurunan indeks harga yang diterima petani ini juga dipengaruhi beberapa komoditas pertanian lainnya seperti cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan gabah.
Data BPS juga menunjukkan penurunan terdalam terjadi pada subsektor hortikultura—cabang pertanian yang fokus pada budidaya intensif tanaman kebun, mencakup buah-buahan (pomologi), sayuran (olerikultura), tanaman hias (florikultura), dan tanaman obat (biofarmaka)—dengan kontraksi NTP sebesar 13,76%.



