Komisi XII DPR RI meminta PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) untuk mempercepat jadwal operasional pabrik baterai fase 1 di Karawang, Jawa Barat. Proyek baterai berkapasitas 6,9 Giga Watt hour (GWh) tersebut diminta mulai berproduksi pada Juli 2026.
“Komisi XII DPR RI mendukung percepatan pembangunan proyek manufaktur baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat untuk dapat segera berproduksi pada tahun 2026. Bulannya disebut aja. Betul ya? Kan sudah merupakan 2026 bulan berapa? Juli,” ujar Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, dalam kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Jakarta, Senin (2/1/2026).
Baca Juga: IBC Minta Tiga Dukungan DPR untuk Akselerasi Industri Baterai Terintegrasi
Menanggapi hal tersebut, Director of Corporate Public Affairs PT CATIB, Bayu Hermawan, menyatakan bahwa rencana awal perusahaan sebenarnya menargetkan operasional pada akhir Kuartal III 2026. Namun, pihaknya berkomitmen melakukan akselerasi.
“Izin, jadi memang sebenarnya planning-nya itu Q3 Pak, di September, tapi kita best effort untuk kita coba akselerasi Pak, di bulan Juli,” jelas Bayu.
Pabrik yang berdiri di atas lahan 50 hektar ini merupakan kolaborasi antara PT Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan kepemilikan saham 30% dan CBL International Development PTE. Ltd sebesar 70%.
“Kami dibentuk pada tahun 2024 bulan Oktober dengan rencana pengembangan pabrik baterai dengan kapasitas mencapai 6,9 gigawatt hour di mana lokasinya berada di Kabupaten Karawang, Jawa Barat dengan nilai investasi kurang lebih mencapai 7 triliun rupiah,” tambah Bayu.
Ia juga mengestimasi bahwa operasional pabrik ini nantinya akan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. "Kami sampaikan bahwa PT CATIB diestimasikan nantinya akan mampu menyerap kurang lebih hingga 3.000 pekerja," ungkapnya.
Baca Juga: DAAZ Gaet ANTM hingga HYD Kembangkan Ekosistem Baterai EV di Indonesia
Pabrik yang telah melakukan groundbreaking pada 29 Juni 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto ini akan memproduksi baterai Lithium Ion (Li-ion) berbasis nikel serta Battery Energy Storage System (BESS).
Dalam rapat tersebut, Bayu juga mengharapkan dukungan pemerintah agar Indonesia menjadi center of gravity industri baterai dunia. Beberapa poin yang disoroti antara lain dorongan pasar kendaraan listrik, peningkatan TKDN, hingga perpanjangan insentif pajak.
“Mudah-mudahan implementasi dari tax holiday ini dapat diperpanjang juga untuk implementasi baterai energy storage system yang diproduksi di dalam negeri,” pungkas Bayu.




