Nyaris Setahun, Belum Ada Solusi Polemik RDF Plant Rorotan

kompas.id
23 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Polemik RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara belum usai. Warga meminta tempat pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau refuse derived fuel itu ditutup karena terdampak bau hingga bikin sakit Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

Hampir setahun warga sekitar memprotes keberadaan RDF Plant Rorotan. Selama itu pula belum ada solusi meskipun uji coba ataupun perbaikan dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta.

"Dari awal saya menduga perencanaannya tidak matang. Kenapa? Coba dibayangkan, anggarannya kurang lebih Rp 1,3 triliun, tapi sampai hari ini masih timbul persoalan dalam pengelolaan sampah yang katanya menggunakan teknologi modern," kata Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis, Senin (2/2/2026).

RDF Plant Rorotan dibangun sejak Mei 2024 dengan biaya Rp 1,28 triliun dari APBD DKI Jakarta tahun 2024. Areanya mencakup kawasan seluas 7,87 hektar.

Pembangunan rampung tahun 2025. Menurut rencana, RDF Plant Rorotan itu diresmikan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung-Rano Karno atau Presiden Prabowo Subianto. Namun, urung terwujud sampai tahun ini.

Nadine (36), warga Jakarta Garden City, salah satu perumahan dekat RDF Plant Rorotan, kembali menyuarakan keluhan warga saat Pramono meresmikan Taman Kelinci Roci di Rorotan pada 30 Januari lalu.

Ia menanyakan sampai kapan operasional RDF disetop. Tempat pengolahan sampah itu bikin sakit fisik dan mental.

"Kami enggak mau sakit, Pak. Kenapa harus kami yang sakit? Kami minta RDF ditutup," ucap Nadine dengan suara bergetar.

Ia kemudian terisak. Dengar terbata-bata, sekali lagi meminta RDF Plant Rorotan ditutup.

Masalah operasional

Problem utama dari RDF Plant Rorotan, kata Pramono ialah angkutan. Air lindi menetes dari truk sampah sehingga bikin bau.

"Rorotan sendiri sudah berulang kali dilakukan commissioning (rangkaian pengujian) sampai dengan 200 ton, 300 ton, 500 ton per hari. Relatif baik, tidak masalah," kata Pramono.

Ia sudah meminta perbaikan angkutan. Salah satunya pengadaan truk sampah baru pada tahun lalu dan melarang operasional truk lama.

Baca JugaPemantau Udara di RDF Rorotan Tetap Beroperasi, Sensor Bau Dioptimalkan Lewat Kalibrasi

Kepada Nadine juga disampaikan bahwa operasional RDF Plant Rorotan terus diperbaiki. Keluhan warga didengar dan biaya kesehatan bisa ditanggung oleh Pemprov DKI Jakarta.

"Jadi RDF ini terus terang, kan, dibangun bukan di era saya. Biayanya cukup tinggi. Kalau kemudian saya tutup, ini problemnya lebih rumit lagi, enggak mungkin," ucap Pramono.

Baca JugaRDF Plant Rorotan Bikin Resah, Pramono Janji Bereskan Bau
Teknologi dan realita

Warga sekitar mengaku bau sampah samar-samar hingga menyengat. Waktunya tak tentu, bisa pagi, siang, sore atau malam.

Lulu (29), warga Cakung Timur, mengatakan, masalah RDF Plant Rorotan ialah baunya ke mana-mana. Mereka sudah sering komplain tetapi belum ada solusi.

"Tiap hari tercium bau. Kadang samar, kadang bau banget. Terakhir dikomplain sama orang Jakarta Garden City," tutur Lulu.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melaporkan RDF Plant Rorotan dilengkapi teknologi mutakhir. Ada sistem pengendalian bau, termasuk deodorizer atau pembersih yang mampu menetralkan bau amonia dan hidrogen sulfida melalui proses oksidasi.

Selain itu, terdapat filter karbon aktif untuk menyerap partikel bau yang tersisa, cyclone dan wet scrubber untuk menyaring gas hasil pembakaran sebelum dilepas ke lingkungan, dan memiliki sistem pengolahan air limbah.

"RDF Plant tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto pada Kamis (13/2/2025).

RDF Plant Rorotan direncanakan melayani 16 kecamatan di Jakarta. Cakupannya seluruh kecamatan di Jakarta Utara, empat kecamatan di Jakarta Pusat (Cempaka Putih, Kemayoran, Johar Baru, dan Senen), dan enam kecamatan di Jakarta Timur (Cakung, Pulogadung, Duren Sawit, Jatinegara, Matraman, dan Makasar).

RDF tersebut dirancang mengolah 2.500 ton sampah baru. Hasil pengolahannya berupa 35-40 persen produk RDF; 1-2 persen material daur ulang, seperti logam; 15 persen residu, yaitu beling, kerikil, pasir dan keramik; dan selebihnya adalah air lindi dan kadar air pada sampah yang dapat menguap saat pengeringan.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis menyayangkan polemik tak kunjung usai. Semestinya analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) sudah beres sejak perencanaan.

"Makanya, ketika Pak Gubernur menerima langsung keluhan masyarakat yang terdampak sampai menangis dan akhirnya uji coba dihentikan sementara, menurut saya itu wajar," ucap Ali.

Baca JugaSebelum Jabodetabek Limbung oleh Sampah

Warga terdampak langsung oleh bau yang ditimbulkan. Artinya, kata Ali, di situ perencanaan memang kurang matang.

Komisi D DPRD DKI Jakarta pernah meninjau sebelum RDF Plant Rorotan beroperasi. Sesudah itu, belum ada peninjauan lagi karena commissioning belum membuahkan hasil positif.

Menurut Ali, peninjauan akan diusulkan kembali. Soal amdal juga akan ditanyakan kepada Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta saat rapat komisi.

"Sampai hari ini, saya juga mendapat informasi bahwa amdal belum dibuka ke publik. Makanya saya mendorong agar dibuka secara transparan. Kalau memang ada masalah dan perlu diperbaiki, ya diperbaiki saja," tutur Ali.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Periksa Pandji Pragiwaksono Terkait Dugaan Penghinaan Budaya Toraja
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Food Estate Merauke Disebut Dorong Percepatan Infrastruktur Papua Selatan hingga Ketahanan Pangan Nasional
• 39 menit laluviva.co.id
thumb
Duet Kiai Said Aqil-Gus Salam Dianggap Pantas Memimpin NU
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Istri Jenderal Hoegeng, Meriyati Hoegeng, Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Anggota Komisi III Soroti Whip Pink Saat Rapat Bareng BNN: Ada Tulisan Halalnya
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.