Ketegangan Meningkat di Timur Tengah! Kapal Perang AS Memasuki Laut Merah Hingga Latihan Militer Iran 

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat. Pada Minggu lalu (1 Februari), sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS berlayar memasuki Laut Merah. Pada saat yang sama, Iran sejak Minggu lalu menggelar latihan militer dengan amunisi sungguhan di kawasan strategis Selat Hormuz.

Saat ini, Angkatan Laut AS menempatkan 10 kapal perang di kawasan Timur Tengah, termasuk enam kapal perusak, satu kapal induk, dan tiga kapal tempur pesisir. Pada Minggu lalu, sebuah kapal perusak yang sebelumnya bersandar di Pelabuhan Eilat, Israel, berlayar memasuki Laut Merah.

Pihak Israel menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kerja sama militer berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Israel.

Amerika Serikat terus memperkuat pengerahan kekuatan lautnya di Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump berulang kali memperingatkan Iran bahwa jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau tidak menghentikan pembunuhan terhadap   para pengunjuk rasa, Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer.

Pada Sabtu malam (31 Januari), saat dalam perjalanan menuju Florida, Trump menolak menjelaskan kepada wartawan apakah ia telah mengambil keputusan terkait Iran.para demonstran, maka Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer.

“Artinya, tentu saja saya tidak bisa memberitahu Anda. Namun seperti yang Anda ketahui, kami memang memiliki kapal-kapal yang sangat kuat dan berskala besar yang sedang bergerak ke arah sana. Saya tidak bisa mengatakannya, Anda tahu itu. Tetapi saya berharap mereka dapat merundingkan sebuah solusi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak,” katanya. 

Pada hari yang sama, pejabat keamanan senior Iran Ali Larijani menyatakan bahwa pihaknya sedang mendorong penyusunan kerangka perundingan dengan Amerika Serikat.

Namun hingga kini, tidak ada tanda-tanda terbuka bahwa Iran dan Amerika Serikat melakukan dialog langsung. Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, juga berulang kali menutup kemungkinan tersebut.

Menghadapi mendekatnya kelompok tempur kapal induk USS Lincoln, Iran mengumumkan bahwa mulai Minggu (1 Februari), mereka menggelar latihan militer dengan peluru tajam selama dua hari di kawasan strategis Selat Hormuz.

Khamenei juga mengeluarkan peringatan keras bahwa jika Amerika Serikat melancarkan aksi militer, hal itu akan memicu “perang regional berskala penuh.”

Pada saat yang sama, Khamenei untuk pertama kalinya melabeli demonstrasi anti-pemerintah di dalam negeri sebagai “kudeta.” Langkah ini memicu kekhawatiran luas bahwa pihak berwenang akan menggunakan dalih tersebut untuk melakukan eksekusi massal terhadap puluhan ribu orang yang telah ditangkap.

Mengingat Presiden Trump sebelumnya secara tegas menyatakan bahwa “eksekusi massal” adalah garis merah yang dapat memicu aksi militer AS, langkah Iran ini dipandang sebagai uji coba berbahaya di ambang perang.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television: Yan Feng dan Wang Yanqiao


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Megawati dan Pesan untuk Indonesia di KBRI Abu Dhabi
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
MBG Tetap Berjalan Selama Ramadan di Banten, Makanan Kering
• 1 jam laludisway.id
thumb
Polres Raja Ampat Gelar Apel Operasi Keselamatan Dofior 2026
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Krisis Orang Hilang di Meksiko Bayangi Venue Piala Dunia 2026
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
Wamenkes Menghadap Prabowo, Diminta Fokus Tangani TBC
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.