Kenaikan Inflasi Januari 2026 Dipicu Efek Low Base, Bukan Lonjakan Harga

idxchannel.com
12 jam lalu
Cover Berita

Kenaikan inflasi tersebut tidak mencerminkan lonjakan harga barang dan jasa secara umum.

Kenaikan Inflasi Januari 2026 Dipicu Efek Low Base, Bukan Lonjakan Harga

IDXChannel — Inflasi tahunan (year-on-year) Indonesia sebesar 3,55 persen pada Januari 2026 tidak perlu dikhawatirkan.

Pasalnya, meskipun angka tersebut berada sedikit di atas rentang target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5–3,5 persen, kenaikan inflasi tersebut tidak mencerminkan lonjakan harga barang dan jasa secara umum, melainkan dipengaruhi oleh faktor perhitungan statistik.

Baca Juga:
Inflasi Awal 2026 Diproyeksi di Atas Target BI, Ini Penyebabnya

Hal ini diungkapkan Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi. Menurutnya, inflasi Januari 2026 utamanya dipicu oleh efek basis rendah (low-base effect). Persentase pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (IHK) terlihat tinggi karena dibandingkan dengan level Januari 2025 yang sangat rendah.

“Kenaikan ini sebenarnya dipicu oleh low-base effect, bukan karena dinamika harga yang terjadi saat ini. Oleh karenanya, fenomena ini tak perlu dikhawatirkan dan tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi,” kata Fithra, Selasa (3/2/2026).

Baca Juga:
Efek Diskon Awal 2025, Inflasi Tarif Listrik Januari 2026 Tembus Dua Digit

Dia menambahkan, low-base effect ini berasal dari kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen bagi golongan tertentu yang diterapkan pemerintah pada Januari–Februari 2025. 

Baca Juga:
Airlangga Sebut Inflasi Kuartal I-2026 Berpotensi Tertekan, Ini Penyebabnya

Pada periode tersebut, kata dia, kebijakan diskon tarif listrik menekan komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) dan berimbas pada penurunan level IHK.

Sebagai buktinya, IHK Januari 2025 tercatat di level 105,99 poin atau turun dari 106,8 poin pada Desember 2024, mencerminkan adanya deflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,76 persen.

Namun, pada awal 2026, pemerintah tidak lagi memberlakukan diskon listrik awal tahun.

Seiring normalisasi tarif tersebut, IHK Januari 2026 pun meningkat menjadi 109,75 poin, seolah-olah melonjak tajam dibanding Januari tahun lalu.

“Ini menegaskan bahwa inflasi Januari 2026 lebih disebabkan oleh penyesuaian harga yang diatur pemerintah,” kata dia.

Lebih lanjut, Fithra menilai, dinamika harga barang dan jasa secara umum masih relatif terkendali.

Hal ini tercermin dari inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kesehatan, pendidikan, serta restoran yang masing-masing hanya tumbuh di kisaran 1 persen secara tahunan.

Meski demikian, dia memperkirakan low-base effect masih akan memengaruhi inflasi sepanjang triwulan I 2026, seiring faktor musiman seperti penyesuaian harga pangan dan meningkatnya kebutuhan menjelang Idulfitri.

“Namun, tekanan tersebut diproyeksikan bersifat sementara dan berangsur mereda pada kuartal II 2026,” kata dia.

(Nur Ichsan Yuniarto)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Elon Musk Resmi Gabungkan SpaceX dengan xAI
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Rencana Prabowo Bertemu Trump, Seskab Teddy Sebut Masih dalam Pembahasan
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Persib Berpacu dengan Waktu, Siap Boyong Eks Kiper Olympique Marseille Romain Cagnon untuk Gantikan Adam Przybek
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Profil Jeffrey Hendrik Pjs Direktur Utama BEI Kala IHSG Diguncang MSCI
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi Dasarian I Februari 2026, Ini Wilayah Kategori Siaga dan Waspada
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.