Analisis : Siapa yang Semakin Dekat dengan Xi Jinping, Semakin Berbahaya

erabaru.net
11 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pekan lalu, Jenderal Zhang Youxia—perwira aktif berpangkat tertinggi di militer Partai Komunis Tiongkok (PKT)—tiba-tiba disingkirkan. Ini bukan sekadar satu lagi berita tentang pejabat tinggi yang tumbang, melainkan kembali mengingatkan dunia: dalam kediktatoran komunis, yang paling ditakuti bukanlah musuh, melainkan orang sendiri yang tidak cukup patuh.

Dalam sistem komunis, tentara bukanlah milik negara, melainkan milik partai—lebih tepatnya, milik pemimpin tertinggi. Untuk mempertahankan “takhta”, hanya ada satu hukum besi: kendali militer harus berada di tangan sendiri, dan harus digenggam sekuat mungkin hingga “buku-buku jari memutih”.

Masalahnya, para diktator paling gemar menuntut “kesetiaan mutlak”, tetapi kesetiaan mutlak justru mustahil diverifikasi secara mutlak. Hari ini seseorang tampak setia—besok apakah ia akan berbalik? 

Sekarang ia meneriakkan slogan—siapa tahu di balik layar ia sedang merencanakan sesuatu? Akibatnya, pencarian kesetiaan mutlak tidak membawa ketenangan, melainkan ketakutan yang semakin dalam dan kecurigaan yang semakin parah, yang pada akhirnya bermuara pada gelombang demi gelombang pembersihan politik.

Ini bukan gangguan psikologis pribadi Xi Jinping. Ini adalah logika struktural dari kekuasaan komunis. Dari Stalin hingga Mao Zedong, dari Kim Jong-un hingga Xi Jinping—semakin terkonsentrasi kekuasaan, semakin semua orang dituntut untuk berlutut lebih rendah. Dan semakin keras tuntutan itu, semakin mudah pula orang dicurigai “berlutut tidak cukup tulus”.

Inti dari rezim komunis adalah seorang pemimpin tertinggi yang memonopoli seluruh kekuasaan—partai, negara, militer, kepolisian—semuanya harus tunduk pada satu orang. Namun yang ironis, sekejam apa pun ia, tetap harus mengandalkan para pejabat tinggi untuk mengeksekusi perintah. Dan orang-orang inilah yang memegang senjata, pasukan, intelijen, serta kendali atas mesin militer.

Di sinilah kontradiksi muncul:  Orang yang paling dekat dengan kekuasaan adalah yang paling berguna, sekaligus paling berbahaya.

Artinya, semakin cakap seseorang, semakin besar peluangnya dianggap sebagai ancaman; semakin tinggi wibawanya, semakin mudah ia dipandang sebagai calon penantang yang bisa “mendirikan tungku sendiri”.

Karena itu, seorang diktator pada akhirnya pasti terjerumus ke dalam paranoia yang tak terhindarkan—selalu merasa ada orang yang merencanakan pembunuhan, bermain dua muka, atau menjalin hubungan dengan kekuatan asing. Maka “kekuatan asing” menjadi alat yang paling ampuh: begitu seseorang dicap berkhianat dan bersekongkol dengan musuh luar, pertarungan kekuasaan yang paling kejam pun bisa dibungkus sebagai tindakan paling patriotik.

Skenario ini sudah lama dimainkan Stalin. Pada 1937, Marsekal Tukhachevsky—jenderal terbaik Tentara Merah Soviet—dituduh bersekongkol dengan Nazi Jerman dan merencanakan penggulingan Stalin. Tuduhan itu palsu, tetapi itu tidak penting. Yang penting adalah: ia terlalu cakap, terlalu berwibawa, dan terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. Selama ia hidup, Stalin tidak bisa tidur nyenyak.

Pada masa Pembersihan Besar, Stalin sangat gemar menangkap “kelompok Trotskyis”, karena mereka memiliki koneksi internasional dan hubungan luar negeri—mudah dicap sebagai agen asing. Dari lima marsekal Uni Soviet, tiga dibunuh. Dua sisanya selamat karena alasan yang sangat realistis: kemampuan militer mereka rendah dan tidak menimbulkan ancaman politik. Dengan kata lain, tidak cukup kuat justru lebih aman.

Tiongkok tentu tidak menjadi pengecualian. Sejak 1949, pembersihan di tubuh militer PKT terjadi berulang kali, dengan ketakutan yang sama: apakah orang yang memegang senjata suatu hari akan mengarahkan moncongnya kepada pemimpin?

Pada era Mao Zedong, yang dihancurkan sering kali bukan orang bodoh atau tidak kompeten, melainkan mereka yang “tidak cukup berlutut”. Peng Dehuai hanya karena mengikuti Khrushchev mengkritik Lompatan Jauh ke Depan dan komune rakyat, langsung dicap anti-partai dan karier politiknya tamat seketika. Bahkan Lin Biao—pewaris kekuasaan yang ditunjuk Mao sendiri—akhirnya dituduh merencanakan kudeta dan tewas dalam kecelakaan pesawat misterius saat terbang menuju Moskow.

Ketakutan Mao bukan tanpa sebab. Setelah “Insiden Malinovsky” pada 1964, Mao sepenuhnya yakin bahwa kudeta militer yang didukung kekuatan asing bukanlah fiksi, melainkan kenyataan.

Pada Oktober tahun itu, Partai Komunis Soviet menggulingkan Khrushchev melalui kudeta tanpa pertumpahan darah. Beberapa minggu kemudian, Zhou Enlai dan He Long mengunjungi Moskow untuk menjajaki kemungkinan rekonsiliasi pasca-Khrushchev. 

Menteri Pertahanan Soviet Malinovsky—yang pernah memimpin pasukan Soviet merebut Tiongkok Timur Laut dan mengenal baik Lin Biao serta PKT—secara terang-terangan mengatakan kepada He Long bahwa hubungan Tiongkok–Soviet telah dirusak oleh Khrushchev dan Mao Zedong. “Kami orang Soviet sudah menyingkirkan Khrushchev. Kalian orang Tiongkok seharusnya juga menyingkirkan Mao Zedong.”

Ketika Mao mendengar ini, ia murka dan panik. Kalimat tersebut menancap seperti duri yang tak pernah bisa dicabut dari benaknya, menjadi halaman penting dalam sejarah PKT, dan memicu konsekuensi politik yang besar dan bencana.

Lebih ironis lagi, paranoia Mao akhirnya menghancurkan bahkan orang paling setia dalam sistem. Liu Shaoqi—seorang aparat yang sangat loyal—tidak bisa diselamatkan. Mao mencapnya sebagai “pengkhianat, mata-mata, dan perusak buruh”, menyebutnya Khrushchev yang bersembunyi di sisinya sendiri. 

Liu akhirnya disiksa hingga mati pada masa Revolusi Kebudayaan. Di sinilah kekejaman rezim komunis mencapai puncaknya: semakin dekat dengan inti kekuasaan, semakin cepat mati.

Setelah Mao meninggal dunia, logika ini tidak berhenti—bahkan terus dipertajam. Zhao Ziyang bukan seorang perwira militer, tetapi bernasib sama. Ia mengatakan kebenaran kepada Gorbachev: Tiongkok bukan sistem kepemimpinan kolektif; meski berbicara soal “penghapusan jabatan seumur hidup” dan “peremajaan kader”, Deng Xiaoping-lah penguasa tertinggi yang memerintah dari balik layar. Ditambah lagi, saat peristiwa 4 Juni, Zhao sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat menolak memberi perintah pembantaian. “Tidak cukup kejam” dan “terlalu jujur” langsung menjatuhkan vonis mati politik baginya.

Di bawah Xi Jinping, pembersihan di militer bukan saja tidak berhenti, tetapi semakin ganas. Sejak berkuasa pada 2012, lebih dari seratus perwira tinggi PLA telah disingkirkan—skala terbesar sejak Revolusi Kebudayaan. Secara formal disebut “anti-korupsi”, tetapi sejatinya lebih menyerupai operasi pembersihan ranjau politik: siapa yang semakin dekat dengan Xi Jinping, semakin berbahaya.

Di Tiongkok, kursi Wakil Ketua Komisi Militer Pusat mungkin adalah salah satu kursi paling berbahaya. Karena memegang kekuasaan nyata dan berada paling dekat dengan pemimpin tertinggi, setiap hari harus “bernapas di samping paranoia” sang pemimpin. Sejak 1949, sembilan Wakil Ketua KMP telah dibersihkan, sebagian besar dituduh berkhianat dan bersekongkol dengan musuh.

Pada masa Xi, Guo Boxiong dan Xu Caihou—yang baru pensiun—lebih dulu tumbang. Pada 2023, terjadi pembersihan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya: dari komandan Pasukan Roket, pejabat pengadaan persenjataan, hingga komandan wilayah militer. Bahkan orang-orang yang dipromosikan sendiri oleh Xi ikut disingkirkan.

Pada 2025, He Weidong dan Miao Hua juga dibersihkan. Kini giliran Zhang Youxia—sekutu lama Xi dan sesama “pangeran merah”. Ini semakin mencolok, karena ketika bahkan kelompok loyalis pun disingkirkan, itu menunjukkan satu hal: Xi Jinping tidak lagi mencari “orang jahat”, melainkan mencari orang yang membuatnya merasa tidak aman.

Yang patut dicermati, kali ini tuduhan tampaknya meningkat ke level paling tua dan paling mematikan dalam rezim komunis: berkhianat dan bersekongkol dengan musuh asing. Ada kabar yang sengaja dibocorkan bahwa Zhang mungkin dituduh membocorkan rahasia nuklir kepada Amerika Serikat. Tuduhan semacam ini sangat efektif secara politik: dengan dalih “menjaga keamanan negara”, perebutan kekuasaan paling telanjang dapat dikemas sebagai tindakan paling suci dan benar.

Inilah logika akhir pembersihan komunis: semakin tinggi posisi Anda, semakin besar kemungkinan Anda dicap sebagai pengkhianat. Dalam sistem seperti ini, bertahan hidup tidak ditentukan oleh kemampuan, integritas, atau jasa—melainkan satu hal saja: apakah Anda bisa terus menghindari ketakutan pemimpin tertinggi dan tidak menarik perhatiannya.

Karena di mata seorang diktator, ancaman terbesar bukanlah asing. Ancaman terbesar adalah orang yang paling dekat dengannya dan paling paham cara menarik pelatuk.

Pada akhirnya, pembersihan militer PKT tidak pernah benar-benar tentang “anti-korupsi”, melainkan naluri bertahan hidup sebuah rezim. Seorang diktator tidak sedang mengelola negara, melainkan mengelola ketakutan; bukan membangun militer kuat, melainkan memastikan moncong senjata tidak pernah diarahkan kepadanya. Nicolae Ceaușescu di Rumania gagal memahami hal ini—dan ia membayar mahal.

Inilah absurditas terbesar sistem komunis: ia selalu mengklaim paling stabil, paling bersatu, paling disiplin, tetapi hidup selamanya dalam ilusi bahwa “seseorang sedang merencanakan pembunuhan terhadapku”. Semakin dekat ke pusat, semakin berbahaya; semakin cakap, semakin mungkin disingkirkan; semakin loyal, semakin dicurigai.

Dalam logika politik seperti ini, Zhang Youxia bukan yang terakhir. Yang berikutnya tidak akan mengejutkan.

Karena dalam kediktatoran komunis, dosa terbesar bukanlah korupsi atau ketidakmampuan—
melainkan membuat pemimpin tertinggi tidak bisa tidur nyenyak.

(Dialihbahasakan dari unggahan Miles Maochun Yu atau Yu Maochun (mantan penasihat kebijakan Tiongkok untuk Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo)  di X / Editor penanggung jawab: Wen Bin)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profil Jeffrey Hendrik, Pjs Dirut BEI yang Siap Bawa Pasar Modal RI Berkelas Dunia
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kebiasaan yang Dilakukan Pasangan untuk Ciptakan Hubungan Sukses Menurut Para Ahli
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Jenazah Istri Jenderal Hoegeng Tiba di Rumah Duka di Depok
• 4 jam laluokezone.com
thumb
MBG Dilirik White House dan Rockefeller Institute Bikin Kaget Prabowo
• 14 jam laludetik.com
thumb
Duet Kiai Said Aqil-Gus Salam Dianggap Pantas Memimpin NU
• 12 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.