Peneliti Pukat UGM Ungkap Penyebab Biaya Politik Tinggi yang Dorong Kepala Daerah Korupsi

kompas.tv
6 jam lalu
Cover Berita
Wali Kota Madiun Maidi, tersangka kasus pemerasan dengan modus fee proyek dan dana CSR serta gratifikasi di lingkungan Pemerintah Kota Madiun, usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Selasa (20/1/2026). (Sumber: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA.)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada (UGM), Zaenur Rohman, mengungkap penyebab-penyebab biaya politik di Indonesia tinggi yang kemudian mendorong kepala daerah melakukan korupsi. 

"Yang pertama adalah mahalnya candidacy buying (jual beli tiket pencalonan), mencalonkan diri lewat parpol (partai politik). Yang kedua adalah vote buying (pembelian suara), membeli suara pemilih," ungkapnya, Senin (2/2/2026), dipantau dari Breaking News KompasTV.

Zaenur mengatakan pemberantasan candidacy buying perlu dilakukan dengan pembenahan sistem pencalonan kepala daerah di dalam tubuh parpol. 

"Nah, parpol tidak mau berbenah. Oleh karena itu, butuh pembenahan dari negara terhadap parpol yang disebut sebagai demokratisasi internal parpol dengan reformasi sistem kepartaian, yaitu pencalonan kepala daerah itu harus melalui pencalonan internal di masing-masing parpolnya, tidak melalui jual beli," katanya. 

Zaenur melanjutkan, untuk memberantas vote buying, perlu adanya ketegasan penindakan para calon kepala daerah yang melakukan praktik tersebut. 

"Bagi para calon kepala daerah yang melakukan serangan fajar, menyuap calon pemilih, itu 
harus didiskualifikasi," ujarnya. 

Baca Juga: Tekan Korupsi Kepala Daerah, Pukat UGM Sarankan Biaya Politik Dipermurah hingga Kampanye Dibenahi

Menurutnya, tingginya biaya politik menjadi salah satu faktor yang bisa meningkatkan potensi korupsi oleh kepala daerah.

"Faktor pendorong internal barangkali adalah ingin memupuk kekayaan dengan cepat untuk berkontestasi di kesempatan berikutnya. Tetapi juga ada faktor eksternal, yaitu biaya politik tinggi," ujarnya. 

Ia mengatakan untuk menjadi seorang calon kepala daerah, butuh biaya puluhan miliar rupiah. 

"Bahkan untuk level bupati, wali kota, informasinya itu bisa sampai level 30 dan sampai 50 miliar," bebernya. 

Zaenur mengatakan, dengan biaya politik tinggi seperti itu, penghasilan kepala daerah tidak akan cukup menutup biaya politiknya jika hanya mengandalkan gaji sah.

Oleh karena itu, dia menyebut tak jarang kepala daerah kemudian berusaha menutup biaya politik itu dengan berbagai cara. Pertama, kata dia, mendapatkan dana dari para pemodal. 

"Yang kedua adalah menutup dari korupsi, menjual paket-paket pengadaan barang dan jasa, menjual perizinan, kemudian juga menjual posisi-posisi jabatan di pemerintahan daerah," sebutnya. 

Baca Juga: Faktor Pendorong Kepala Daerah Korupsi, Pukat UGM: Keinginan Pupuk Kekayaan dan Biaya Politik Mahal

Zaenur menegaskan, pemberantasan korupsi di daerah butuh komitmen bersama antara elite di tingkat lokal dan nasional. 

Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Edy-A.-Putra

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • pukat ugm
  • korupsi
  • korupsi kepala daerah
  • biaya politik tinggi
  • bupati pati
  • wali kota madiun
Selengkapnya


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
12 Fitur Web Browser yang Jarang Diketahui
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Cerita Warga Korban Kebakaran di Cipadu: Semua Habis Menjelang Maghrib
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Mobil SUV vs MPV: Mana yang Jadi Favorit Orang Indonesia?
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Juventus Pesta Gol ke Gawang Parma dan Naik ke Empat Besar Klasemen Liga Italia
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Hyundai dan Kia Kembangkan Vision Pulse, Teknologi Baru Deteksi Blind Spot Berbasis UWB
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.