JAKARTA, KOMPAS - Virus baru yang ditularkan dari kelelawar kembali terdeteksi menginfeksi manusia di Bangladesh. Para peneliti menemukan Pteropine orthoreovirus atau PRV pada lima pasien yang sebelumnya mengonsumsi getah pohon kurma mentah dan dicurigai terinfeksi virus Nipah.
Temuan tersebut berasal dari analisis sampel usap tenggorokan dan kultur virus yang disimpan dari pasien-pasien yang dirawat antara Desember 2022 hingga Maret 2023. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases, Desember 2025.
Kami sekarang berupaya memahami mekanisme penularan dari kelelawar ke manusia dan hewan peliharaan.
Profesor madya epidemiologi di Pusat Infeksi dan Imunitas (CII) Columbia University Mailman School of Public Health, Nischay Mishra mengemukakan, PRV perlu dipertimbangkan dalam diagnosis klinis penyakit yang menyerupai Nipah. Temuan ini pun memperluas pemahaman tentang ancaman virus yang ditularkan kelelawar.
"Temuan ini juga menggarisbawahi pentingnya program pengawasan spektrum luas untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko kesehatan masyarakat dari virus-virus baru yang ditularkan kelelawar," ujarnya seperti dikutip dari situs resmi Columbia University Mailman School of Public Health, Selasa (3/2/2026).
Kasus-kasus ini terdeteksi melalui program pengawasan virus Nipah yang dijalankan bersama oleh Institute of Epidemiology Disease Control and Research (IEDCR), International Centre for Diarrhoeal Disease Research Bangladesh, dan Centers for Disease Control and Prevention.
Kelima pasien mengalami gejala yang menyerupai infeksi virus Nipah, seperti demam, muntah, sakit kepala, kelelahan, peningkatan produksi air liur, hingga gangguan neurologis. Namun, pengujian menggunakan metode reaksi polimer berantai (PCR) dan serologi menunjukkan mereka kemungkinan negatif terinfeksi infeksi Nipah.
Untuk menelusuri penyebab penyakit tersebut, para peneliti menerapkan teknologi sekuensing lanjutan yang mampu mendeteksi berbagai virus secara simultan. Dari proses tersebut, materi genetik PRV teridentifikasi dalam sampel pasien. Pada tiga kasus, virus berhasil dikultur dan menandakan adanya infeksi aktif.
Aspek yang disoroti oleh peneliti yaitu kelima pasien mengalami kondisi yang relatif berat. Kondisi ini berbeda dengan laporan infeksi PRV di negara-negara lain di kawasan Asia, yang umumnya menunjukkan gejala ringan atau sedang.
Perbedaan tingkat keparahan ini memunculkan dugaan bahwa banyak kasus infeksi PRV di Bangladesh mungkin terjadi tanpa terdiagnosis. Hal ini terutama jika gejala yang muncul masuk dalam kategori ringan dan tidak terdeteksi oleh sistem surveilans rutin.
Seluruh pasien diketahui memiliki riwayat mengonsumsi getah pohon kurma mentah, minuman tradisional yang banyak dikonsumsi pada musim dingin di Bangladesh. Getah ini kerap terkontaminasi karena sering dihinggapi kelelawar, yang dikenal sebagai inang alami berbagai virus zoonosis.
Selama ini, konsumsi getah kurma mentah telah diidentifikasi sebagai jalur utama penularan virus Nipah. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa risiko kesehatan dari praktik tersebut tidak terbatas pada satu jenis virus saja.
Direktur Institut Epidemiologi, Pengendalian Penyakit, dan Penelitian (IEDCR) serta Pusat Influenza Nasional (NIC) di Bangladesh, Tahmina Shirin menyatakan bahwa temuan ini menambah kompleksitas ancaman zoonosis di Bangladesh. Konsumsi getah kurma mentah kini terbukti berkaitan dengan lebih dari satu patogen berbahaya yang dapat memicu gangguan pernapasan dan neurologis.
Dalam penelitian lanjutan yang belum dipublikasikan, para peneliti juga menemukan virus PRV yang secara genetik serupa pada kelelawar yang ditangkap di sekitar lokasi kasus manusia, di wilayah Cekungan Sungai Padma.
Ahli ekologi penyakit dari Charles Sturt University, Australia, Ariful Islam menyebut hasil temuan ini sebagai bukti kuat keterkaitan antara reservoir kelelawar dan infeksi pada manusia. Ia menilai pemahaman tentang mekanisme penularan menjadi kunci untuk mencegah wabah di masa depan.
"Kami sekarang berupaya memahami mekanisme penularan dari kelelawar ke manusia dan hewan peliharaan, serta ekologi yang lebih luas dari virus yang ditularkan kelelawar," katanya.
Penelitian ini memperkuat peringatan bahwa interaksi manusia dengan satwa liar, terutama melalui konsumsi pangan yang terkontaminasi, menyimpan risiko tersembunyi. Tanpa pengawasan dan mitigasi yang memadai, virus-virus yang selama ini luput dari perhatian berpotensi menjadi ancaman kesehatan publik berikutnya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490753/original/052724800_1770023372-jalan_tole_iskandar_diperbaiki.jpg)



