Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (3/2/2026), di hadapan dolar AS yang melemah imbas tekanan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Melansir Bloomberg, rupiah terapresiasi 0,26% atau 44 poin ke Rp16.754. Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,24% ke 97,39.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan ada sejumlah sentimen yang menyertai gerak rupiah di pasar uang. Dari global, pasar bereaksi atas konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang semakin panas.
Sementara di sektor perdagangan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan India bahwa AS akan memangkas tarif impor barang-barang India dari 50% menjadi 18%. Kebijakan itu dilakukan Trump sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India. Di sektor moneter, pasar juga menyoroti Donald Trump yang menominasikan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya.
"Warsh sebagian besar mendukung tuntutan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah. Tetapi ia juga mengkritik aktivitas pembelian aset Fed dan menyerukan neraca yang lebih kecil. Ini dapat membuat kebijakan moneter tetap relatif ketat dalam beberapa tahun mendatang," kata Ibrahim, Selasa (3/2/2026).
Sementara sentimen dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pasar menyoroti sejumlah rilis data ekonomi. Dia menjabarkan, S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026. Angka tersebut naik dari level 51,2 pada Desember 2025.
Sejalan dengan PMI Indonesia yang naik, terdapat pertumbuhan permintaan pasar atas barang. Kondisi permintaan itu didorong oleh perekonomian domestik, sedangkan di saat yang sama permintaan internasional menurun selama lima bulan terakhir.
Ibrahim menjabarkan, S&P dalam surveinya juga mencatat kenaikan kebutuhan produksi dan kondisi permintaan mendorong perusahaan untuk menaikkan pembelian input selama enam bulan berturut-turut. Perusahaan juga melaporkan upaya menaikkan inventaris pra dan pasca produksi untuk mempersiapkan kenaikan produksi di tengah permintaan yang terus naik.
Atas sejumlah sentimen yang ada tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan melemah pada perdagangan esok hari, Rabu (4/2/2026).
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.750 sampai Rp16.780," tandasnya.



