Bisnis.com, JAKARTA—Bursa aset kripto PT Central Finansial X (CFX) berencana memangkas biaya transaksi secara bertahap untuk pengembangan ekosistem industri di Tanah Air.
Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, menyebutkan tingginya biaya transaksi antara platform pedagang yang berizin resmi dari OJK dibandingkan dengan platform offshore tidak berizin telah memicu capital outflow yang signifikan. Untuk menarik pasar ini, Indonesia memerlukan insentif yang lebih kompetitif.
“Saat ini masih ada ketimpangan biaya transaksi yang cukup terasa antara platform dalam negeri dan global, inilah yang sering kali membuat pengguna kita menoleh ke luar. Kunci untuk menarik kembali minat konsumen lokal adalah dengan menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif," jelas Subani dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).
Sebagai upaya Bursa Kripto CFX membuat pasar Indonesia lebih kompetitif, Subani menyatakan pihaknya berinisiatif untuk mengurangi biaya transaksi bursa yang berlaku secara bertahap.
Saat ini biaya transaksi bursa adalah 0,04% per transaksi. Subani mengatakan biaya tersebut akan turun menjadi 0,02% pada 1 Maret 2026, lalu berlanjut menjadi 0,01% pada 1 Oktober 2026 .
"Bursa mendengar apa yang menjadi perhatian bagi konsumen dan PAKD. Dengan biaya transaksi yang lebih kompetitif, kita sedang membangun pangsa pasar yang lebih besar. Bila biaya transaksi di PAKD lokal semakin kompetitif, kita optimistis menarik kembali konsumen yang bertransaksi di platform offshore tidak berizin sehingga dapat memberikan dampak pada perekonomian nasional, melalui penambahan pendapatan negara termasuk pajak," ujar Subani.
Baca Juga
- Data Terbaru! RI Bisa Tukar Data Transaksi Kripto dengan 117 Negara
- Industri Kurang Kompetitif Jadi Alasan 72% Pedagang Kripto Masih Rugi
- Adopsi Kripto Indonesia Tumbuh, Bertumpu di Aset Besar
CFX juga menekankan perlunya dukungan untuk memperkuat posisi Indonesia di persaingan industri aset kripto global. Dukungan ini menjadi krusial untuk meningkatkan jumlah konsumen yang pada gilirannya juga akan berdampak pada ekonomi nasional. Demi mencapai tujuan tersebut diperlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan.
Namun demikian, struktur biaya transaksi yang kurang kompetitif saat ini memicu kekhawatiran karena konsumen Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga cenderung beralih ke platform offshore tidak berizin demi biaya yang lebih rendah.
Berdasarkan studi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), volume perdagangan oleh konsumen Indonesia yang dilakukan melalui platform offshore tidak berizin mencapai 2,6 kali lipat lebih besar dibandingkan platform berizin di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang perlu dioptimalkan agar industri aset kripto nasional memiliki daya saing.
Bursa Kripto CFX menyelenggarakan CFX Cryptalk di CFX Tower pada Selasa (2/2/2026), sebagai upaya meningkatkan daya saing ekosistem aset kripto nasional terhadap industri aset kripto global, khususnya pada aspek struktur biaya transaksi, serta mengeksplorasi potensi solusi untuk menjadikan pasar domestik semakin atraktif.
Dalam CFX Cryptalk edisi perdana tersebut, turut hadir Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK Djoko Kurnijanto, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK periode 2017–2022 dan saat ini menjabat sebagai Komisaris Bursa Kripto CFX Hoesen, Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, dan Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) Robby.
Robby turut menegaskan pentingnya strategi untuk menahan minat konsumen agar tidak beralih ke platform asing. Biaya transaksi yang lebih kompetitif dibutuhkan pedagang untuk meningkatkan volume transaksinya.
Penurunan biaya menjadi insentif bagi para konsumen di Indonesia, sehingga mereka lebih aktif bertransaksi di PAKD dan tidak lagi bertransaksi di luar negeri.
Menanggapi penurunan biaya transaksi bursa, Robby menyebutkan penurunan akan memiliki efek yang positif untuk konsumen di Indonesia.
“Biaya yang lebih kompetitif membuat konsumen lebih aktif bertransaksi, sehingga mereka tidak lagi menggunakan platform offshore tidak berizin. Kami berterima kasih kepada Bursa Kripto CFX, karena dengan hadirnya biaya bursa yang lebih kompetitif bisa memberikan kenyamanan bagi pengguna untuk bertransaksi,” tutup Robby.
Ke depannya, CFX Cryptalk diharapkan bisa menjadi forum yang mempertemukan perspektif regulator dan bursa untuk membahas arah penguatan daya saing industri aset kripto nasional secara komprehensif. Forum ini sekaligus merumuskan pandangan bersama dalam membangun ekosistem perdagangan yang efisien, likuid, berintegritas, dan semakin menarik bagi investor global.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F03%2F58e9399f2a0e5fb0ab25408057ff96dd-IMG_20260203_WA0039.jpg)
