Tumbuh di Tengah Ketidakpastian  Global

harianfajar
12 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Andi Killang*

Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian (uncertainty)— mulai dari perlambatan ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga fragmentasi perdagangan internasional — Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, capaian pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen pada 2025 dan proyeksi 5,4 persen pada 2026 menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional masih cukup tangguh. Namun, menjaga pertumbuhan bukan semata soal angka.

Di dalamnya termasuk memastikan kualitas pertumbuhan tersebut berkelanjutan, inklusif, dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, ekspor, investasi, dan pariwisata menjadi tiga pilar strategis yang harus dikelola secara terpadu.

Perdagangan internasional tetap menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi Indonesia. Surplus neraca perdagangan yang terjaga dalam beberapa tahun terakhir memberi ruang stabilitas nilai tukar. Sekaligus memperkuat kepercayaan pasar.

Akan tetapi, tantangan utama ekspor Indonesia masih terletak pada struktur yang belum sepenuhnya berbasis nilai tambah. Ketergantungan pada komoditas primer membuat kinerja ekspor rentan terhadap fluktuasi harga global. Karena itu, transformasi struktural ekspor menjadi keharusan — bukan pilihan.

UE–CEPA

Dalam konteks tersebut, penyelesaian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU–CEPA) menjadi momentum strategis. Pemerintah menargetkan peningkatan ekspor hingga 2,5 kali lipat ke pasar Uni Eropa, sebuah kawasan dengan daya beli tinggi dan pasar yang stabil.

UE–CEPA tidak sekadar membuka akses pasar, tetapi mendorong Indonesia untuk bertransformasi menuju: industri manufaktur berdaya saing, produk bernilai tambah, produk halal, serta ekonomi hijau dan berkelanjutan.

Dengan catatan, keberhasilan CEPA sangat bergantung pada kesiapan industri nasional, termasuk UMKM, dalam memenuhi standar kualitas, keberlanjutan, dan ketertelusuran yang ketat di pasar Eropa.

Perlu disadari pula, ekspor yang kuat tidak mungkin tercapai tanpa investasi yang sehat. Realisasi investasi, baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), menjadi motor penting dalam menciptakan kapasitas produksi baru.

Investasi yang berkualitas tidak hanya membawa modal, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan standar industri, serta integrasi Indonesia ke rantai pasok global. Lalu Insentif fiskal, kemudahan perizinan, dan kepastian hukum menjadi faktor kunci agar investasi yang masuk bersifat jangka panjang dan produktif.

Di sisi lain, sektor jasa — khususnya pariwisata — menunjukkan kebangkitan signifikan. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara memberikan kontribusi nyata terhadap devisa, lapangan kerja, dan ekonomi daerah.

Di balik pertumbuhan tersebut, Indonesia masih menghadapi defisit neraca jasa yang cukup besar. Ketergantungan terhadap layanan digital asing, sistem pembayaran internasional, hingga logistik global menyebabkan sebagian besar devisa kembali keluar negeri.

Inilah paradoks sektor jasa: tumbuh secara kuantitatif, namun belum optimal secara struktural. 

Ekosistem

Agar pariwisata benar-benar menjadi penggerak pertumbuhan berkelanjutan, Indonesia perlu memperkuat ekosistem jasa domestik melalui: pemanfaatan platform digital nasional, integrasi UMKM lokal dalam rantai pariwisata, penguatan industri kreatif dan ekonomi budaya, serta peningkatan kualitas SDM pariwisata.

Dengan strategi ini, pariwisata dapat berfungsi sebagai ekspor jasa bernilai tinggi, sekaligus mengurangi kebocoran devisa. Pertumbuhan ekonomi nasional juga tidak dapat hanya bertumpu pada pusat. Daerah memiliki peran strategis sebagai motor pertumbuhan baru. Baik melalui ekspor produk unggulan, pengembangan pariwisata, maupun penyerapan investasi.

Ketika daerah mampu membangun ekosistem ekonomi yang terhubung dengan pasar global, maka pertumbuhan nasional menjadi lebih merata dan tahan terhadap guncangan eksternal.

Menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca-2025 menuntut strategi yang lebih adaptif dan terintegrasi. Ekspor bernilai tambah, investasi berkualitas, dan pariwisata berbasis ekonomi domestik harus berjalan dalam satu arah kebijakan.

UE–CEPA membuka peluang besar, namun hanya akan berdampak nyata jika diiringi kesiapan industri dan UMKM. Investasi harus diarahkan untuk memperkuat struktur ekonomi, bukan sekadar mengejar angka. Sementara pariwisata harus ditransformasikan menjadi ekspor jasa yang memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa.

Dengan sinergi kebijakan yang konsisten dan keberanian melakukan transformasi struktural, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global (*).

*Penulis adalah Praktisi Perdagangan Internasional & Pariwisata Global


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ekspor Sawit Desember 2025 Melonjak 102,23 Persen, Total Capaian Tembus USD24,42 Miliar
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Atap Kelas MI Miftahul Falah di Bogor Ambruk, Siswa Belajar di Rumah Sepekan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Ancam Hal Buruk Bisa Terjadi Jika Iran Tak Capai Kesepakatan
• 10 jam laludetik.com
thumb
AFC FUTSAL ASIAN CUP 2026: Indonesia Melaju ke Semifinal usai Kalahkan Vietnam 3-2
• 26 menit lalumerahputih.com
thumb
7 Fakta Operasi Keselamatan Jaya 2026, Jelang Ramadhan
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.