Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (2/2/2026) dengan koreksi 4,88% ke 7.992. Meski IHSG masih tertekan, neraca transaksi investor asing sudah positif dengan net buy sebesar Rp654,83 miliar. Di tengah volatilitas pasar saat ini, sejumlah saham masuk radar rekomendasi analis.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan ketika IHSG anjlok, terdapat saham-saham blue chip seperti saham emiten perbankan dan konsumsi telah terdiskon cukup besar.
Di momen seperti ini, menurutnya, waktu yang tepat untuk masuk adalah melihat hasil pertemuan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan MSCI. Jika hasilnya netral atau positif, investor bisa mulai mencicil atau buy on weakness.
"Utamakan saham yang memiliki bantalan kinerja kuat seperti sektor unggas JPFA dan CPIN, serta sektor konsumsi ICBP dan CMRY yang didorong oleh katalis program makan bergizi gratis pemerintah," ujarnya pada Bisnis, Senin (2/2/2026).
Adapun, hasil pertemuan BEI-OJK dengan MSCI pada Senin (2/2/2026) sore adalah otoritas bursa Indonesia menyanggupi untuk melakukan perbaikan transparansi data berupa merinci data jenis investor dari yang semula berjumlah 9 kategori menjadi 27 subkategori, hingga membuka data investor sampai tingkat kepemilikan 1%.
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan strategi buy on weakness umumnya lebih optimal dilakukan ketika pasar mulai menunjukkan tanda stabilisasi teknikal dan tekanan jual mereda. Strategi tersebut untuk meminimalisir risiko penurunan lanjutan.
"Dalam kondisi volatil saat ini, saham bluechip berfundamental kuat dan likuid, khususnya di sektor perbankan besar, konsumsi defensif, dan utilitas, cenderung dinilai menarik untuk akumulasi bertahap dengan tetap memperhatikan manajemen risiko," ujar Abida.
Setali tiga uang, Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menyarankan kepada investor agar dalam situasi pasar sekarang fokus ke saham yang likuid dan berfundamental kuat, sambil tetap disiplin risk management dengan porsi akumulasi bertahap. Dia menyarankan untuk tidak melakukan pembelian secara agresif.
Dalam kondisi seperti ini, Ekky mencatat rebound pasar biasanya memang lebih dulu ditopang blue chip yang valuasinya sudah murah, baru setelah itu market menyebar ke saham lain.
"Soal strategi buy on weakness, menurut saya yang paling aman bukan menebak titik terendah, tapi masuk bertahap saat pasar mulai lebih stabil, yaitu pergerakan harian sudah tidak ekstrem, tekanan jual mulai berkurang, dan mulai terlihat rotasi kembali ke saham-saham besar," tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



