EtIndonesia. Saat dunia internasional tengah memusatkan perhatian pada upaya Donald Trump untuk “mengembalikan kejayaan Amerika Serikat”, kepemimpinan Tiongkok justru melontarkan langkah strategis yang mengejutkan. Dari jantung kekuasaan Zhongnanhai, sinyal konfrontasi ekonomi global kembali dilepaskan.
Pernyataan Xi Jinping yang Mengguncang Pasar Global
Pada 1 Februari, majalah corong utama Partai Komunis Tiongkok, Qiushi, menerbitkan artikel bertanda tangan langsung Xi Jinping. Dalam tulisan tersebut, Xi secara terbuka menyatakan bahwa yuan Tiongkok seharusnya menjadi mata uang cadangan global—sebuah pernyataan yang jarang dan sarat implikasi geopolitik.
Media keuangan internasional seperti Financial Times dan Bloomberg segera menafsirkan pernyataan itu sebagai deklarasi langsung tantangan Beijing terhadap dominasi dolar Amerika Serikat.
Garis Merah Trump: Ancaman Tarif dan Tekanan BRICS
Namun langkah ini dinilai berisiko tinggi. Sepanjang tahun lalu, Donald Trump berulang kali memperingatkan negara-negara BRICS bahwa setiap upaya menggoyang posisi dolar akan dibalas dengan kenaikan tarif besar-besaran. Sikap keras ini sebelumnya membuat Beijing—termasuk Xi Jinping—menahan diri dari retorika de-dolarisasi.
Fakta fundamental juga memperlemah ambisi tersebut: yuan belum dapat dikonversi secara bebas, dan di luar negara-negara yang dikenai sanksi Barat seperti Rusia dan Iran, hampir tidak ada ekonomi utama yang benar-benar berminat menjadikan yuan sebagai mata uang cadangan. Karena itu, gagasan “menggantikan dolar” selama ini kerap dianggap sekadar ambisi politis tanpa fondasi finansial yang kuat.
Mengapa Xi Berbicara Lantang Sekarang?
Pertanyaan besar pun muncul: mengapa Xi Jinping memilih momen ini untuk melontarkan pernyataan sekeras itu?
Sebagian pengamat berspekulasi bahwa kunjungan sejumlah pemimpin G7 ke Beijing telah memunculkan kembali rasa percaya diri berlebihan di kalangan elite PKT. Ada pula suara yang secara implisit menantang Washington: apakah ini saatnya Trump “memberi pelajaran” kepada Xi?
Namun di balik retorika luar negeri yang agresif, kondisi internal Partai Komunis Tiongkok justru tampak rapuh.
Guncangan Internal: Orang-orang Dekat Xi Berguguran
Komentator politik Cai Shenkun mengungkap bahwa pada 29 Januari, mantan Sekretaris Partai Provinsi Jilin, Jing Junhai, telah ditangkap.
Pengamat politik Chen Pokong menilai kasus ini sangat sensitif. Jing disebut sebagai tokoh yang memiliki kedekatan dengan keluarga Xi, bahkan pernah membangun makam raksasa untuk ayah Xi, Xi Zhongxun, dengan skala yang dikabarkan melampaui Makam Ming Xiaoling dan Sun Yat-sen.
Tak berhenti di situ, pekan sebelumnya dua pejabat tinggi lainnya juga tumbang:
- Sun Shaocheng, Sekretaris Partai Mongolia Dalam, yang berasal dari “faksi Shandong”.
- Wang Xiangxi, Menteri Manajemen Darurat, pejabat yang dipromosikan langsung oleh Xi Jinping.
Secara resmi, kementerian ini menangani bencana alam. Namun secara internal, lembaga tersebut juga bertanggung jawab atas rencana darurat elite PKT, termasuk skenario evakuasi dan pemindahan aset jika terjadi krisis rezim.
Artinya, tiga tokoh yang tumbang tersebut justru berasal dari kubu Xi sendiri.
Setelah Zhang Youxia, Mengapa Xi Tak Bisa Melindungi Kubu Sendiri?
Pertanyaan kian menguat setelah sebelumnya Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, juga dilaporkan ditangkap. Chen Pokong mengajukan dua kemungkinan utama:
- Kekuatan anti-Xi di dalam partai masih sangat besar, sehingga Xi tidak sepenuhnya mengendalikan situasi.
- Xi sengaja mengorbankan pion untuk menyelamatkan raja, merelakan orang-orang dekatnya diselidiki demi meredam kemarahan internal dan membeli waktu politik.
Bocoran Kekayaan Keluarga Xi dan Rantai Energi
Di tengah situasi genting ini, akun X “Xingaodi No.1” mempublikasikan bocoran yang langsung viral di komunitas Tionghoa luar negeri. Disebutkan bahwa Qi Qiaoqiao, kakak perempuan Xi Jinping, memonopoli impor minyak murah dari Venezuela dan Iran—dibeli sekitar 20 dolar per barel dan dijual kembali ke Sinopec seharga 40–60 dolar per barel.
Keuntungan bersih yang diklaim mencapai 400 miliar yuan per tahun. Bahkan, menurut sumber tersebut, jika seluruh jaringan bisnis keluarga Xi dihitung, total kekayaannya jauh melampaui angka itu.
Jika bocoran ini akurat, maka setiap langkah Trump memukul rantai energi PKT juga berarti langsung mengancam sumber kekayaan keluarga Xi.
Persiapan Perang? Pembersihan “Pejabat Telanjang”
Analisis terbaru dari Jamestown Foundation menambah lapisan kekhawatiran. Lembaga ini menilai bahwa pembersihan terhadap “pejabat telanjang” (pejabat yang keluarga dan asetnya berada di luar negeri) telah memasuki tahap ketiga—dari pembatasan jabatan sensitif menjadi pembersihan total.
Kini, pejabat setingkat wakil menteri ke atas dipaksa memilih: keluarga pulang ke Tiongkok, atau mengundurkan diri—tanpa kompromi.
Jamestown menilai langkah ini sebagai pola khas persiapan menjelang konflik besar, dengan pelajaran dari Rusia: sanksi Barat sangat mematikan karena keluarga dan aset elite Rusia bergantung pada Barat. Beijing tampaknya berusaha menutup celah serupa, terutama jika terjadi krisis Taiwan atau konflik besar lainnya.
Kesimpulan: Serangan ke Luar, Krisis ke Dalam
Langkah Xi Jinping kini tampak kontradiktif:
- Di dalam negeri, ia “memotong tangan dan kaki sendiri” dengan membersihkan orang-orang dekat.
- Di luar negeri, dia justru menantang garis merah Donald Trump dan dominasi dolar AS.
Apakah ini tanda hilangnya kendali, strategi bertahan hidup politik, atau sekadar suntikan moral untuk konsumsi domestik?
Tiga kemungkinan pun mengemuka:
- A. Xi Jinping benar-benar serius menantang dolar AS
- B. Xi memanfaatkan momen diplomatik untuk memperkuat blok Tiongkok–Rusia–Korea Utara
- C. Tekanan internal terlalu besar, sehingga pernyataan ini ditujukan ke dalam negeri sebagai “suntikan semangat”
Apa pun jawabannya, satu hal jelas: ketika sebuah negara raksasa menghadapi krisis internal dan eksternal secara bersamaan, dunia pun ikut berada dalam ketidakpastian besar.




