Wall Street Perkasa kala Harga Kripto, Emas, dan Perak Runtuh

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin (2/1) meskipun investor masih memantau tekanan pada aset safe haven dan kripto.

Dow Jones Industrial Average naik 515,19 poin atau 1,05% ke level 49.407,66. Lalu S&P 500 menguat 0,54% dan ditutup di 6.976,44 dan Nasdaq Composite naik 0,56% ke 23.592,11.

Di sisi lain, Bitcoin turun ke bawah level US$ 80.000 untuk pertama kalinya sejak April, seiring dengan investor yang mulai mengurangi risiko setelah koreksi tajam pada emas dan perak pada Jumat lalu. Harga perak juga anjlok sekitar 30% dalam satu hari, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1980, sementara kontrak berjangka emas merosot sekitar 11%.

Meski begitu kripto dan logam mulia mulai memangkas penurunan dari level terendahnya pada Senin sehingga membantu meredakan tekanan di pasar saham. Bitcoin terakhir diperdagangkan di kisaran US$ 78.000, sementara emas spot dan perak spot masing-masing turun sekitar 4% dan 5%. Sementara itu, saham proksi Bitcoin Strategy tercatat turun 6,7%.

Perhatian investor juga tertuju pada Nvidia di tengah meningkatnya pertanyaan terkait prospek perdagangan kecerdasan buatan (AI). The Wall Street Journal melaporkan rencana Nvidia untuk berinvestasi US$ 100 miliar di OpenAI berhenti karena manajemen perusahaan ragu terhadap kesepakatan tersebut. Imbas dari hal itu saham Nvidia turun hampir 3%.

“Menurut kami, tren besar yang sebagian besar positif masih tetap berlaku,” kata Kepala Investasi Orion, Tim Holland, dikutip CNBC, Selasa (3/2). 

Menurutnya fokus pasar saat ini tertuju pada laporan keuangan perusahaan, arah kebijakan fiskal, serta musim pelaporan laba. Lebih dari 100 perusahaan S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini, termasuk Amazon dan Alphabet yang sahamnya  juga bergejolak. Secara umum, musim laporan keuangan sejauh ini menunjukkan kinerja solid, meskipun beberapa saham tertekan pasca-rilis laba, termasuk Microsoft.

Sementara itu, Disney membukukan laba di atas ekspektasi analis, namun sahamnya justru turun 7% setelah perusahaan memperingatkan potensi hambatan dari penurunan jumlah wisatawan internasional ke taman hiburan domestik.

Lebih jauh Analis Deutsche Bank mencatat pertumbuhan laba korporasi berpeluang menjadi yang terkuat dalam empat tahun terakhir. Hingga saat ini, sekitar sepertiga perusahaan S&P 500 telah melaporkan kinerja dengan 78% di antaranya melampaui estimasi analis, menurut data FactSet.

“Isu utama yang menjadi kekhawatiran investor adalah valuasi, khususnya pada saham berkapitalisasi besar,” ujar Holland. 

Ia menilai pertumbuhan laba dua digit untuk kuartal kelima berturut-turut akan membantu meredakan kekhawatiran valuasi yang membayangi pasar dalam dua tahun terakhir.

 

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
150 Ide Nama Panjang untuk Anak Perempuan yang Cantik
• 15 jam lalutheasianparent.com
thumb
Pengamat: IHSG Tertekan Kekhawatiran Outflow Dana Asing Efek Lanjutan MSCI
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Belajar dari Kasus Bayi Kejang di Pesawat, Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Workshop Puding Pakcoy, Cara Sandiaga Uno Ciptakan Lapangan Kerja di Sukabumi
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Bukan Soal Uang! Quartararo Kirim Sinyal Keras ke Yamaha saat Honda Buka Negosiasi Diam-diam
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.