Jakarta, VIVA – Harga emas dunia terus menunjukkan penurunan tajam berturut-turut. Aksi jual besar-besaran aset logam mulia faktor utama penyebab harga emas ambruk.
Harga emas di pasar spot turun lebih dari 4 persen menjadi US$4,662.43 atau sekitar Rp 78,15 juta (estimasi kurs Rp 16.760 per dolar AS) per ons pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Posisi ini menandai koreksi hampir 18 persen dari rekor tertinggi emas di harga US$5.626 yang tercapai pada Kamis pekan lalu.
Melansir dari Barron's, penurunan emas yang terjadi pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, tercatat sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah pasar logam mulia. Emas terjun ke level 4.806,09 per ons.
Koeksi tajam juga terlihat pada sesi perdagangan Senin, 2 Februari 2026, di mana logam mulia berwarna kuning ini terpantau amblas ke area US$4.481,93 per ons pada pukul 02.06 waktu New York. Hingga pukul 21.21 waktu New York, emas masih mengalami tekanan sebesar 2,28 persen dan dibanderol di harga US$4.793,27 sekitar Rp 80,3 juta per ons, dikutip dari Gold Price.
- Freepik
Sebagaimana diketahui, emas diuntungkan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta kekhawatiran terhadap independensi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Kondisi ini mendorong minat investor memburu aset lindung nilai (safe haven) sepanjang bulan Januari 2026.
Namun, situasi berubah drastis setelah Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai kandidat pimpinan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kepastian tersebut meredam ketidakpastian pasar keuangan dan sekaligus menggerus permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Pasar juga mencermati potensi sikap hawkish Warsh terhadap kebijakan moneter. Pasalnya, hubungan antara suku bunga dan emas dikenal berlawanan arah, di mana kenaikan suku bunga cenderung menekan harga emas.
Selain itu, penunjukan Warsh memperkuat nilai tukar dolar AS. Penguatan dolar membuat harga komoditas menjadi lebih mahal bagi pembeli global, sehingga menekan permintaan emas dan perak di pasar internasional.
Head of European Equity Strategy Barclays, Emmanuel Cau, menilai koreksi saat ini lebih bersifat penyesuaian jangka pendek. Daya tarik emas sebagai aset lindung nilai belum sepenuhnya hilang.



