Bisnis.com, JAKARTA — Penyaluran pinjaman fintech P2P lending pada Ramadan 2026 diperkirakan tetap tumbuh seperti periode bulan puasa dua tahun ke belakang. Namun, pertumbuhan pinjaman secara bulanan pada Ramadan tahun ini diperkirakan melambat.
Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi berpandangan bahwa pertumbuhan bisnis pinjaman online (pinjol) itu akan lebih moderat dibandingkan tahun-tahun tertentu.
“Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, pola konsumsi musiman, dan likuiditas industri, diperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 3%—7% [month to month/MtM], bergantung pada segmentasi pembiayaan dan permintaan masyarakat,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, secara historis penyaluran dana pinjaman daring (pindar) pada periode Ramadan, cenderung didominasi oleh pembiayaan konsumtif, terutama untuk kebutuhan hari raya, belanja rumah tangga, dan kebutuhan keagamaan.
Namun, lanjutnya, porsi pembiayaan untuk produktif juga tetap ada. Khususnya bagi UMKM yang memanfaatkan momentum peningkatan aktivitas ekonomi untuk dijual saat Ramadan menjelang Idul Fitri atau lebaran saat banyak orang yang mudik.
Oleh karena itu, dia mengingatkan bahwa lonjakan permintaan yang cepat berpotensi menciptakan moral hazard dan keterbatasan likuiditas.
Baca Juga
- OJK Tuntaskan Penyidikan Pinjol Crowde, Tersangka Terancam Penjara 15 Tahun
- Bukan Ancaman, Pinjol Justru Bisa Picu Pertumbuhan Jasa Keuangan di Desa
- OJK: Pengaduan Pinjol dan Investasi Ilegal Terbanyak Datang dari Jawa Barat
“Untuk menghadapinya, perusahaan harus memperkuat perencanaan likuiditas, meningkatkan selektivitas penyaluran, serta memanfaatkan data alternatif dan teknologi untuk penilaian risiko yang lebih akurat,” sebut Heru.
Dia mengimbau agar perusahaan pindar memperketat asesmen kredit atau credit scoring, meningkatkan pemantauan dini, memperbaiki manajemen portofolio, serta melakukan penagihan yang proaktif namun persuasif.
Kemudian, diversifikasi portofolio dan penguatan manajemen risiko juga krusial untuk menjaga tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) tetap terkendali. Kemudian, manajemen risiko yang prudent dan mitigasi berbasis data sangat penting dilakukan.
“Karena potensi peningkatan risiko kredit tetap ada, mengingat daya beli yang beragam. Risiko ini perlu diantisipasi terutama adalah keterlambatan pembayaran dari segmen konsumtif dan tekanan arus kas pada UMKM, dan posisi krisis ekonomi global dan nasional,” jelas Heru.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan biasanya pada periode Ramadan, penyaluran pendanaan pindar cenderung menunjukkan peningkatan.
“Secara historis, pada periode Ramadan tahun 2024 [Maret 2024], penyaluran pendanaan tumbuh 8,90% [MtM], sementara periode Ramadan tahun 2025 [Maret 2025] penyaluran pendanaan meningkat 3,80% [MtM],” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, PMV, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban RDK Desember 2025, dikutip pada Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, tren tersebut menunjukkan bahwa Ramadan dapat menjadi salah satu momentum meningkatnya kebutuhan pembiayaan masyarakat.
Agusman turut mengatakan penyaluran pendanaan pindar saat ini masih didominasi pendanaan konsumtif. Pada November 2025, outstanding pendanaan konsumtif mencapai Rp63,63 triliun dengan porsi 67,09% dari total outstanding industri Pindar.
“Dengan demikian, sektor produktif mencakup 32,91% dari total outstanding industri pindar,” tuturnya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481729/original/081739900_1769144170-daan4.jpg)