Perpustakaan Sekolah Rakyat: Dari Layar TVRI ke Ruang Literasi

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Perpustakaan Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang menyimpan buku, tetapi fondasi penting dalam membangun masa depan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.

Refleksi ini berawal dari dialog dalam program Jendela Negeri di TVRI bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” yang tayang pada Jumat, 30 Januari 2026, pukul 07.00–08.00 WIB. Acara tersebut menghadirkan E. Aminudin Aziz sebagai narasumber utama, dengan dipandu oleh Shiera Theresia dan Fahmi Andryan.

Dialog ini membahas secara mendalam peran strategis literasi dan perpustakaan dalam mendukung pendidikan anak-anak dari kelompok rentan melalui Sekolah Rakyat.

Saya menonton dialog tersebut bukan sebagai penonton biasa. Saya menyimaknya sebagai seseorang yang terlibat langsung dalam penguatan perpustakaan dan ekosistem pembelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Karena itu, percakapan antara host dan Prof. Amin bukan sekadar tayangan pagi hari, melainkan cermin dari tantangan nyata yang kami hadapi di lapangan. Bagi saya, tayangan ini menjadi pemantik refleksi tentang bagaimana kebijakan literasi harus diterjemahkan secara nyata di ruang-ruang belajar.

Literasi sebagai Ruang Perubahan

Sejak awal, dialog tersebut menegaskan satu hal penting: Sekolah Rakyat tidak boleh menjadi ruang singgah. Ia harus menjadi ruang perubahan. Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal, tetapi harus membentuk cara berpikir dan kepercayaan diri anak.

Dengan demikian, saya melihat tantangan terbesar Sekolah Rakyat bukan semata soal gedung, seragam, atau bantuan sosial. Tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa proses belajar benar-benar mengubah cara anak memandang dirinya dan masa depannya.

Kita masih menjumpai siswa yang masuk jenjang menengah tanpa kemampuan membaca yang memadai. Ada yang belum mengenal alfabet secara utuh. Ada pula yang mampu membaca, tetapi tidak memahami makna. Jika kondisi ini dibiarkan, sekolah hanya akan menjadi rutinitas administratif, bukan wahana pembebasan.

Dalam dialog tersebut juga ditegaskan bahwa literasi adalah kemampuan mengolah informasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Ini bukan definisi akademis, melainkan fondasi kebijakan untuk memutus rantai kemiskinan struktural.

Perpustakaan, Teknologi, dan Adaptasi Zaman

Karena itu, peran perpustakaan menjadi sangat strategis. Perpustakaan diposisikan sebagai ruang aman dan ruang tumbuh. Di sanalah anak bisa belajar tanpa rasa malu, tanpa tekanan kelas formal, dan tanpa stigma.

Dialog TVRI juga menyoroti pentingnya pendekatan hibrida: menggabungkan buku cetak dan platform digital. Ini bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi adaptasi terhadap realitas generasi hari ini. Anak-anak hidup di dunia gawai. Menjauhkan mereka dari teknologi adalah ilusi.

Melalui anjungan baca digital, karya siswa dapat dipublikasikan, dibaca bersama, dan dikritisi secara sehat. Anak tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan. Inilah bentuk literasi digital yang substansial, bukan kosmetik.

Dalam praktiknya, perpustakaan Sekolah Rakyat kini menggabungkan buku cetak dan layanan digital sebagai ruang belajar generasi baru. Teknologi tidak menjauhkan anak dari membaca, tetapi justru menguatkan literasi dan daya pikir kritis mereka.

Dari Wacana ke Praktik Lapangan

Gagasan-gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana. Dalam berbagai pertemuan lintas kementerian, rapat bersama DPR, dan kunjungan kerja, penguatan perpustakaan Sekolah Rakyat terus menjadi bagian dari agenda kebijakan. Bantuan sarana, koleksi, dan infrastruktur diberikan sebagai fondasi awal.

Namun, pengalaman kami menunjukkan bahwa sarana saja tidak cukup. Ketika perpustakaan dikelola secara aktif, perubahan mulai terlihat. Anak yang semula pasif mulai berani bertanya. Anak yang enggan membaca mulai tertarik karena menemukan bacaan yang sesuai minatnya.

Pada hari tayangan TVRI itu juga, saya memimpin kegiatan pendampingan pemanfaatan koleksi Perpustakaan Sekolah Rakyat secara daring bersama para kepala sekolah dan pengelola perpustakaan dari 150 sekolah penerima bantuan Perpustakaan Nasional. Pertemuan ini menjadi ruang evaluasi bersama tentang pemanfaatan fasilitas secara nyata.

Dalam forum tersebut, saya menegaskan bahwa buku, rak, dan perangkat digital bukanlah tujuan akhir kebijakan. Saya mengajukan satu pertanyaan mendasar: apakah dengan hadirnya sarana yang lengkap, kegiatan literasi akan otomatis bergerak? Jawabannya tentu tidak.

Perpustakaan tidak akan hidup hanya karena infrastrukturnya memadai. Ia akan hidup jika ada aktivitas yang terencana, interaksi berkelanjutan, dan komitmen bersama antara pengelola, guru, dan siswa.

Menjaga Perpustakaan Tetap Hidup

Melalui pendampingan ini, setiap sekolah didorong untuk menyusun agenda kegiatan literasi minimal satu tahun ke depan. Perpustakaan harus memiliki kalender program yang jelas—mulai dari membaca bersama, diskusi buku, kelas menulis, literasi digital, hingga proyek kreatif berbasis bacaan.

Laporan lapangan menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat memiliki potensi besar jika dikelola secara serius. Namun, keterbatasan anggaran, beban kerja guru, minimnya pustakawan profesional, dan tekanan administratif masih menjadi persoalan nyata.

Di sinilah pentingnya melihat literasi sebagai investasi nasional, bukan proyek sektoral. Sekolah Rakyat bukan sekadar program bantuan sosial, tetapi strategi jangka panjang untuk membangun mobilitas sosial.

Bagi saya, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak diukur dari seberapa sering ia dibahas di ruang publik, tetapi dari seberapa konsisten ia dibangun di ruang belajar sehari-hari. Ukurannya adalah apakah anak-anak benar-benar membaca, berpikir, berdiskusi, dan bertumbuh melalui perpustakaan yang hidup.

Literasi adalah alat emansipasi. Ia memberi suara kepada mereka yang selama ini terpinggirkan. Tanpa literasi yang berjalan nyata, bantuan pendidikan berisiko berhenti sebagai program administratif.

Masa depan anak-anak Sekolah Rakyat tidak boleh bergantung pada kebetulan. Ia harus dibangun dengan kesadaran, kebijakan yang berpihak, dan kerja kolektif yang konsisten di lapangan.

Jika literasi benar-benar kita jadikan fondasi, Sekolah Rakyat tidak hanya akan meluluskan siswa. Ia akan melahirkan generasi yang mampu keluar dari kemiskinan dengan martabat, daya pikir kritis, dan kepercayaan diri untuk menentukan masa depannya sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pasar Saham Terpukul, IHSG Ditutup Anjlok 4,88 Persen
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemprov Sulsel Gelontorkan Rp935 Miliar APBD dan Perkuat Dukungan APBN untuk Percepatan Pembangunan Luwu Raya
• 5 jam laluterkini.id
thumb
Dion Markx Tak Ciut Nyali, Siap Adu Kuat dengan Bek Senior Persib
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Evakuasi Kontainer Berjatuhan ke Laut, Operasional di Dermaga Jamrud Selatan Dihentikan
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Airlangga: Negosiasi Indonesia–AS Rampung, Tinggal Finalisasi Dokumen Hukum
• 11 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.