Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah langkah yang ditempuh otoritas bursa Tanah Air kembali membuat investor asing masuk pasar saham. Pada perdagangan Senin (2/2/2026) kala otoritas mengumumkan hasil dialog dengan MSCI, tercatat net buy asing sebesar Rp654,83 miliar.
Neraca transaksi asing kembali positif usai melalui perdagangan dengan torehan net sell beruntun sejak pengumuman MSCI 27 Januari 2026 yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia periode Maret 2026.
Walau asing sudah masuk, secara year to date (YtD) pasar saham Indonesia masih menorehkan net sell Rp9,22 triliun. Merunut kinerja pasar sejak 27 Januari 2026, pasar mencatat net sell asing Rp1,61 triliun tepat di hari pengumuman pembekuan indeks saham Indonesia oleh MSCI. Selanjutnya pada 28 Januari 2026, terdapat net sell asing Rp6,17 triliun, kemudian Rp4,63 triliun pada perdagangan 29 Januari 2026, dan Rp1,53 triliun pada 30 Januari 2026.
Dalam sepekan lalu, 26-30 Januari 2026, transaksi jual asing mencapai Rp89,09 triliun, sedangkan transaksi beli hanya Rp75,17 triliun. Alhasil, dalam pekan itu tercatat net sell asing sebesar Rp13,92 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai arus masuk dana asing dalam waktu dekat masih belum pasti karena sebagian besar pelaku global memilih bersikap wait and see terhadap hasil dialog dengan MSCI serta efektivitas langkah stabilisasi pasar.
"Namun, jika komunikasi kebijakan berjalan positif dan sentimen mulai membaik, peluang masuknya dana asing kembali tetap terbuka," ujar Abida, Senin (2/2/2026).
Baca Juga
- Setelah OJK-BEI Bertemu MSCI, Ini Formula untuk Selamatkan Lantai Bursa
- Proposal OJK-BEI ke MSCI: Data Investor dengan Kepemilikan Saham 1% Bakal Dibuka ke Publik
- Hasil Pertemuan OJK-BEI dengan MSCI: Data Investor Dirinci Jadi 27 Subsektor
Pada Senin (2/2) sore, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan hasil dialog dengan MSCI, bahwa otoritas bursa Indonesia telah menyampaikan proposal perbaikan transparansi data pasar. Perbaikan itu antara lain adalah perincian data investor dari 9 kelas menjadi 27 subkelas, hingga membuka data investor sampai level kepemilikan 1% saham.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan apabila investor melihat hasil pertemuan BEI-OJK dengan MSCI itu sebagai hal yang sangat positif, investor asing akan secara masif masuk kembali ke pasar.
Menurutnya, capital inflow tersebut juga dipengaruhi oleh sentimen global. Pasalnya, dia melihat investor asing kini sedang menjauhi pasar negara berkembang karena nominasi bos baru The Fed, Kevin Warsh, dianggap hawkish alias mendukung bunga tinggi. Hal ini memicu kenaikan yield obligasi AS dan penguatan dolar AS.
"Asing lebih mungkin melakukan rebalancing atau sekadar trading jangka pendek daripada melakukan akumulasi beli jangka panjang sebelum ada kepastian status indeks Indonesia," ujarnya.
Adapun, apabila proposal transparansi data investor yang diajukan OJK dan BEI ke MSCI tidak diterima, indeks saham Indonesia di MSCI terancam turun dari kelas emerging market ke frontier market. Apabila hal itu terjadi, potensi asing masuk ke saham RI semakin kecil.
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan melihat perkembangan diskusi antara otoritas bursa Indonesia dengan MSCI tersebut juga membuat investor asing wait and see. Menurutnya, saat ini investor asing sedang menunggu kondisi lebih stabil, volatilitas turun, serta ada kepastian bahwa langkah reformasi OJK-BEI benar-benar berjalan.
"Karena itu, bottom pasar juga masih belum terlihat jelas. Pasar butuh kejutan positif yang konkret supaya kepercayaan cepat membaik. Kalau tidak, investor bisa saja menunggu harga lebih rendah dulu," tandas Ekky.
Sebelumnya, Plt Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan pihaknya beserta Self Regulatory Organization (SRO) berkomitmen memenuhi semua proposal transparansi dan perbaikan data yang diminta MSCI, termasuk membuka data kepemilikan pemegang saham dengan porsi lebih dari 1%.
Kedua, OJK juga akan melakukan granularity atau lebih merinci klasifikasi investor pada data yang selama ini dilakukan pengelolaannya di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dari yang terbatas hanya di 9 tipe investor utama menjadi 27 sub tipe investor.
Berikutnya, OJK juga telah menyampaikan kepada MSCI terkait rencana penyesuaian batas free float dari 7,5% menjadi 15%.
"Jadi mudah-mudahan ini menjadi progres yang baik yang pada saatnya tentu melalui evaluasi akhir kita berharap akan mendapatkan konfirmasi penerimaan pada saat itu," ujarnya saat mengumumkan hasil pertemuan dengan MSCI, Selasa (2/2/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





