Rupiah Menguat usai Laporan BPS soal Surplus Neraca Perdagangan RI di 2025

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.800 per Senin, 2 Februari 2026. Posisi rupiah itu melemah 4 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.796 pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026.

Baca Juga :
Rupiah Menguat seiring Upaya BI Perkuat Cadangan Devisa Jaga Stabilitas Ekonomi
Rupiah Melemah, PDIP: Pemerintah Harus Cepat Atasi Ketidakpastian di Pasar Keuangan

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 3 Februari 2026 hingga pukul 09.08 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.764 per dolar AS. Posisi itu menguat 34 poin atau 0,20 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.798 per dolar AS.

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar
Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus secara kumulatif pada Januari-Desember 2025 sebesar US$41,05 miliar. Surplus ini lebih besar dibandingkan dengan tahun 2024 yang sebesar US$31,04 miliar.

Surplus ini dipicu oleh angka ekspor sepanjang Januari_Desember yang mencapai US$ 282,21 miliar, lebih tinggi dari impor kumulatif pada periode yang sama yang sebesar US$241,86 miliar.

Sedangkan surplus sepanjang Januari-Desember 2025 ditopang oleh surplus non-migas US$60,75 miliar. Sementara itu, neraca migas mengalami defisit US$19,70 miliar.

Kemudian, BPS juga melaporkan laju inflasi tahun ke tahun (yoy) pada Januari 2026 tercatat mencapai 3,55 persen. Artinya, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi tingg mencapai 11,93 persen dan memberi andil 1,72 persen. Komoditas yang paling memberi andil terbesar ialah tarif listrik. Kemudian, pada kelompok lainnya ialah emas dan perhiasan.

Sedangkan, alasan data inflasi tahunan dan bulanan pada Januari 2026 berbanding terbalik. Seperti misalnya data tahunan Januari tercatat mengalami inflasi mencapai 3,55 persen, sementara secara bulanan malah mengalami deflasi 0,15 persen.

Inflasi tinggi pada Januari 2026 secara tahunan (yoy) dipengaruhi dampak basis angka yang rendah, pada periode yang sama tahun sebelumnya atau low base affect. Pada Januari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan tarif listrik yang menekan IHK 2025, yang pada akhirnya juga mendorong penurunan inflasi pada masa itu.

Baca Juga :
Rupiah Melemah usai Goldman Sachs Group Inc. Turunkan Peringkat saham RI Jadi Underweight
Rupiah Melemah meski Pasar Respons Positif Langkah Purbaya Lanjutkan 4 Program Stimulus di 2026
Rupiah Menguat Topang Upaya Berat Pemerintah Penuhi Kebutuhan Pembiayaan Utang 2026

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
ETLE Mobile Handheld Mulai Dioperasikan di Wilayah Polda DIY
• 5 jam laludetik.com
thumb
Anggota DPR Minta Kasus Asap Oranye di Pabrik Cilegon Diinvestigasi Menyeluruh
• 6 jam laludetik.com
thumb
PT Astra Internasional Tbk Buka Lowongan Kerja Februari 2026, Ini Posisi dan Kualifikasinya
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Remaja Depok Kabur dengan Pacarnya Selama Sepekan karena Tak Direstui Orangtua
• 20 jam lalukompas.com
thumb
BMKG Prakirakan Hujan Ringan Guyur Sebagian Wilayah Jakarta Malam Ini
• 6 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.