Lion Parcel bidik perluasan jaringan logistik internasional dengan membuka hub di negara-negara tujuan penerbangan maskapai dalam Lion Group, menyusul pengoperasian hub perdana di Malaysia yang saat ini masih dalam tahap penyempurnaan operasional.
Chief Marketing Officer Lion Parcel, Kenny Kwanto, mengatakan proses pendirian hub di luar negeri sejatinya tidak mudah karena perbedaan budaya dan tantangan operasional di masing-masing negara.
“Kalau kota (di luar negeri) selanjutnya kami sendiri punya visi seharusnya ketika ada penerbangannya Lion Air Group ke negara tersebut, kami inginnya punya hub di sana. Tapi ya set up di negara lain tuh tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan,” ucap Kenny dalam Media Luncheon Lion Parcel di Amanaia, Jakarta Pusat, Selasa (3/2).
Saat ini, fokus utama layanan pengiriman lintas negara Lion Parcel masih dari Indonesia ke Malaysia. Kenny mengatakan, segmen pasar terbesar berasal dari tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.
“Jadi banyak sekali (TKI) yang memang mengirimkannya tuh paketnya gado-gado, di dalamnya ada baju, ada kering tempe, ada tolak angin,” kata Kenny.
Kemudian, arus pengiriman dari Malaysia ke Indonesia dinilai juga masih dalam tahap eksplorasi. Kebutuhan yang ada saat ini didominasi oleh layanan jasa titip (jastip), terutama untuk produk makanan bermerek yang populer di Malaysia serta sejumlah produk kesehatan. “Jadi (barang yang biasa dikirim) masih seputar itu,” sebut Kenny.
Di sisi lain, Chief Experience Officer Lion Parcel, Budi Santoso, mengungkapkan perusahaan akan memfokuskan strategi pada peningkatan reliability layanan pada 2026. Menurutnya, Lion Parcel telah mampu bersaing dari sisi kecepatan berkat dukungan maskapai penerbangan, serta memiliki jangkauan layanan hingga 98 persen wilayah.
“Nah, harapannya memang nanti ketika peak season, di Ramadan, layanan-layanannya bisa lebih terjaga lagi,” kata Budi dalam kesempatan yang sama.
Dari sisi operasional, Budi menyatakan persiapan dilakukan melalui penguatan hub di seluruh Indonesia yang telah dirancang sejak jauh hari untuk menghadapi lonjakan permintaan. Selain itu, perusahaan juga menyiapkan armada pengiriman, baik untuk last mile delivery maupun pengiriman antarhub, yang dilengkapi dengan sistem pelacakan.
“Kemudian juga dari SDM, otomatis juga akan kita tambah ya. Untuk fokus di customer experience, otomatis kita lakukan terus continuous improvement, bagaimana cara customer service kita untuk respons dari keluhan-keluhan pelanggan,” jelas Budi.
Kemudian di sisi sistem, perusahaan juga terus menambah kapasitas bandwidth dan sistem pendukung guna menghadapi lonjakan volume pengiriman pada peak season 2026.




