Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA melaporkan pertumbuhan pembiayaan hijau sepanjang 2025.
Dalam laporan kinerja per Desember 2025, bank milik Grup Djarum itu menorehkan pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance) sebesar 11,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp255 triliun, dibandingkan dengan Rp220 triliun pada periode 12 bulan tahun sebelumnya.
Dari nilai tersebut, total outstanding untuk pembiayaan hijau (green financing) menembus Rp113 triliun. Capaian ini merefleksikan pertumbuhan tahunan sebesar 14,5% dibandingkan dengan Rp99 triliun pada kurun Januari–Desember 2024.
Adapun pembiayaan untuk usaha skala kecil dan menengah yang masuk dalam sektor berkelanjutan tumbuh 9,6% YoY menjadi Rp142 triliun, dibandingkan dengan Rp130 triliun pada tahun sebelumnya.
BCA tidak memperinci secara detail sektor-sektor yang menerima pendanaan hijau sepanjang 2025. Meski demikian, pembiayaan untuk kendaraan listrik tercatat memiliki outstanding sebesar Rp3,6 triliun atau tumbuh 53,8% YoY, sementara pembiayaan untuk energi terbarukan mencapai Rp6,2 triliun dengan kapasitas 323 mega watt (MW).
Secara keseluruhan, BCA mencatat pertumbuhan kredit sebesar 7,7% YoY menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Torehan ini dicapai seiring dengan komitmen perseroan mendorong pembiayaan ke sektor riil dan konsumsi domestik.
Baca Juga
- Mengintip Tren Pasar Karbon Global 2026, Ada Celah Pertumbuhan?
- Pembiayaan Hijau China Diramal Lanjutkan Akselerasi, Tembus US$6,8 Triliun
- Nasib Emiten Energi Hijau saat IHSG Merah karena MSCI
Sepanjang 2025, rata-rata pertumbuhan kredit BCA bahkan mencapai 10,8%, dengan penyaluran tersebar ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga rumah tangga. Kredit usaha menjadi kontributor utama, tumbuh 9,9% YoY mencapai Rp756,5 triliun pada akhir 2025.
Di sisi pembiayaan konsumer, BCA membukukan outstanding sebesar Rp224,1 triliun. Penyaluran tersebut ditopang oleh kredit pemilikan rumah (KPR) yang mencapai Rp142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun.
Sementara itu, pinjaman konsumer lainnya, yang mayoritas berasal dari kartu kredit, tumbuh 9,8% YoY menjadi Rp25,2 triliun.
"Sepanjang tahun lalu, BCA menyelenggarakan berbagai acara seperti dua kali perhelatan Expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA. Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen untuk hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” kata Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam konferensi pers kinerja BCA sepanjang 2025, Selasa (27/1/2026).
BCA juga mulai mendukung penyaluran KPR subsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) bagi sektor swasta sejak Oktober 2025, sebagai bagian dari dukungan terhadap program perumahan nasional.
Dari sisi kualitas kredit, rasio loan at risk (LAR) BCA membaik menjadi 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap terjaga di level 1,7%, dengan pencadangan yang dinilai memadai.


