Terhubung Setiap Saat, Tapi Mengapa Kita Makin Mudah Merasa Sendiri?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di era notifikasi tanpa henti, kita nyaris tidak pernah benar-benar sendirian. Ponsel selalu dalam genggaman, media sosial selalu terbuka, dan percakapan dapat dimulai hanya dengan satu sentuhan layar. Kita hidup dalam jaringan yang luas, cepat, dan seolah tanpa batas. Namun ironisnya, di tengah keterhubungan yang begitu masif, banyak orang justru merasa semakin kesepian.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan sesaat. Banyak orang mengaku memiliki ratusan teman di dunia maya, tetapi kesulitan menyebut satu orang yang bisa diajak bicara secara jujur saat sedang tidak baik-baik saja. Kita terbiasa berbagi momen bahagia, pencapaian, dan hal-hal yang terlihat menyenangkan. Namun ketika menyangkut rasa cemas, gagal, atau lelah secara emosional, ruang itu terasa menyempit.

Media sosial perlahan membentuk kebiasaan untuk menampilkan versi terbaik dari diri kita. Foto dipilih yang paling bagus, cerita dibagikan yang paling menarik, dan pencapaian ditampilkan yang paling membanggakan. Tanpa disadari, kita membandingkan hidup yang kita jalani sehari-hari dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain. Perbandingan yang tidak seimbang ini dapat memunculkan rasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup baik.

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita memakainya. Platform digital pada dasarnya hanyalah alat. Ia bisa menjadi jembatan untuk mempererat hubungan, tetapi juga bisa menjadi tembok yang membuat interaksi terasa dangkal. Kita bisa berbicara dengan banyak orang, tetapi belum tentu benar-benar merasa didengar.

Percakapan singkat yang didominasi emoji, balasan cepat, dan respons satu kata memang efisien, tetapi sering kali kehilangan kedalaman. Kita jarang lagi duduk lama untuk benar-benar mendengarkan cerita orang lain tanpa terdistraksi notifikasi. Bahkan saat bertemu langsung, tidak sedikit orang yang masih sibuk menatap layar.

Kondisi ini pelan-pelan mengubah makna kehadiran. Secara fisik kita ada, tetapi secara perhatian tidak sepenuhnya hadir. Hubungan pun menjadi rapuh karena dibangun di atas interaksi yang serba cepat, bukan pemahaman yang tumbuh perlahan.

Namun situasi ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Justru kesadaran bahwa kita mulai kehilangan kedalaman dalam berhubungan bisa menjadi titik awal perbaikan. Kita tidak harus meninggalkan dunia digital, tetapi perlu belajar menggunakannya dengan lebih bijak.

Memberi waktu untuk percakapan yang lebih tulus adalah salah satu langkah kecil yang berdampak besar. Menanyakan kabar seseorang dengan sungguh-sungguh, mendengarkan tanpa buru-buru memberi nasihat, atau sekadar hadir tanpa sibuk membuka aplikasi lain dapat membuat orang merasa dihargai. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali jauh lebih berarti daripada ratusan tanda suka di linimasa.

Selain itu, penting juga untuk lebih jujur pada diri sendiri. Tidak apa-apa jika hidup tidak selalu terlihat menarik. Tidak apa-apa jika kita sedang lelah atau bingung. Berani menunjukkan sisi manusiawi justru membuka ruang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dari situlah koneksi yang lebih nyata bisa tumbuh.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan laju perkembangan teknologi, tetapi kita bisa memilih bagaimana bersikap di dalamnya. Kita bisa tetap terhubung secara digital tanpa kehilangan sentuhan emosional. Kita bisa aktif di dunia maya tanpa mengorbankan kehadiran di dunia nyata.

Pada akhirnya, manusia tetaplah makhluk yang membutuhkan rasa dipahami, bukan sekadar diperhatikan. Di tengah dunia yang makin bising oleh notifikasi, mungkin yang paling kita butuhkan justru bukan sinyal yang lebih kuat, melainkan hubungan yang lebih hangat.

OPINION


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Meski dari PDIP, Pramono Anung Tetap Saya Dukung sebagai Gubernur DKI
• 8 jam laludisway.id
thumb
Darah Nenek Saudah Bikin DPR Murka, Mafia Tambang Ilegal Pasaman Terancam Dibabat Habis!
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Tabung Gas Elpiji 12 Kg di Palembang Meledak, Tiga Tewas
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Presiden Prabowo: 18 Proyek Hilirisasi Siap Dibangun, Investasi Rp618 Triliun
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
[FULL] Agenda Presiden Prabowo Buka Rakornas Pusat dan Daerah 2026, Fokus Indonesia Emas 2045
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.