Mengapa IHSG Terus Melemah?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita
Apa yang Bisa Dipelajari dari Artikel Ini?
  • Mengapa IHSG terus tertekan meski investor asing mulai masuk lagi?
  • Apakah koreksi tajam IHSG dipicu saham yang terlalu mahal?
  • Seberapa besar pengaruh sentimen global terhadap pelemahan IHSG?
  • Mengapa ketidakpastian MSCI dan transparansi pasar masih membebani IHSG?
  • Apakah data ekonomi domestik ikut menahan pemulihan IHSG?

Mengapa IHSG terus tertekan meski investor asing mulai masuk lagi?

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berlanjut hingga awal Februari 2026 terjadi meskipun data menunjukkan investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih. Pada perdagangan Senin (2/2/2026), asing membukukan net buy hingga Rp 654,9 miliar, terutama pada saham perbankan, telekomunikasi, energi, dan pertambangan. Namun, arus masuk ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan indeks secara keseluruhan.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa pergerakan IHSG tidak semata ditentukan oleh arus dana asing, tetapi juga oleh sentimen dan struktur pasar domestik. Tekanan jual justru terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mengalami kenaikan harga signifikan. Koreksi ini menekan indeks secara agregat meski ada seleksi beli pada saham-saham tertentu.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, fenomena ini sebagai bagian dari proses rebalancing portofolio. Investor menyesuaikan kembali kepemilikan asetnya setelah reli panjang pada sejumlah saham. Dengan demikian, masuknya dana asing tidak serta-merta mengangkat IHSG apabila tekanan jual pada saham-saham unggulan masih dominan.

Baca JugaIHSG Masih Merah, Bagaimana Respons Pemerintah?
Apakah koreksi tajam IHSG dipicu saham yang terlalu mahal?

Salah satu faktor utama yang menjelaskan pelemahan IHSG adalah koreksi pada saham-saham yang dinilai telah mengalami kenaikan harga berlebihan. Pelaksana Tugas Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut, penurunan tajam indeks didominasi oleh saham-saham yang sebelumnya naik terlalu tinggi dalam periode singkat.

Koreksi tersebut mencerminkan proses penyesuaian valuasi agar harga saham kembali mencerminkan fundamental perusahaan. Saham-saham konglomerasi dan emiten berbasis komoditas tertentu tercatat menjadi sumber tekanan terbesar, seiring aksi ambil untung dan penataan ulang portofolio oleh investor.

Dalam konteks ini, pelemahan IHSG bukan semata sinyal memburuknya prospek ekonomi, melainkan respons pasar terhadap distorsi harga sebelumnya. OJK menilai, langkah investor melakukan penyesuaian portofolio sebagai mekanisme pasar yang wajar dan mengimbau pelaku pasar untuk melihat pergerakan indeks dalam perspektif jangka menengah dan panjang.

Baca JugaIHSG Merosot ke Level 7.900, OJK Minta Investor Fokus ke Fundamental
Seberapa besar pengaruh sentimen global terhadap pelemahan IHSG?

Tekanan terhadap IHSG juga tidak bisa dilepaskan dari pelemahan pasar saham regional dan global. Pada periode yang sama, sejumlah indeks utama Asia, seperti Kospi Korea Selatan, indeks Hong Kong, India, Singapura, dan China, tercatat melemah signifikan. Kondisi ini mempersempit ruang penguatan IHSG di tengah arus sentimen negatif kawasan.

Selain pasar saham, volatilitas harga komoditas global turut memengaruhi persepsi risiko investor. Harga emas yang melemah dan fluktuasi pasar logam mulia, ditambah kekhawatiran terhadap valuasi saham berbasis kecerdasan buatan di pasar global, memperkuat sikap wait and see di kalangan pelaku pasar.

Di China, pelemahan pasar saham diperburuk oleh data manufaktur yang lemah, pertumbuhan penerimaan fiskal yang melambat, serta penurunan tajam penjualan mobil. Sentimen eksternal ini menjalar ke pasar domestik Indonesia, menambah tekanan pada IHSG meskipun kondisi fundamental ekonomi dalam negeri relatif terjaga.

Baca JugaIHSG Masih Melemah, Percepatan Reformasi Pasar Saham Belum Berdampak?
Mengapa ketidakpastian MSCI dan transparansi pasar masih membebani IHSG?

Narasi kebijakan dari lembaga pengindeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi salah satu faktor utama yang menekan IHSG dalam beberapa pekan terakhir. Pasar masih mencermati hasil komunikasi antara BEI, regulator, dan MSCI terkait transparansi data kepemilikan saham dan struktur pasar.

Tekanan ini terutama dirasakan pada saham-saham konglomerasi yang dinilai memiliki tantangan dalam aspek free float dan keterbukaan kepemilikan. Kekhawatiran investor global terhadap transparansi dan likuiditas membuat sebagian saham dianggap kurang investable sehingga menahan minat beli institusi besar.

Situasi tersebut mendorong regulator dan pelaku pasar mempercepat agenda reformasi struktural, termasuk rencana peningkatan ambang batas free float menjadi 15 persen. Namun, selama proses reformasi ini masih berjalan dan ketidakpastian belum sepenuhnya mereda, IHSG cenderung bergerak di bawah tekanan.

Baca JugaIHSG Anjlok dan Pejabat Mundur Serentak, Pasar Modal Akan Ditata Ulang?
Apakah data ekonomi domestik ikut menahan pemulihan IHSG?

Dari dalam negeri, sejumlah rilis data ekonomi turut memengaruhi sentimen pasar. Inflasi Januari 2026 tercatat naik ke level 3,55 persen secara tahunan, tertinggi sejak Mei 2023, dan melampaui target Bank Indonesia. Kenaikan ini dipengaruhi oleh faktor subsidi listrik tahun lalu dan kenaikan harga emas.

Selain itu, surplus neraca perdagangan masih berlanjut, tetapi nilainya menurun menjadi 2,52 miliar dolar AS akibat kenaikan impor dan ketidakstabilan pasar global. Data ini memberi sinyal bahwa kontribusi eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi mulai melambat.

Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter karena ruang penurunan suku bunga semakin terbatas. Kombinasi inflasi yang meningkat dan kehati-hatian kebijakan moneter ini membuat investor menahan diri sehingga pemulihan IHSG belum berlangsung cepat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Motif Ekonomi, Suami di Situbondo Aniaya Istri Hamil dan Bacok Warga
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Pin “ICE OUT” dipakai sejumlah selebritas di Grammy 2026
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Heboh Kabar Siswi di Kudus Meninggal karena MBG, SPPG Pastikan Hoaks
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Yusuf Hamka Dukung RI Gabung Board of Peace: Kita Percaya Prabowo
• 1 jam laludetik.com
thumb
Insiden Kapal Miring di Tanjung Perak, 1 Pekerja Tidak Bernyawa di Dekat Lokasi
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.