JAKARTA, KOMPAS - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (3/2/2026), dibuka melemah di level 7.888. Namun, posisi rendah ini diperkirakan tidak berlanjut karena investor mulai kembali membeli saham-saham di harga rendah, terutama saham dengan fundamental baik.
IHSG dibuka melemah tipis sekitar 0,4 persen dibanding penutupan pasar kemarin di level 7.922. Pada beberapa menit pembukaan, pergerakannya bahkan sempat menyentuh level rendah di 7.712. Bagaimana pun, jelang pukul 10.00, IHSG terlihat kembali bertenaga hingga naik tipis ke level 7.964.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, saat dihubungi Kompas, hari ini, menganalisis bahwa sepanjang hari ini IHSG kemungkinan masih mengalami pelemahan, tetapi terbatas. Dengan demikian, IHSG tidak akan terjerembap seperti kemarin sebesar 4,88 persen ke level 7.922, meski asing melakukan pembelian bersih hingga Rp 593,35 miliar.
"Hari ini, masih ada harapan mixed to higher (pergerakan naik) ke depan," kata Nafan.
Proyeksi penguatan, menurutnya, bisa terjadi karena terdapat saham-saham berfundamental bagus yang bisa para investor cermati. Menurutnya, ini menjadi momentum baik investor untuk membeli saham-saham yang memiliki prospek kenaikan harga dalam jangka waktu menengah.
Saham-saham tersebut antara lain yang bergerak di bidang tambang komoditas emas, hilirisasi, energi terbarukan, konsumsi non-siklikal, dan perbankan. Saham-saham yang terkait emas, misalnya, tidak hanya bisa mencatatkan kinerja baik dari penjualan emas yang naik karena geopolitik, tetapi juga aksi eksplorasi tambang dan hilirisasi.
Beberapa saham perbankan, khususnya anggota Himpunan Bank Milik Negara, juga masih prospektif karena dukungan likuiditas dan permodalan sehat, serta inovasi di bidang teknologi yang meningkatkan efisiensi bisnis.
Sementara itu, Analisis harian BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) pagi ini memperingatkan investor untuk mewaspadai potensi tekanan jual lanjutan. Mereka memproyeksikan IHSG bergerak terbatas dengan ambang terendah di 7.858 dan batas atas di 8.089.
"Pasar cenderung wait and see menantikan hasil komunikasi regulato, MSCI terkait transparansi pasar, serta langkah kebijakan awal dari kepemimpinan baru regulator," kata mereka.
Tekanan indeks, menurut catatan mereka, masih terpusat pada saham-saham konglomerasi seiring berlanjutnya narasi kebijakan lembaga pengindeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang ingin Indonesia membenahi tranparansi data dan tantangan fundamental kepemilikan saham.
Kecenderungan IHSG melemah juga diperkirakan datang dari data pertumbuhan ekonomi terakhir. Dalam rilis inflasi Januari, terjadi peningkatan ke 3,55 persen secara tahunan dan surplus neraca perdagangan yang berlanjut selama 68 bulan.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Senin (2/2) sore, menyampaikan, penurunan tajam pada IHSG didominasi oleh saham-saham yang harganya sudah naik terlalu tinggi dalam periode sebelumnya.
Hal ini mengindikasikan adanya aksi rebalancing atau penyesuaian portofolio oleh investor. Untuk itu, ia menghimbau para investor untuk tetap tenang dan melihat investasi dalam perspektif jangka panjang.
"Fundamental ekonomi kita sangat baik dan prospek ke depan juga masih terjaga. OJK bersama SRO (Self-Regulatory Organization) terus memastikan perdagangan berjalan teratur, wajar, dan efisien," kata Kiki.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490990/original/009942900_1770038723-IWS_3311.jpg.jpeg)


