Orang tua korban pencabulan anak di Bekasi mengadukan lambannya penanganan perkara dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/2).
Ayah korban, Yakob Sinaga, menyampaikan langsung pengalaman keluarga mereka dalam memperjuangkan keadilan bagi anaknya yang menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan sekolah.
“Mencari keadilan bagi anak kami yang menjadi korban kekerasan dan korban perbuatan tidak senonoh yang terjadi di Satuan Pendidikan Yayasan Perguruan Advent 14 Bekasi, Jalan Sersan Aswan Nomor 3, Bekasi Timur,” ujar Yakob.
Yakob menuturkan, ia justru menghadapi tekanan setelah melaporkan dugaan pencabulan tersebut. Bahkan, ia dimintai uang triliunan rupiah dan akan dilaporkan balik oleh pelaku.
“Kami orang tua korban diminta uang seketika dan sekaligus sebesar Rp 10 triliun oleh tersangka bersama dengan Yayasan Perguruan Advent 14 Bekasi, dengan dasar laporan polisi yang tersangka buat di Unit Krimsus Polres Metro Bekasi Kota dengan pasal pencemaran nama baik, di mana pihak Yayasan Perguruan Advent menjadi saksi dalam laporan yang dibuat oleh pelaku,” jelas dia.
Ia juga menyebut adanya dugaan pembungkaman dan relasi kuasa yang membuat keluarga korban merasa tertekan.
“Kami orang tua korban dibungkam dengan berbagai cara oleh Yayasan Perguruan Advent 14 Bekasi. Dan kami merasakan adanya kekuatan dalam kekuasaan di mana anak tersangka yang bernama Lipron Sinurat memiliki jabatan penting dalam Yayasan Perguruan Advent 14 Bekasi. Berikut juga anak tersangka memiliki posisi di Kantor Pusat GMHK sebagai pendeta,” katanya.
Yakob juga menceritakan, bagaimana anaknya kesusahan hanya untuk pindah sekolah.
“Dirampas hak asasi untuk melanjutkan pendidikan setelah satu tahun lamanya anak korban pulih dari situasi PTSD. Kami orang tua korban tidak diberikan surat pindah sekolah,” jelas Yakob.
“Bahkan ketika kami mendaftarkan korban di sekolah baru, akan tetapi SD Advent 14 Bekasi melarang sekolah baru untuk menerima anak korban dengan alasan harus berdamai dulu dan selesai permasalahan hukumnya,” lanjutnya.
Dalam rapat tersebut, Yakob juga mengungkap kronologi awal pencabulan yang dialami anaknya, yang saat itu masih berusia 6–7 tahun dan duduk di bangku SD kelas 1 hingga kelas 2 pada tahun ajaran 2023–2024.
Ia menjelaskan, peristiwa tersebut mulai terungkap pada 23 September 2024, ketika korban bercerita mengenai seorang pria yang kerap berada di dalam mobil yang terparkir di halaman sekolah.
“Yang di mana pemilik mobil tersebut, korban mengenalnya bernama Opung Lionel. Kami orang tua korban terus mendalami maksud daripada apa yang diceritakan oleh korban. Kami bertanya, ada apa dengan Opung Lionel? Korban menjawab, Opung Lionel memegang bokong,” ungkapnya.
Yakob menuturkan anaknya kemudian mengungkap rangkaian perbuatan yang diduga dilakukan pelaku serta ancaman yang diterimanya.
“Lalu korban menjelaskan bahwa dirinya pernah ditarik kerah bajunya, kerah seragam sekolah dan ditarik ke mobil Opung Lionel, setelah itu tangan Opung Lionel memegang bokong korban sambil diremas,” kata Yakob.
“Kemudian tangan Opung Lionel dari bawah rok masuk. Dan korban menjelaskan kalau Opung Lionel itu sering melakukan, memasukkan tangannya ke dalam rok, dan korban menjelaskan Opung Lionel juga mengancam, ‘Nanti kamu saya bunuh kalau kamu kasih tahu ke orang tua.’” sambung dia.
Sehari setelah pengakuan tersebut, Yakob mengaku melihat langsung keberadaan mobil yang dimaksud korban di depan sekolah.
“Dan ketika itu saya melihat langsung dan adanya mobil Suzuki APV berwarna silver dengan nopol B 1064 KJE terparkir di depan gedung SD dengan kondisi pintu terbuka sebelah kiri dengan terganjal,” jelasnya.
Ia kemudian melaporkan kasus tersebut ke berbagai pihak, termasuk DP3A Kota Bekasi, Polres Metro Bekasi Kota, hingga KPAI. Hasil asesmen psikolog DP3A menyatakan korban mengalami post-traumatic disorder (PTSD).
Namun, Yakob menilai proses hukum berjalan lambat. Hingga kini, ia menyebut pelaku belum ditangkap.
“Bahwa kami selaku orang tua korban memohon agar Kapolda Metro Jaya bisa memberikan instruksi kepada Kapolres Metro Bekasi Kota agar melakukan penangkapan kepada Ramses Sinurat sebagai tersangka kekerasan dan perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur,” katanya.
Yakob menegaskan perjuangan keluarga mereka berfokus pada keadilan bagi korban, bukan kepentingan lain.
“Tapi pada intinya itu terkait dengan adanya kami sebagai orang tua korban diminta uang sebesar Rp 10 triliun dengan dasar adanya LP itu. Itu menjadi suatu hal yang membuat kami berjuang dalam konteks hukum, kami malah justru diminta uang,” tandasnya.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F02%2F4279098af1dc16cec6c9a09075680c9e-20260130_KID_Cover_Pecel_Lele_Lamongan_mumed.jpg)