EtIndonesia. Daya hidup sejati tidak tercermin dari penampilan luar. Seseorang mungkin tampak biasa saja, namun belas kasih yang tersembunyi di dalam dirinya dapat secara halus mengubah lingkungan sekitar, bahkan arah hidupnya sendiri.
Saya bertemu Xiao Zhen secara tak sengaja di sebuah pasar. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menjadi sahabat lintas usia. Kepolosan dan ketulusannya sungguh menyentuh hati.
Sebagai anak sulung dari keluarga petani miskin, Xiao Zhen terpaksa putus sekolah sejak kecil. Dia bekerja sebagai buruh kasar, lalu pada malam hari belajar di sekolah kejuruan hingga menguasai satu keterampilan. Setelah itu, dia berhasil bekerja di sebuah instansi pemerintah.
Kehidupannya perlahan membaik. Dia mampu membeli rumah sendiri— namun justru rumah itu mengundang iri dan ketamakan kerabat.
Meski hidupnya penuh liku, Xiao Zhen selalu bersyukur atas perlindungan Tuhan yang dia yakini hadir secara diam-diam dalam hidupnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Xiao Zhen menceritakan pemderitaan hidup kedua orangtuanya sepanjang usia mereka, serta berbagai rintangan yang dia hadapi dalam perjuangan hidupnya sendiri.
Dia selalu memikirkan keluarganya dan siap mengulurkan tangan kapan pun dibutuhkan. Terhadap mereka yang lemah dan kekurangan, dia juga membantu sebisanya.
Tubuh Xiao Zhen lemah dan sering sakit-sakitan, namun justru dialah yang kerap mengingatkan orang lain tentang cara menjaga kesehatan diri.
Meski pendidikannya terbatas, Xiao Zhen sangat mencintai sastra.
Saat membaca The Epoch Times, dia memuji tampilan halamannya yang indah, tidak berbau tinta menyengat, dan isinya kaya serta beragam.
Ketika membaca kisah Li Bai di rubrik sastra, dia begitu gembira. Tanpa ragu, dia langsung memutuskan untuk berlangganan.
Mendengar saran saya, Xiao Zhen kini mulai mencoba menuliskan kisah-kisah yang selama ini dia ceritakan, kata demi kata, kalimat demi kalimat.
Saat menonton pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang mendunia, Xiao Zhen memuji tanpa henti, benar-benar terpesona.
Dia tertarik pada sebuah produk Shen Yun yang harganya jauh di atas anggarannya. Tak disangka, petugas toko memberi tahu bahwa barang itu sedang dijual dengan harga diskon.
Xiao Zhen pun berseri-seri penuh sukacita. Baginya, itu pertanda bahwa orang berhati baik selalu mendapat keberkahan— seolah langit benar-benar memberinya anugerah.
Kehidupan yang terus dipenuhi gelombang ujian adalah cara semesta menguji ketangguhan sebuah jiwa.
Melalui cobaan demi cobaan, kehidupan seseorang dapat terus dimurnikan, diangkat, dan ditempa hingga bersinar.
Hasil tempaan itulah yang mampu berdiri kokoh dalam semesta, sementara kemewahan dan kejayaan duniawi pada akhirnya akan sirna.
Xiao Zhen menghadapi tantangan hidup dengan keberanian dan ketulusan, menjalani hidup dengan penuh daya hidup.
Dan itulah— berkah terbesar dalam perjalanan hidup seorang manusia.(jhn/yn)




