- Fasilitas RDF Rorotan di Jakarta Utara dibangun untuk mengolah ribuan ton sampah harian menjadi bahan bakar alternatif, menggantikan metode timbun di Bantar Gebang.
- Warga sekitar mengeluhkan bau menyengat dari fasilitas tersebut, namun Gubernur Pramono Anung menyatakan masalahnya berasal dari kebocoran truk pengangkut, bukan sistem pengolahan.
- Operasi RDF Rorotan dianggap vital untuk mencegah krisis sampah Jakarta dan mewujudkan kemandirian daerah dalam pengelolaan limbah ibu kota.
Suara.com - Setiap hari, Jakarta memproduksi ribuan ton sampah yang selama ini hanya berakhir menjadi gunungan tinggi di TPST Bantar Gebang. Ketergantungan yang akut pada pola 'buang dan tumpuk' ini akhirnya mulai coba diputus melalui pengoperasian fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan. Teknologi ini digadang-gadang mampu mengolah limbah menjadi bahan bakar alternatif, sekaligus menjadi napas baru bagi manajemen sampah ibu kota yang sudah lama sesak.
Namun, langkah inovasi ini tidak berjalan mulus karena warga sekitar sempat menyuarakan keresahan terkait aroma menyengat yang mengganggu kenyamanan. Isak tangis bahkan sempat pecah dari salah seorang warga yang menyampaikan keluhan langsung di depan sang gubernur, Pramono Anung.
Meski diprotes, Pemprov DKI Jakarta tetap bersikukuh agar proyek strategis ini terus berjalan. Pramono Anung bahkan menyebut penutupan RDF Rorotan, yang dibangun dari sebelum era kepemimpinannya, hanya akan menimbulkan masalah yang lebih rumit. Benarkah peran RDF Rorotan sebegitu vitalnya bagi pengelolaan sampah ibu kota?
Apa Itu RDF?
Pemprov DKI Jakarta memulai babak baru pengelolaan lingkungan melalui pembangunan fasilitas RDF di Rorotan, Jakarta Utara. Kehadiran pabrik ini menandai transisi besar dari pola lama yang sekadar membuang sampah menjadi sistem modern yang mampu mengubah limbah menjadi sumber energi.
Di dalam fasilitas ini, sampah tidak langsung dibakar, melainkan melewati serangkaian tahapan teknis untuk meningkatkan nilai kalornya. Proses diawali dengan penyaringan ketat untuk memisahkan material logam, kemudian dilanjutkan dengan pencacahan sampah menjadi ukuran kecil yang seragam. Melalui sistem pengeringan yang canggih, kadar air pada sampah ditekan hingga di bawah 20 persen agar material tersebut lebih mudah terbakar dan efisien saat digunakan.
Hasil akhir dari pengolahan ini adalah bahan bakar alternatif berkualitas tinggi yang menyerupai bongkahan kecil atau serbuk kasar. Produk ini siap dikirim ke berbagai industri, seperti pabrik semen atau PLN, sebagai pengganti batu bara yang lebih ramah lingkungan. Dengan pendekatan ekonomi sirkular ini, Jakarta tidak hanya berhasil mengurangi volume sampahnya secara signifikan, tetapi juga sekaligus menciptakan solusi energi berkelanjutan bagi masa depan.
Penting untuk dicatat bahwa setiap gram sampah yang masuk ke RDF Rorotan akan langsung diproses menjadi produk baru yang bernilai guna, bukan dibiarkan menumpuk hingga menggunung seperti di TPST Bantar Gebang.
Kenapa Masih Timbulkan Bau Busuk?
Baca Juga: Pramono Tak Akan Tutup RDF Rorotan Meski Diprotes Warga hingga Menangis: Problem-nya Lebih Rumit
Meskipun dirancang dengan teknologi modern, fasilitas sebesar RDF Plant Rorotan tetap memiliki tantangan operasional yang bisa memicu bau tak sedap. Seperti yang belakangan dikeluhkan warga sekitar RDF Rorotan, yang bahkan sampai menuntut penutupan permanen fasilitas tersebut. Mereka mengklaim, RDF Rorotan juga jadi sumber penyakit baru bagi mereka yang masih menetap di sekitar fasilitas.
Keresahan warga Rorotan terkait bau menyengat sampah dari RDF langsung direspons Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Dalam kunjungannya ke kawasan tersebut, politisi PDIP ini menegaskan bahwa sumber masalah bukan dari sistem pengelolaan sampah di sana, melainkan dari kebocoran truk pengangkut material.
"Sekarang ini, begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes," papar Pramono.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta pun sudah bergerak cepat dengan mengerahkan truk compactor tertutup hasil pengadaan tahun 2024 dan 2025 untuk mengangkut sampah menuju RDF Rorotan. Penggunaan armada modern ini bertujuan demi meminimalkan potensi ceceran air lindi dan bau menyengat selama perjalanan di jalur pemukiman.
Selain itu, dua pos pantau khusus telah disiagakan di akses utama arah Jakarta Timur dan Jakarta Utara guna melakukan inspeksi ketat terhadap setiap kendaraan. Petugas di lapangan akan memastikan setiap bak truk tertutup rapat dan tidak ada kebocoran air lindi sebelum diperbolehkan masuk ke area pengolahan.
Pengoperasian RDF Rorotan pun masih dilakukan secara terbatas dengan skema lima hari dalam seminggu dan dua shift kerja. Sistem pengolahan sampah pun tidak langsung dimaksimalkan ke kapasitas utama di 2.500 ton, melainkan dimulai dari hitungan 200 ton dengan akumulasi kenaikan serupa selepas berganti hari.
"Sesuai arahan Bapak Gubernur," kata Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto.
Peran Vital RDF Rorotan di Balik Bau Busuknya
Keberadaan fasilitas RDF Plant Rorotan menjadi pilar krusial bagi masa depan sanitasi Jakarta di tengah krisis lahan yang semakin mencekik. Dengan kondisi TPST Bantargebang yang telah mencapai ambang batas maksimal, kegagalan proyek ini dapat memicu krisis sampah hebat serupa dengan apa yang pernah terjadi di kota-kota besar lainnya. Mengingat peran vitalnya sebagai jantung pengelolaan limbah ibu kota, operasional RDF Rorotan tidak bisa ditutup secara permanen dengan alasan apa pun karena akan melumpuhkan sistem kebersihan kota secara menyeluruh.
"Kami tidak mau krisis pengelolaan sampah terjadi di Jakarta, seperti di daerah lain," tegas Asep Kuswanto.
Langkah ini juga merupakan perwujudan kemandirian daerah agar Jakarta tidak lagi terus-menerus membebankan masalah sampahnya kepada wilayah penyangga seperti Bekasi. Melalui teknologi ini, tumpukan sampah basah yang biasanya menghasilkan emisi gas metana berbahaya kini dapat dikurangi secara drastis demi kesehatan lingkungan. Keberhasilan fasilitas ini secara langsung memperpanjang umur teknis tempat pembuangan akhir sekaligus membuktikan bahwa Jakarta mampu mengelola limbahnya secara mandiri dan bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar membuang, RDF Rorotan mengubah beban biaya menjadi peluang ekonomi sirkular yang memberikan pemasukan bagi kas daerah. Sampah yang dahulu memerlukan biaya pembuangan tinggi, kini bertransformasi menjadi bahan bakar alternatif yang bernilai jual bagi sektor industri dan pembangkit listrik. Inovasi ini menciptakan ekosistem hijau yang menguntungkan, di mana polusi ditekan seminimal mungkin sementara efisiensi ekonomi terus ditingkatkan bagi kesejahteraan warga Jakarta.
Pada akhirnya, RDF Plant Rorotan harus tetap beroperasi. Fasilitas ini memegang peranan penting dalam masa depan sistem pengolahan sampah Jakarta yang lebih terpadu.
"Ini merupakan jawaban atas tantangan pengelolaan sampah Jakarta di masa yang akan datang," kata pengamat tata kota, M. Azis Muslim.
DLH DKI Jakarta pun sudah berkomitmen penuh untuk menjaga standar operasional fasilitas RDF Rorotan agar tetap aman bagi lingkungan sekitar. Pengawasan melekat terus dilakukan secara intensif guna memastikan seluruh prosedur teknis berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Operasional RDF Rorotan tidak dijalankan dengan pendekatan memaksakan, tetapi dengan prinsip saling menjaga dan saling menghormati," tegas Asep Kuswanto.
Mereka juga menegaskan bahwa setiap keluhan yang disampaikan oleh masyarakat akan selalu menjadi bahan evaluasi langsung untuk perbaikan kualitas layanan di lapangan.
Pendekatan kemanusiaan dan keterbukaan menjadi landasan utama dalam mengelola hubungan antara fasilitas industri ini dengan warga pemukiman.
M. Azis Muslim pun melihat cara DLH DKI Jakarta merespons masalah yang timbul dari RDF Rorotan sudah di jalur yang benar. Dengan proses evaluasi yang mengedepankan sisi humanis, diharapkan RDF Rorotan bisa mengoptimalkan potensinya sebagai program pengentasan masalah sampah di Jakarta.
"Sehingga penanganan sampah yang ada di Rorotan ini akan menjadi lebih baik, dan juga tidak menimbulkan polemik di kemudian hari," pungkas Azis.



