RI Kebut Free Float Saham 15%, Intip Porsi Saham Beredar di Emerging Market Lain

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Pendalaman pasar menjadi agenda utama pasar saham di seluruh dunia. Mekanismenya dapat ditempuh salah satunya dengan peningkatan ketentuan batas free float, alias persentase jumlah saham beredar di publik. 

Di Indonesia sendiri, otoritas bursa berencana meningkatkan ketentuan free float perusahaan tercatat yang ditargetkan berlaku mulai Maret 2026. Dengan membandingkan ketentuan di bursa efek negara-negara kelas emerging market MSCI, free float saham Indonesia ternyata masih kalah dibanding Thailand, Brazil bahkan Malaysia.

Saat ini, terdapat 24 negara yang masuk dalam kategori emerging market di dalam indeks MSCI. Mereka adalah Brazil, Chile, China, Kolombia, Republik Ceko, Mesir, Yunani, Hungaria, India, Indonesia, Korea, Kuwait, Malaysia, Mexico, Peru, Filipina, Polandia, Qatar, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Taiwan, Thailand, Turki, dan Uni Emrates Arab (UEA).

Adapun, batas free float yang berlaku di bursa saham Indonesia saat ini sebesar 7,5%. Rencananya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melakukan penyesuaian menjadi 15% mulai Maret 2026.

Baca Juga : Aturan Free Float 15% Segera Berlaku, OJK & BEI Sosialisasi ke Pelaku Pasar

Melansir dari berbagai informasi publik yang dilansir di laman resmi bursa efek masing-masing negara, bursa Thailand (Stock Exchange of Thailand/SET) menetapkan kewajiban free float perusahaan tercatat sebesar 15%.

Sementara di Uni Emirat Arab (Abu Dhabi Securities Exchange/ADX), persentase free float perusahaan tercatat tidak boleh kurang dari 20%.

Berikutnya, di National Stock Exchange of India (NSE), mengatur perusahaan tercatat wajib memiliki free float minimum 25%. Sesuai ketentuan Securities and Exchange Board of India (SEBI), jika porsi kepemilikan publik turun di bawah 25% maka perusahaan harus mengembalikan porsi publik menjadi 25% dalam waktu maksimal 3 bulan. Jika gagal, perusahaan tercatat dapat dikenakan tindakan penegakan hukum termasuk delisting.

Sementara di bursa China, Shanghai Stock Exchange (SSE) dan Shenzhen Stock Exchange (SZSE), perusahaan tercatat wajib memiliki saham free float minimal 25%, atau minimal 10% dengan syarat modal perusahaan lebih besar dari RMB400 juta.

Berikutnya di bursa Brasil, Bolsa, Balcão (B3) Exchange, kewajiban free float perusahaan tercatat minimal 20%, atau dapat 15% dengan syarat nilai average daily trading volume minimal sebesar R$20 juta dalam 12 bulan terakhir.

Menilik negara tetangga yang juga sama-sama ada di kelas emerging market index MSCI, Philipine Stock Exchange (PSE) menetapkan kewajiban free float 10%. Bahkan, kewajiban free float di Bursa Malaysia (BM) sebesar 25%.

Sebagai informasi, MSCI pada 27 Januari 2026 mengumumkan hasil konsultasi penilaian saham-saham Indonesia. Hasilnya adalah rebalancing indeks saham Indonesia periode Maret 2026 dibekukan, ditambah permohonan perbaikan transparansi data sampai Mei 2026. Bila itu tak bisa dipenuhi, indeks saham Indonesia di MSCI akan turun kasta ke kelas Frontier Market.

Baca Juga : OJK Beberkan Hasil Pertemuan dengan MSCI, Bahas Transparansi UBO hingga Free Float 15%

Kelas negara yang paling buncit tersebut diisi oleh Bahrain, Bangladesh, Benin, Burkina Faso, Croatia, Estonia, Guinea-Bissau, Iceland, Ivory Coast, Jordan, Kazakhstan, Kenya, Latvia, Lithuania, Mauritius, Morocco, Mali, Niger, Oman, Pakistan, Romania, Senegal, Serbia, Slovenia, Sri Lanka, Togo, Tunisia, dan Vietnam.

Sementara di kelas yang lebih tinggi dari emerging market, ada development markets yang beranggotakan negara Asia di antaranya seperti Singapura dan Hong Kong. Kewajiban free float di Hong Kong Exchange and Clearing Limited (HKEX) sebesar 25%, sementara di Singapore Exchange (SGX) sebesar 10%.

Plt Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon kepada Hasan Fawzi mengatakan peningkatan kewajiban free float perusahaan tercatat menjadi standar internasional semua bursa efek di seluruh dunia.

"Termasuk Bursa Efek Indonesia tentu ingin menghadirkan attractiveness atau kemenarikan bursanya dengan menunjukkan adanya kecukupan, ketersediaan saham yang dapat dimiliki publik melalui pemberlakuan ketentuan peningkatan besaran porsi saham free float," ujar Hasan di Kantor BEI, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Obati Rindu Penggemar Asia Tenggara, Papa Roach Hadir di Malaysia dan Singapura, Ini Yuk Beauty Jadwal dan Harga Tiketnya!
• 8 jam laluherstory.co.id
thumb
Dipolisikan Hingga 5 Kali Buntut Mens Rea, Pandji Pragiwaksono Singgung Sikap Gibran
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Kopda Witoyo Hasilkan Cuan dari Budidaya Kelengkeng
• 37 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Penulis Skenario Film Nominasi Oscar Ditangkap di Iran, Jafar Panahi Ungkap Kekhawatiran
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Pemprov Jateng akan Fasilitasi Nobar Piala Dunia 2026
• 9 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.