Mengenal Saham Gorengan: Pengertian, Ciri-ciri, dan Cara Menghindarinya

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Fenomena saham gorengan menjadi tantangan tersendiri bagi investor ritel di pasar modal Indonesia. Memahami karakteristiknya sejak dini sangat penting untuk menghindari potensi kerugian besar akibat manipulasi harga. Pengertian saham gorengan Saham gorengan adalah istilah untuk saham yang harga dan volume perdagangannya dimanipulasi secara sengaja oleh sekelompok pihak, sering disebut sebagai "bandar". Tujuannya adalah menciptakan ilusi kenaikan harga yang cepat dan tajam untuk menarik minat investor lain.

Setelah banyak investor ritel tergoda masuk, bandar akan menjual atau "membuang" seluruh kepemilikannya, menyebabkan harga saham anjlok dan meninggalkan kerugian bagi mereka yang masuk di akhir.

Meski dilarang dalam Undang-Undang Pasar Modal, membuktikan praktik manipulasi pasar secara hukum sangat sulit. Menteri Keuangan Purbaya telah mengkritik fenomena ini dan menegaskan bahwa pemerintah dapat menahan pemberian insentif kepada otoritas pasar modal jika masalah ini tidak ditangani dengan serius. Ciri-ciri saham gorengan Berikut adalah tanda-tanda yang patut diwaspadai sebagai indikasi suatu saham digoreng, dilansir dari laman Mirae Sekuritas: 1. Kenaikan harga tidak masuk akal dalam waktu singkat Harga melonjak drastis, puluhan hingga ratusan persen, dalam hitungan hari atau minggu tanpa didukung perbaikan fundamental perusahaan. Lonjakan ini murni menciptakan euforia palsu. 2. Kapitalisasi dan ekuitas perusahaan relatif kecil Saham dengan modal kecil (kapitalisasi pasar rendah) jauh lebih mudah dimanipulasi. Biasanya, saham ini tercatat di papan pengembangan atau akselerasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca Juga :

Dukung Reformasi Pasar Modal, Luhut: Perlindungan Investor dan Stabilitas Prioritas Utama
 


(Ilustrasi. Foto: Freepik) 3. Volume transaksi meningkat drastis tanpa alasan jelas Volume perdagangan yang tiba-tiba melonjak tanpa adanya pengumuman atau laporan keuangan signifikan dari perusahaan patut dicurigai sebagai “likuiditas palsu” yang diciptakan bandar. 4. Tidak didukung kinerja keuangan yang baik Perusahaan seringkali memiliki laporan keuangan yang lemah, seperti laba rendah atau bahkan merugi, tanpa prospek bisnis yang jelas. Kenaikan harga yang tajam menjadi kontradiksi dengan fundamental yang buruk. 5. Informasi di media sosial atau grup investasi cenderung hype Saham ini banyak dihujani promosi agresif di platform seperti Telegram, X, atau YouTube dengan janji keuntungan cepat dan istilah bombastis seperti “to the moon” atau “multi-bagger”. 6. Pola harga membentuk ‘pump and dump’ Pola grafiknya klasik: harga dipompa naik vertikal (pump), lalu dibuang (dump) sehingga anjlok tajam. Pola ini sering terjadi tanpa alasan fundamental yang mendasarinya. 7. Keterlibatan oknum tertentu atau insider Meski sulit dibuktikan, sering ada indikasi keterlibatan orang dalam. Praktik manipulasi seperti marking the close (mengerek harga di akhir sesi) atau wash trading (jual beli fiktif) sering digunakan untuk menciptakan ilusi aktivitas pasar. Tips menghindari saham gorengan Untuk melindungi modal dari risiko ini, berikut beberapa langkah preventif yang dapat diambil:
  • Utamakan analisis fundamental: Selalu teliti laporan keuangan, kinerja perusahaan, dan prospek bisnis jangka panjang. Jangan tergoda kenaikan harga tanpa dasar yang kuat.
  • Waspada terhadap pendorong harga: Jika suatu saham naik tajam, cari tahu alasan fundamentalnya. Jika tidak ada, berhati-hatilah.
  • Verifikasi informasi: Jangan langsung percaya dengan rekomendasi atau promosi di grup media sosial. Lakukan riset mandiri dari sumber yang kredibel.
  • Amati volume perdagangan: Waspadai lonjakan volume yang tidak wajar dan tidak didukung berita perusahaan.
  • Kenali papan pencatatan: Saham di papan akselerasi atau pengembangan umumnya lebih berisiko. Pilih saham di papan utama dengan rekam jejak dan likuiditas yang lebih baik.
  • Kembangkan pola pikir jangka panjang: Fokuslah pada investasi berbasis nilai (value investing), bukan trading cepat yang spekulatif. Hindari godaan untuk “ikut-ikutan” membeli saham yang sedang ramai dibicarakan tanpa analisis.
Dengan memahami ciri-cirinya dan menerapkan prinsip investasi yang disiplin, investor dapat lebih terlindungi dari jebakan saham gorengan dan membangun portofolio yang lebih sehat. (Muhammad Adyatma Damardjati)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Video: BTS Comeback, Presiden Mexico Minta Tambah Jadwal Konser
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hadir Lebih dari Satu Dekade, BRILink Agen Ohim Berdayakan Warga dan Bangun Jejaring Usaha
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Neraca Perdagangan RI Surplus US$2,51 Miliar di Desember 2025, Genap 68 Bulan Beruntun
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Carlos Alcaraz Jadi Petenis Termuda Sepanjang Sejarah yang Raih Career Grand Slam Usai Juarai Australian Open 2026
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Rosan Jamin Independensi Danantara Tetap Terjaga saat Jadi Pemegang Saham BEI
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.