jpnn.com - YOGYAKARTA - Nama Kiai Said Aqil dan Abdussalam Shohib atau Gus Salam dianggap pantas memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Said Aqil sebagai Rais Aam, sedangkan Gus Salam menjadi Ketua Umum PBNU.
BACA JUGA: PBNU Meluncurkan NUHM, Perkuat Peran Indonesia sebagai Global Sharia Investment Hub
Itu pandangan Mustasyar PBNU 2021-2026 KH Asyhari Abdulah Tamrin menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
"NU berada pada momentum krusial untuk melakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan. Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari ketegangan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik, menuntut solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, meneduhkan dan berjangka panjang," ujarnya.
BACA JUGA: PBNU Bakal Gelar Peringatan Harlah ke-100, Undang Presiden Prabowo
Menurut dia, diskursus mengenai pasangan Said Aqil-Gus Salam mengemuka sebagai tawaran kepemimpinan yang mendesak.
"Diskursus tersebut tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal, melainkan sebagai ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama," katanya.
BACA JUGA: Presidium PO & MLB NU Desak KPK Tahan Tersangka Korupsi Haji
Dia berpendapat, konflik dan fragmentasi di tubuh PBNU tidak dapat diurai melalui pendekatan administratif atau mekanisme prosedural semata. Diperlukan figur yang memiliki otoritas moral, kewibawaan keulamaan, dan legitimasi kultural.
"Kiai Said Aqil Siroj dengan kedalaman ilmu dan pengalaman panjang dalam memimpin NU dipandang mampu menjadi poros rekonsiliasi, rujukan keagamaan, sekaligus peneduh bagi beragam perbedaan yang berkembang di internal jam’iyyah," ujarnya.
"Abdussalam Shohib merepresentasikan figur Ketua Umum PBNU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultural dengan basis nahdiyin. Dia dipandang memiliki kemampuan menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif," imbuh Kiai Asyhari.
Rois Syuriah PWNU DIY 2006-2021 itu menilai bahwa PBNU perlu ditata ulang agar lebih tertib, profesional, dan berorientasi pada khidmah, bukan konflik. Urgensi pasangan ini pada Muktamar ke-35 NU terletak pada kemampuannya menjawab tiga agenda strategis NU sekaligus," ujar Asyhari.
Tiga agenda itu ialah:
- rekonsiliasi internal PBNU, dengan menutup ruang polarisasi dan mengakhiri konflik yang menguras energi organisasi,
- pembenahan organisasi, melalui penguatan sistem, disiplin struktur, dan penegasan kembali fungsi PBNU sebagai pelayan jam’iyyah dan jama’ah,
- pemulihan nama baik NU, agar kembali tampil sebagai organisasi ulama yang bermartabat, teduh dan menjadi teladan dalam kehidupan kebangsaan.
Menurut dia, Said Aqil-Gus Salam bisa membawa harapan baru kebangkitan NU.
"NU tidak membutuhkan kepemimpinan yang memperpanjang konflik, tetapi kepemimpinan yang mampu menyatukan kembali barisan, merawat tradisi dan menatap masa depan dengan penuh tanggung jawab," ujarnya. (*/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Pleno PBNU Sepakat Memulihkan Posisi Gus Yahya Sebagai Ketua Umum
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan



