CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mengumumkan tingkat inflasi bulanan pada Januari 2026 sebesar 0,47 persen. Emas dan ikan layang pemicunya.
Padahal, pada Januari 2025, Sulsel mengalami deflasi 0,75 persen secara bulanan atau month to month (m-to-m).
Inflasi, salah satu indikator perekonomian yang menggambarkan pergerakan kenaikan harga-harga secara umum yang dipantau oleh BPS dengan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK). Sebailknya jika harga-harga secara umum turun, kondisi itu disebut deflasi.
Menurut data yang dirilis Senin (2/2/2026), penyumbang utama inflasi bulan Januari 2026 secara m-to-m adalah kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya; dan kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil masing-masing sebesar 0,22%.
Komoditas penyumbang utama inflasi pada masing-masing kelompok tersebut adalah emas perhiasan sebesar 0,20 persen dan ikan layang/ ikan benggol sebesar 0,07 persen.
Adapun secara tahunan atau year on year (yoy) pada Januari 2026 di Sulsel terjadi inflasi sebesar 4,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,79.
Inflasi tertinggi terjadi di Kab. Sidenreng Rappang sebesar 5,63 persen dengan IHK sebesar 108,33 dan terendah terjadi di Kota Makassar sebesar 3,82 persen dengan IHK sebesar 109,88.
Penyumbang utama inflasi bulan Januari 2026 secara y-on-y adalah Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil 1,56 %. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah tarif listrik sebesar 1,46 persen.
Kelompok Perawatan Pribadi Dan Jasa Lainnya dengan andil 1,27%. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan sebesar 1,19 persen.
Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau dengan andil 0,13%. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah beras sebesar 0,24 persen.



