JAKARTA, KOMPAS.com — Di jantung kawasan bisnis Sudirman, Jakarta Pusat, pagar seng biru setinggi lebih dari dua meter berdiri memanjang di salah satu koridor tersibuk Ibu Kota. Pagar itu membatasi lahan bekas proyek BDNI Center 1, yang selama puluhan tahun tak lagi menampakkan geliat pembangunan.
Di balik seng yang kusam, ambisi menghadirkan gedung pencakar langit telah lama berhenti. Namun, di sisi luarnya, ruang yang seharusnya steril dari aktivitas justru berubah menjadi parkiran sepeda motor dan lapak dagang informal yang hidup dari pagi hingga malam.
Berdasarkan pengamatan Kompas.com, Jumat (30/1/2026), area di sepanjang pagar proyek di kawasan Karet Tengsin, Tanah Abang, dipadati deretan sepeda motor yang terparkir rapat. Sebagian motor berjajar tepat di depan gerbang seng bertuliskan larangan masuk dan parkir, sementara lainnya memanjang hingga ke bawah pepohonan besar yang menaungi trotoar.
Baca juga: Jejak Megaproyek BDNI Center 1, Bangunan Mangkrak di Jantung Sudirman
Tak tampak marka resmi, portal, maupun rambu parkir yang jelas. Meski demikian, area di depan pagar seng bekas proyek tersebut telah lama difungsikan sebagai parkiran informal oleh warga dan pekerja di sekitar Sudirman.
Helm-helm tergantung di spion motor. Sebagian pengendara terlihat duduk jongkok di trotoar, menunggu jam pulang kerja atau sekadar berteduh dari panas dan hujan.
Sejumlah juru parkir tampak mengatur keluar-masuk kendaraan. Mereka mengarahkan sepeda motor agar parkir sejajar dengan pagar seng, menyisakan sedikit ruang bagi pejalan kaki yang terpaksa berjalan di antara deretan motor dan badan jalan.
“Kalau jam kantor penuh, Mas. Dari pagi sampai sore enggak pernah kosong,” ujar Rahman (55), juru parkir yang sehari-hari berjaga di Jalan Profesor Doktor Hamka, sisi kiri pintu keluar Sahid Sudirman Center.
Kepada Kompas.com, Rahman mengaku telah mengelola parkiran di depan pagar proyek BDNI Center tersebut selama lebih dari lima tahun. Ia menyebutkan, keberadaan proyek mangkrak justru membuka ruang ekonomi kecil bagi dirinya dan warga lain di sekitar lokasi.
“Dulu pagar ini cuma nutup lahan kosong. Lama-lama motor pada parkir, ya saya jagain. Daripada semrawut,” kata Rahman.
Menurut Rahman, aktivitas parkir meningkat signifikan saat jam kerja perkantoran maupun ketika terdapat acara di hotel-hotel sekitar Sudirman. Tarif parkir dipungut secara sukarela dan menyesuaikan kemampuan pengendara.
“Ya Rp 5.000 lah, enggak maksa juga, tapi tarif rata-rata segitu,” tutur dia.
Baca juga: Kronologi Wanita Adang Pengendara Motor di Jalur Sepeda Jalan Sudirman
Lapak dagang menempel di pagar sengTak hanya dimanfaatkan sebagai parkiran, pagar seng proyek mangkrak tersebut juga menjadi sandaran bagi lapak-lapak pedagang kecil. Di beberapa sudut, terlihat gerobak minuman, penjual makanan ringan, hingga lapak rokok dan kopi sachet.
Beberapa pedagang memanfaatkan celah antara pagar dan pepohonan untuk memasang terpal seadanya sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari.
Alam (52), pedagang minuman yang mangkal tepat di depan pagar seng, mengaku telah berjualan di lokasi itu sejak 2019. Ia menyebut, pagar proyek BDNI Center 1 nyaris tak pernah dibuka selama ia berdagang di sana.
“Setahu saya enggak pernah dibuka. Paling cuma ada orang ngecek, habis itu tutup lagi,” ujar Alam.


