BANDUNG, KOMPAS- Operasi SAR pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat mengevakuasi 83 kantong jenazah hingga Senin (2/2/2026) malam. Kini, polisi menerjunkan tim untuk menyelidiki dugaan pidana di balik kejadian itu.
Sampai Selasa (3/2/2026), tim SAR gabungan yang berjumlah lebih kurang 3.200 orang kembali menyisir titik-titik dugaan adanya korban tertimbun. Sejauh ini, sudah 83 bagian jenazah ditemukan. Sedangkan sebelumnya, laporan orang hilang yang masuk ke Posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar sebanyak 108 orang.
Direktur Operasi SAR Basarnas Laksamana Pertama Bramantyo berharap cuaca mendukung pencarian pada Selasa ini. Tujuannya agar proses pencarian oleh tim SAR menggunakan alat berat dan peralatan lainnya berjalan lancar.
"Semoga hari ini cuaca mendukung sehingga tim dapat memaksimalkan pencarian hari dan mengevakuasi sebanyak mungkin korban yang diduga masih dalam pencarian, " kata Bramantyo.
Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Hendra Rochmawan menuturkan, 58 jenazah korban longsor Pasirlangu yang telah teridentifikasi. Tim DVI terus bekerja dengan hingga dini hari untuk mengidentifikasi para korban.
Kendala utama saat ini, kata Hendra, adalah pembusukan pada jenazah. Alasannya, jenazah telah berada di atas enam hari.
"Sebanyak 16 kantong jenazah saat ini berada di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat dan Rumah Sakit Sartika Asih untuk dilakukan pencarian data postmortem berupa DNA pembanding," tuturnya.
Hendra menambahkan, pihaknya tengah menelusuri adanya unsur pidana dalam peristiwa ini, seperti dugaan alih fungsi lahan. Hal ini telah dikoordinasikan dengan Pemprov Jabar dan Badan Geologi.
"Lokasi longsor berada di bawah kaki gunung. Karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut terkait batas wilayah yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk penanaman sayur-sayuran, " tuturnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika terus melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengoptimalkan pencarian korban longsor di Cisarua.
OMC dilaksanakan dengan cara menaburkan kapur tohor atau kalsium oksida (CaO) di awan yang dalam fase pertumbuhan. Kapur tohor akan mengeluarkan panas sehingga mengganggu pertumbuhan awan dan hujan menjadi tertunda.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu mengatakan, OMC juga dilaksanakan tiga kali setiap hari di lokasi longsor. Pelaksanaan OMC dapat mengurangi hujan hingga 30 persen.
Menurut Teguh, potensi pertumbuhan awan di lokasi longsor tergolong sangat tinggi karena saat ini puncak musim hujan. BMKG memperkirakan hujan masih berpotensi turun hingga sepekan ke depan.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476444/original/048735000_1768750890-Sleman.jpg)