Meski demikian, pelaku industri menilai kondisi fundamental aset digital saat ini masih relatif kuat dan berbeda dibandingkan fase koreksi tajam pada siklus sebelumnya.
Vice President Indodax Antony Kusuma menjelaskan kombinasi antara eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS pasca-nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve menjadi pemicu BTC mengalami koreksi tajam.
"Meskipun pasar saat ini berada dalam fase ketakutan yang ekstrem, fundamental industri dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan siklus serupa di tahun 2022," ujar dia dalam keterangannya dilansir Antara, Selasa, 3 Februari 2026.
Dia menyebutkan saat ini Bitcoin sering kali menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global karena sifat pasarnya yang beroperasi 24/7 (24 jam sehari selama 7 hari).
Baca juga: Harga BTC Tertekan, Outflow ETF Bitcoin Pecah Rekor di Januari
Fenomena ini, tambahnya, tercermin dari risk-off sentiment yang terjadi secara serentak, di mana instrumen hard money tradisional seperti emas dan perak juga menyusul mengalami tekanan jual yang signifikan bersamaan dengan aset digital.
Namun, dia menegaskan data on-chain Glassnode menunjukkan anomali yang menarik di mana terdapat perbedaan perilaku yang kontras antara kelas investor kripto.
"Saat investor ritel cenderung melakukan penjualan karena panik, kelompok 'Mega-Whales' atau pemegang lebih dari 1.000 Bitcoin justru terpantau melakukan akumulasi pembelian Bitcoin secara bertahap untuk menyerap pasokan pasar yang panik," ujarnya. Investor diimbau tidak impulsif sikapi kondisi pasar Menurut dia, kehadiran institusi besar seperti BlackRock dan JPMorgan yang telah terintegrasi dalam ekosistem melalui ETF dan infrastruktur perbankan memberikan bantalan yang lebih kuat terhadap risiko sistemik jangka panjang.
Oleh karena itu sebagai langkah antisipasi, Antony mengimbau para investor kripto di Indonesia untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan impulsif berdasarkan emosi sesaat. Penting bagi investor untuk mengevaluasi kembali manajemen risiko mereka.
Investor disarankan untuk tetap disiplin pada strategi investasi jangka panjang, mencermati dinamika pasar secara proporsional, serta terus membekali diri dengan riset mandiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)




