Presiden Amerika Serikat Donald Trump memangkas tarif impor AS atas produk India menjadi 18 persen dari sebelumnya total 50 persen. Keputusan ini diambil sebagai imbalan karena India menghentikan pembelian minyak dari Rusia dan menurunkan berbagai hambatan perdagangan.
Trump mengumumkan kesepakatan tersebut melalui media sosial usai melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Dia menyebut India akan mulai membeli minyak dari AS dan berpotensi juga dari Venezuela.
Sebelumnya, produk India dikenakan total tarif 50 persen oleh AS, yang terdiri dari tarif resiprokal sebesar 25 persen serta tambahan bea hukuman 25 persen yang diberlakukan Washington sebagai sanksi atas pembelian minyak Rusia oleh India.
"Atas dasar persahabatan dan rasa hormat kepada Perdana Menteri Modi, serta sesuai permintaannya dan akan mulai berlaku segera, kami menyepakati perjanjian dagang antara AS dan India. Dalam kesepakatan ini, AS akan memberlakukan tarif resiprokal yang lebih rendah, memangkasnya dari 25 persen menjadi 18 persen," katanya dikutip dari Truth Social, Selasa (3/2).
Seorang pejabat Gedung Putih kepada Reuters mengatakan AS akan mencabut bea hukuman tambahan sebesar 25 persen atas seluruh impor dari India yang sebelumnya dikenakan karena pembelian minyak Rusia. Bea tersebut menumpuk di atas tarif resiprokal 25 persen yang sudah lebih dulu berlaku.
Saham perusahaan-perusahaan besar India yang tercatat di bursa AS langsung menguat menyusul kabar tersebut. Saham perusahaan teknologi Infosys ditutup naik 4,3 persen, Wipro melonjak 6,8 persen, HDFC Bank naik 4,4 persen, sementara ETF iShares MSCI India menguat 3 persen.
Pengumuman Trump juga menambah sentimen positif di pasar, seiring penguatan saham sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan, yang mendorong indeks-indeks utama Wall Street bergerak ke zona hijau.
Trump mengatakan Modi juga berkomitmen agar India membeli produk Amerika dalam jumlah jauh lebih besar, termasuk lebih dari USD 500 miliar energi AS, seperti batu bara, serta produk teknologi, pertanian, dan barang lainnya.
Sebelum Trump kembali menjabat dan menaikkan tarif AS ke level dua digit tahun lalu, India termasuk negara dengan tarif tertinggi di dunia, dengan tarif sederhana rata-rata 15,6 persen dan tarif efektif 8,2 persen, menurut data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Detail Masih MinimUnggahan Trump di Truth Social tidak merinci sejumlah hal penting, seperti kapan tarif baru mulai berlaku, tenggat waktu India menghentikan pembelian minyak Rusia, bentuk penurunan hambatan dagang, serta produk-produk AS yang akan dibeli India.
Hingga Senin sore waktu setempat, Gedung Putih belum menerbitkan proklamasi presiden atau pengumuman resmi di Federal Register yang diperlukan agar kebijakan tersebut berlaku secara hukum. Pemerintah India dan Kedutaan Besar Rusia di Washington juga belum memberikan tanggapan resmi.
Kesepakatan ini menyelaraskan tarif India dengan negara-negara Asia lainnya di kisaran 15-19 persen, kata ekonom Emkay Global, Madhavi Arora. Menurutnya, langkah ini akan menghilangkan tekanan besar terhadap ekspor India dan nilai tukar rupee.
Pasar keuangan India sebelumnya terpukul sejak tarif AS diberlakukan, menjadikannya pasar dengan kinerja terburuk di antara negara berkembang sepanjang 2025, disertai arus keluar dana asing dalam jumlah besar.
Ucapan Terima Kasih dari ModiKeputusan Trump langsung direspons Modi di media sosial. Dia mengaku senang atas hasil negosiasi mereka.
“Senang berbicara dengan sahabat saya Presiden Trump hari ini. Gembira produk Made in India kini dikenakan tarif yang lebih rendah sebesar 18 persen. Terima kasih besar kepada Presiden Trump atas nama 1,4 miliar rakyat India," ujar Modi dalam unggahan di platform X.
Menteri Perdagangan India Piyush Goyal mengatakan kesepakatan tersebut akan semakin mendekatkan perekonomian kedua negara dan membuka peluang besar bagi petani, UMKM, wirausaha, serta tenaga kerja terampil India.
Kesepakatan ini muncul kurang dari sepekan setelah India menandatangani perjanjian dagang dengan Uni Eropa yang akan menghapus atau menurunkan tarif atas 96,6 persen nilai perdagangan barang.
India, importir minyak terbesar ketiga dunia, selama ini sangat bergantung pada impor untuk sekitar 90 persen kebutuhan energinya. Pembelian minyak murah dari Rusia sejak invasi ke Ukraina pada 2022 membantu menekan biaya impor India, meski menuai tekanan dari negara-negara Barat.
Namun, India belakangan mulai memperlambat pembelian minyak Rusia. Impor pada Januari tercatat sekitar 1,2 juta barel per hari dan diperkirakan turun menjadi 1 juta barel per hari pada Februari serta 800 ribu barel per hari pada Maret, menurut laporan Reuters.



